Idul Fitri Dan Kemanusiaan

Apa yang kita perangi dengan puasa? Kata ahli agama, puasa adalah peperangan melawan hawa nafsu: keserakahan, egoisme, dan eksploitatif. Keserakahan tergambar pada nafsu akumulasi tanpa batas. Sedangkan egoisme tercermin pada sikap anti sosial dan menganggap rendah sesama manusia. Sementara eksploitasi terlihat dari kecenderungan menghalalkan segala cara, termasuk menghisap sesama, demi kepuasan pribadi.

Keserakahan memang menjadi persoalan umat manusia. Gara-gara keserakahan itu, nasib milyaran orang di bumi dipertaruhkan dalam krisis ekonomi global. Gara-gara nafsu serakah itu, segelintir manusia dari suatu bangsa menciptakan senjata untuk memulai perampasan kekayaan manusia dari bangsa lain. Keserakahan pula yang membuat kehidupan milyaran pekerja di dunia tak pernah mendapatkan imbalan sesuai keringatnya.

Semangat kemanusiaan, yaitu kerjasama dan tolong-menolong, semakin tertumpas oleh menyeruaknya individualisme dan nafsu akumulasi itu. Kita bisa melihat, hampir tak ada lagi pekerjaan yang dilakukan atas nama tolong-menolong. Yang terjadi, berbagai bentuk pekerjaan sudah diperantarai oleh uang.

Manusia diperbudak oleh nafsu konsumsi. Merek dagang bahkan menyusup pada peralatan-peralatan ibadah. Padahal, hampir sekujur badan kita sudah dipenuhi oleh merek dagang: pakaian, sepatu, sendal, topi, ikat pinggang, kacamata, warna rambut, celana dalam, pakaian dalam, dan lain-lain. Kita bahkan rela berkonsumsi di luar batas kemampuan kita.

Lantas, tibalah perintah berpusa. Kita dipaksa mengurangi konsumsi di siang hari. Dan, kalaupun berbuka puasa, kita diminta menyisakan sepertiga ruang di perut kita untuk udara. Jangan terlalu kenyang. Namun, kata para ahli agama, makna puasa lebih luas dari sekedar menahan lapar dan haus. Artinya, puasa mestinya bisa menahan nafsu konsumtif yang lebih besar: belanja.

Puasa mestinya menyadarkan kita akan arti kemanusiaan. Manusia tidak bisa menjadi manusia tanpa hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, segala bentuk perbuatan yang merendahkan manusia lain, seperti eksploitasi dan egoisme, mesti disingkirkan jauh-jauh. Dengan demikian, puasa mestinya memanusiakan manusia.

Dan di penghujung bulan Ramadhan, kita bertemu dengan kewajiban mengeluarkan “zakat”. Zakat bukan hanya soal redistribusi kekayaan. Akan tetapi, lebih penting dari itu, zakat merupakan bentuk ekonomi tolong-menolong. Zakat merupakan alat untuk mengendalikan keserakahan.

Dengan demikian, dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan, Idul Fitri adalah kembali pada keaslian atau keotentikan manusia: tolong-menolong, kerjasama, sederhana, dan penyayang. Idul Fitri mengembalikan manusia pada harkat dan martabatnya.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Idul Fitri mestinya menyadarkan manusia akan esensi dan tugas-tugas kemanusiaan. Proklamasi  kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang dikumandangkan di bulan Ramadhan, adalah salah satu bentuk tugas kemanusiaan yang berhasil diemban manusia Indonesia kala itu.

Sekarang ini bangsa kita berhadapan dengan neokolonialisme. Jelas, neokolonialisme sangat merendahkan martabat manusia. Sebab, sistim terkutuk itu mengesahkan eksploitasi dan penghisapan terhadap manusia dari bangsa tertentu. Tidak hanya merampas kekayaan suatu bangsa, neokolonialisme memelihara kebodohan dan kebohongan di kalangan rakyat suatu bangsa guna melanggengkan praktek kolonialistiknya.

Kita juga menghadapi persoalan korupsi. Ini adalah salah satu bentuk keserakahan yang kian merajai negeri ini. Sama dengan kolonialisme, korupsi juga merendahkan martabat kemanusiaan. Ada banyak orang yang terampas hak-haknya lantaran nafsu serakah segelintir orang (koruptor). Bayangkan, seorang koruptor tega mencoleng uang yang mestinya diperuntukkan untuk pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih, pembangunan infrastruktur dan layanan dasar rakyat lainnya.

Semoga peringatan Proklamasi Kemerdekaan dan Hari Raya Idul Fitri bisa menjadi ruang bagi kita untuk merefleksikan tugas-tugas kemanusiaan dan kebangsaa kita. Amien!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut