Hugo Chavez Dan Rakyat Miskin AS

Kematian Presiden Venezuela, Hugo Chavez, mendapat respon beragam di Amerika Serikat (AS). Presiden Barack Obama, yang mewakili kepentingan elit AS, tidak bisa menyembunyikan rasa suka citanya atas meninggalnya Hugo Chavez. “Ini menandai babak baru dalam sejarah negeri itu (Venezuela),” kata Obama.

Namun, tidak demikian dengan rakyat miskin AS. Di Bronx, New York, salah satu kawasan termiskin di AS, rakyat berduka begitu mendengar kabar meninggalnya Presiden Chavez. “Chavez adalah pemimpin yang memahami kebutuhan rakyat miskin. Ia berkomitmen memberdayakan yang tak berdaya. RIP Presiden Chavez,” kata Jose Serrano, anggota Kongres dari yang mewakili New York.

Rakyat di Bronx punya kesan mendalam terhadap Chavez. Pada tahun 2005, ketika berkunjung ke AS, Chavez menyempatkan waktu mengunjungi tempat ini. Chavez datang tanpa pengawalan yang ketat. Ia bahkan berdiskusi langsung dengan komunitas masyarakat di sana.

Bronx memang banyak dihuni kaum imigran dari berbagai negara, termasuk dari Amerika Latin. “Bush dan Obama tidak pernah berkunjung ke South Bronx,” kata Gonzalo “G1” Venegas, salah satu anggota grup Hip-Hop dari Bronx, Rebel Diaz.

Dua bulan setelah kunjungan Chavez, minyak pemanas gratis sumbangan pemerintah Venezuela pun tiba di komunitas itu. Chavez juga membiayai pendirian komunitas seni RDACBX, yang menjadi ajang untuk melatih dan mendidik kaum muda di Bronx.

Memang, setelah kunjungan Chavez ke Bronx, pemerintah Venezuela meluncurkan bantuan minyak murah ke rakyat miskin AS. Melalui Citgo Petroleum, anak perusahaan minyak Venezuela di Amerika, pemerintahan Chavez menawarkan minyak pemanas dengan potongan harga hingga 40 persen. Bahkan, di kawasan paling miskin, minyak pemanas itu dibagikan secara gratis.

Menurut Digital Journal, CITGO bekerjasama dengan organisasi nirlba Citizens Energy—yang didirikan oleh Joseph Kennedy II—telah mengirimkan 227 juta galon minyak ke rumah tangga miskin di AS—setara dengan 465 juta US Dollar. Lebih dari 2 juta orang telah merasakan manfaat program itu. Program ini juga menolong 252 komunitas masyarakat asli dan 245 rumah penampungan tunawisma di AS.

“Presiden Chavez sangat peduli dengan rakyat miskin Venezuela dan rakyat miskin di berbagai belahan dunia,” kata jubir Citizen Energy, Joseph Kennedy II. “Sementara banyak orang kaya dengan kelebihan uang di dunia ini tidak bisa melakukannya,” tambahnya.

Joseph Kennedy II, keponakan dari mantan Presiden AS John F Kennedy, mendirikan organisasi non-profit Citizen Energy pada tahun 1979. Organisais ini berkomitmen membantu rumah tangga miskin mendapatkan minyak pemanas dengan harga terjangkau pasca krisis energi 1970-an.

Namun, program Chavez ini berjalan bukan tanpa rintangan. Banyak yang menuding uluran tangan Chavez itu bermotif politik. Ada juga yang menuduh Chavez menggunakan minyak untuk menyebarkan ideologinya. Namun, bagi warga miskin AS, propaganda negatif itu tidak mempan.

“Bagaimana anda bisa mengeritik seseorang yang membantu rakyat? Apakah ada orang yang mengeritik bantuannya. Saya tidak melihat Presiden Chavez seorang diktator. Saya melihat dia seorang manusia,” kata Sofie Holland, warga Washington DC yang turut menerima program ini.

Venezuela di bawah Chavez memang sangat berubah. Ketika Venezuela masih di bawah rezim neoliberal, kekayaan minyak dan gasnya mengalir ke luar negeri melalui korporasi asing. Namun, begitu Chavez berkuasa, kekayaan minyak digunakan untuk membantu kaum miskin.

Menariknya, Chavez tak hanya menggunakan minyak negerinya untuk rakyatnya. Ia juga menggunakan minyak itu untuk membantu kaum miskin di negara lain. “Minyak kami untuk membantu kaum miskin,” kata Chavez.

Uluran Chavez untuk rakyat Venezuela bukan melalui minyak saja. Ketika New Orleans, salah satu kota di AS, dihantam badai Katrina, Chavez mengirim makanan dan air. Tak hanya itu, pemerintahan Chavez juga mengirim ribuan tentara, pemadam kebakaran, dan sukarelawan untuk membantu rakyat di sana.

Tak heran, banyak warga AS bersimpati pada Chavez. Bahkan, mantan Presiden AS Jimmy Carter, yang pernah ke Venezuela untuk mengawasi pemilu di sana, memberikan penghargaan kepada Chavez. “Kami datang untuk mengetahui seseorang yang memperlihatkan visinya membawa perubahan besar bagi negerinya dan membawa keuntungan kepada rakyat yang selama ini diabaikan dan terpinggirkan,” ujar Jimmy Carter.

Jimmy Carter memuji keberhasilan Chavez mengurangi hingga separuh kemiskinan di Venezuela. “Fokusnya kepada isu-isu yang dihadapi kaum miskin dan hak-haknya terabaikan membuat ia (Chavez) benar-benar pemimpin revolusioner dalam sejarah Amerika Latin,” tambahnya.

Aktor kawakan AS Sean Penn pun turut mengakui warisan Chavez terhadap rakyat AS. “Hari ini rakyat Amerika Serikat kehilangan seorang teman yang tidak pernah mereka ketahui. Dan orang-orang miskin di seluruh dunia kehilangan seorang pembebasnya,” kata Sean Penn.

Selamat jalan Comandante Chavez. Warisan perjuanganmu akan terus hidup di berbagai belahan dunia.

Raymond Samuel, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • ryurik

    boleh tau sumber pustaka dari artikel diatas?