Ho Chi Minh: Menyelaraskan Ideologi Dengan Budaya, Bukan Mencabut Akar Bangsa

Banyak pemimpin revolusi gagal karena terlalu sibuk mengimpor ideologi hingga melupakan jati diri bangsanya. Ho Chi Minh memilih jalan yang berbeda. Ia memang mengadopsi Marxisme-Leninisme sebagai kerangka perjuangan politik, tetapi ia tidak membiarkan ideologi itu mencabut akar budaya Vietnam yang telah tumbuh selama ribuan tahun. Baginya, ideologi adalah alat perjuangan, sedangkan budaya adalah jiwa bangsa. Tanpa jiwa, sebuah bangsa hanya akan menjadi peniru, bukan pelaku sejarah.

Kekaguman Ho Chi Minh kepada Vladimir Lenin lahir bukan karena keinginannya menjadikan Vietnam sebagai salinan Uni Soviet, melainkan karena ia menemukan dalam pemikiran Lenin sebuah pembelaan yang tegas terhadap bangsa-bangsa terjajah. Pada tahun 1920, ketika membaca tulisan Lenin tentang persoalan nasional dan kolonial, Ho Chi Minh merasa untuk pertama kalinya ada seorang pemimpin Eropa yang secara terbuka mengakui hak bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk menentukan nasibnya sendiri. Setelah usulannya mengenai kemerdekaan Vietnam diabaikan dalam Konferensi Perdamaian Paris, ia semakin yakin bahwa kolonialisme tidak akan berakhir hanya dengan permohonan. Dari Lenin, ia memperoleh strategi perjuangan yang terorganisasi. Namun, bagi Ho Chi Minh, kemerdekaan nasional tetap menjadi tujuan utama, sedangkan sosialisme dipandang sebagai sarana untuk membangun negara yang merdeka, mandiri, dan sejahtera.

Karena itu, Ho Chi Minh tidak pernah berusaha menghapus tradisi leluhur, budaya keluarga, penghormatan kepada orang tua, semangat gotong royong, maupun nilai-nilai yang telah hidup dalam masyarakat Vietnam selama berabad-abad. Sebaliknya, ia menjadikan seluruh warisan budaya tersebut sebagai energi pemersatu bangsa. Ia memahami bahwa revolusi yang memutus hubungan dengan budaya bangsanya hanya akan melahirkan keterasingan, bukan kebangkitan.

Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia. Di tengah derasnya arus globalisasi, liberalisme, dan berbagai ideologi yang datang silih berganti, bangsa Indonesia justru dituntut untuk kembali kepada akar jati dirinya, yaitu Pancasila dan nilai-nilai luhur budaya Nusantara. Gotong royong, musyawarah, persatuan, toleransi, penghormatan kepada keberagaman, serta keadilan sosial bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi yang harus menjadi arah setiap kebijakan pembangunan nasional.

Kemajuan tidak pernah menuntut sebuah bangsa meninggalkan identitasnya. Justru bangsa yang mengenal akarnya akan lebih kokoh menghadapi perubahan zaman. Sebagaimana Ho Chi Minh menyelaraskan ideologi dengan karakter dan budaya Vietnam, Indonesia pun perlu memastikan bahwa setiap gagasan baru, setiap kebijakan, dan setiap langkah pembangunan tetap berpijak pada kepribadian bangsanya sendiri. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga kompas moral yang menjaga Indonesia agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan dunia.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang meniru bangsa lain, melainkan bangsa yang mampu menyerap gagasan terbaik dari dunia tanpa kehilangan jati dirinya. Ideologi dapat menjadi instrumen perubahan, tetapi budaya dan Pancasila adalah akar yang menjaga Indonesia tetap tegak. Ketika akar itu dirawat, kemajuan tidak akan menghilangkan identitas bangsa, melainkan menguatkannya.

Budi Prasetyo Hadi, Penulis Merupakan Tenaga Ahli Menteri Sosial.

[post-views]