Bung Hatta Dan Liga Anti Imperialisme

Tanggal 10 Februari 1927, 157 orang dari 37 negara sudah berkumpul di Brussel, Belgia. Mayoritas delegasi itu berasal dari negara-negara yang masih terjajah. Pertemuan itu menghasilkan organisasi internasional bernama “Liga Anti Imperialisme dan Penindasan Nasional”.

Indonesia sendiri diwakili dua organisasi: Perhimpunan Indonesia dan Sarekat Rakyat/Partai Komunis Indonesia: PI sendiri mengirim 5 orang delegasi: Bung Hatta, Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Gatot Tarumihardjo, dan Abdul Manaf. Sedangkan Sarekat Rakyat/PKI hanya mengirimkan Semaun.

Peran Indonesia cukup penting di pertemuan penting itu. Dua orang Indonesia, Bung Hatta dan Semaun, dimasukkan dalam posisi Presidium. “Banyak delegasi negara lain tidak punya perwakilan di Presidium,” kenang Bung Hatta dalam buku otobiografinya, Untuk Negeriku.

Pertemuan itu menghasilkan keputusan penting bagi perjuangan anti kolonialisme di Indonesia. Pertama, Kongres setuju mendukung penuh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan siap membantu perjuangan itu dengan segala tenaga. Kedua, Kongres mendesak pemerintah Belanda segera memberi kemerdekaan penuh kepada Indonesia, menghapuskan pembuangan dan hukuman mati, serta memberi amnesti umum.

Menurut Bung Hatta, selain dua keputusan di atas, ada keputusan lain yang sangat penting bagi Indonesia. Yakni: menuntut pemerintah Belanda membolehkan pembentukan sebuah Komisi berisi sastrawan dunia, seperti Nansen, Bernhard Shaw, dan Barbusse. Komisi ini akan mengunjungi dua tempat, yaitu Jawa dan Sumatera, untuk memeriksa motif pemberontakan rakyat 1926/1927.

Sayang, Belanda menolak permintaan itu. Meski begitu, Bung Hatta tidak berkecil hati. Baginya, kendati permintaan itu ditolak, tetapi pengaruhnya sudah berdampak secara politik ke seluruh dunia.

Bung Hatta mengakui, keikutsertaannya dalam Kongres Liga Anti Imperialisme sangat berpengaruh bagi dirinya. Ia bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan buruh dunia jaman itu, seperti Georg Ledebour (Jerman), Edo Fimmen (Sekjend Federasi Serikat Buruh Transportasi Internasional), dan George Lansburry (pimpinan Partai Buruh Inggris).

Selain bertemu dengan pemimpin pergerakan buruh, Bung Hatta juga berkenalan dengan pemimpin gerakan rakyat dari Asia dan Afrika, seperti Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Senegal).

Usai kongres Liga Anti Imperialis di Brussel, Bung Hatta kembali ke negeri Belanda. Di sana ia makin aktif dalam gerakan politik anti-kolonial. September 1927, Bung Hatta bersama tiga kawannya—Nazir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat—ditangkap oleh penguasa kolonial Belanda. Mereka dituding terlibat dalam organisasi terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan penghasutan untuk melawan Kerajaan Belanda.

Bung Hatta ditahan di penjara selama 5 bulan. Saat itu Bung Hatta sudah menyiapkan pledoi untuk dibacakan di depan pengadilan.  Judulnya tegas: “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka). Sayang, sehari sebelum jadwal pembacaan pledioi-nya, Bung Hatta divonis bebas.

Sekeluarnya dari penjara, Bung Hatta mencoba aktif kembali di Liga Anti Imperialisme. Sayang, menurut penilaiannya, keberadaan Liga mulai didominasi oleh gerakan komunis. Di bawah kontrol Stalin, politik Liga juga mengalami perubahan drastis.

Menurut Bung Hatta, di bawah pengaruh Stalin, politik Liga mulai berubah terhadap organisasi non-komunis, khususnya kaum sosial-demokrat. “Golongan sosialis ini dihantamnya karena pendirian mereka dianggap menahan kaum buruh tetap bernaung di bawah partai sosial demokrasi dan tidak mau menyeberang ke partai komunis,” kata Bung Hatta.

Pimpinan Liga saat itu, Willy Muzemberg, tetap berupaya mempertahankan kaum sosialis dan non-komunis di dalam tubuh Liga. Ketakutannya, kalau golongan sosialis dan non-komunis sudah ditendang, maka kaum nasionalis pun akan hengkang.

Memang, kalau mau jujur, pembentukan Liga tidak lepas dari peranan Organisasi Komunis Internasional (Komintern). Bagi Komintern, Liga Anti Imperialis merupakan “Front Persatuan” untuk menyatukan perjuangan klas pekerja dan perjuangan rakyat jajahan dalam dalam kerangka melawan eksploitasi kapitalisme dan imperialisme.

Pada kongres Liga Anti Imperialis ke-2 di Frankfurt, 20-27 Juli 1928, gerakan komunis semakin gencar menyerang kelompok non-komunis. Yang paling diserang saat itu adalah Ketua Liga, James Maxton, yang mewakili Independent Labour Party Inggris.

Pada saat ketegangan kedua kubu itu muncul, Bung Hatta diminta untuk menjadi pimpinan sidang. Beruntung, perdebatan tidak sesengit sidang-sidang sebelumnya. Sekjend Liga Willy Muzemberg menyampaikan pidato dalam suasana persatuan. Hadirin menyambut dengan tepuk tangan. Pada saat itu, sebagai ungkapan kegembiraan, Bung Hatta mengajak peserta sidang untuk berdiri dan menyanyikan lagu “Internationale”.

Usai kongres ke-II di Frankfurt itu, suasana internal Liga makin tidak solid. Perpecahan sudah di depan mata. Stalin makin bernafsu menendang kaum sosial-demokrat keluar dari Liga. Perpecahan dengan kaum nasionalis juga makin tak terhindarkan. Pada April 1927, Koumintang di bawah pimpinan Chiang Kai Shek membantai kaum komunis di Shanghai. Lalu, di bulan Desember 1927, Koumintang kembali menumpas komune rakyat di Guangzhou.

Komintern menuding Liga telah digembosi dua aliran oportunis, yakni kaum reformis sosial (Maxton, Fimmen) dan reformis nasionall (Nehru, Hatta, dan lain-lain). Di Tiongkok, nasionalis telah mengambil posisi reaksioner dan berkolaborasi dengan imperialisme. Di India, metode perjuangan kaum nasionalis, yakni non-kekerasan dan fasifisme, sudah tidak memadai untuk memimpin perjuangan rakyat India. Di Indonesia, kaum nasionalis berupaya keras mensubordinasikan kaum komunis.

Namun, posisi Stalin tidak sepenuhnya tepat. Di Tiongkok, pasca peristiwa Shanghai, kaum komunis dibawah Mao Zedong tetap melanjutkan Front Persatuan dengan Koumintang. Di India, gerakan nasionalis di bawah Partai Kongres tetap kekeuh melawan kolonialisme Inggris. Sedangkan Hatta makin berjarak dengan kaum komunis pasca dipecat dari Liga.

Dan, pada tahun 1930, Bung Hatta resmi dipecat dari Liga. Pada saat bersamaan, Nehru juga mengalami nasib serupa. Keanggotaan Liga pun makin merosot. Dan, sejak tahun 1930-an, aktivitas Liga makin menurun hingga akhirnya benar-benar menghilang.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut