Hari-Hari Sulit Pemerintahan Buruh Di Brazil

Hari-hari ini adalah hari-hari yang sulit bagi pemerintahan yang dipegang oleh partai Buruh (PT) di Brazil. Akankah pemerintahan yang dikepalai oleh Presiden Dilma Roussef itu akan terdorong ke ujung tanduk?

Minggu (13/3) lalu, oposisi sayap kanan Brasil menggelar aksi demonstrasi gede-gedean. Beberapa media, termasuk Guardian, menyebut massa oposisi mencapai jutaan orang. Sedangkan Russian Today menyebut ada 3 juta orang.

Yang jelas, oposisi sayap kanan sedang di atas angin. Mereka menyerang pemerintahan partai Buruh dari berbagai sudut: jalanan, Kongres, penyelenggara pemilu, hingga pengadilan.

Di Kongres, sebuah upaya pemakzulan yang didorong oleh anggota Majelis Rendah dari partai kanan  Partai Gerakan Demokratik Brazil (PDMB), Eduardo Cunha, sedang bergulir.

Lalu, Dilma juga sedang dicekik oleh penyelenggara Pemilu Brazil. Musababnya, Dilma dituding melakukan pelanggaran kampanye saat Pemilu Presiden 2015 lalu. Jika terbukti, maka nasib pemerintahan Dilma benar-benar diujung tanduk.

Serangan yang tak kalah mematikan adalah upaya Kejaksaan Federal Rio De Jeneiro menjerat mantan Presiden Brazil yang juga rekan separtai Dilma, Lula Da Silva. Lula dituduh melakukan pencucian uang dan dikait-kaitkan dengan korupsi di perusahaan minyak negara Petrobras.

Padahal, Lula ada simbol partai Buruh. Serangan terhadap Lula berarti serangan total terhadap Partai Buruh. Artinya, oposisi kini bukan hanya mengejar pelengseran Dilma, tetapi juga menjegal upaya Partai Buruh kembali memenangi Pemilu 2019.

Soal tuduhan korupsi terhadap Lula, silahkan baca ini: Upaya Merusak Politik Lula

Lula memang tokoh kunci Partai Buruh. Dia adalah salah satu pendiri partai ini di tahun 1980. Melalui perjuangan yang tak kenal lelah, serta kesabaran yang setebal baja, Lula dan Partai Buruh berhasil memenangi Pemilu di tahun 2002.

Masa pemerintahan Lula (2003-2009) berhasil membawa Brazil menjadi lebih baik. Ekonomi tumbuh pesat: rata-rata 7 persen. Angka kemiskinan berhasil diturunkan dari 27 persen di tahun 2003 menjadi 7 persen di tahun 2009. Ketimpangan ekonomi juga berhasil diperkecil.

Sayang, cerita sukses itu kurang berlanjut di era pemerintahan penerusnya, Dilma Roussef. Sekarang ini ekonomi Brazil terjun bebas ke angka 2 persen. Inflasi mendekati 10 persen. Tuduhan korupsi, yang dimanipulasi oleh sayap kanan, benar-benar menggerus kredibilitas pemerintah.

Grup media-media besar yang dikuasai sayap kanan, seperti Grupo Globo, benar-benar menjadi terompet yang nyaring dan efektif untuk mendiskreditkan Dilma, Lula, dan Partai Buruh.

Ya, pemerintahan partai Buruh benar-benar terpojok.

Tetapi, sekalipun terpojok, Dilma menolak mundur. Akhir pekan lalu, dia bilang kepada media, “tidak seorang pun berhak meminta mundur Presiden yang dipilih secara legitimate”.

Hari Jumat (18/3) besok, gerakan  rakyat yang mendukung pemerintahan Partai Buruh akan menggelar aksi besar juga untuk menyokong pemerintah. Setidaknya, hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan buruh belum kalah.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut