Hari Depan Perjuangan Rakyat Mesir

Setelah “Hari Keberangkatan”, Apa Lagi?

Lebih dari satu juta orang berbondong-bondong menuju lapangan pembebasan (Tahrir) di Kairo, kemarin, dalam rangka melipat-gandakan kekuatan untuk mendesakkan penggulingan rejim Hosni Mubarak.

Sementara ratusan ribu orang, termasuk ibu-ibu dan anak-anak, mengalir dari jembatan sungai nil menuju lapangan, dengan tidak kenal takut dan goyah sedikitpun setelah bentrokan dengan orang bayaran Mubarak.

Pada hari Rabu dan Kamis, para demonstran oposisi bertahan dari lemparan loyalis Mubarak, yang mempergunakan potongan beton, logam, bom molotov, bahkan mempergunakan kuda dan unta serta senjata otomatis.

Kemarin, para demonstran harus melalui penjagaan dan pemeriksaan ketat sebelum bergabung demonstran lainnya, untuk memenuhi seruan “Friday of Departure” yang diserukan oleh penyelenggara aksi.

Kumpulan massa dalam jumlah besar sudah terlihat sebelum sholat Jumat, dan semakin membesar pasca sholat jumat, sekaligus menandai semangat kuat dari Rakyat Mesir untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar.

Aksi protes kemarin berjalan bukan tanpa hambatan. Kumpulan pendukung Mubarak sudah berada di dekat lokasi lapangan Tahrir, lengkap dengan alat pemukul kayu dan logam, tetapi berhasil diusir jauh oleh demonstran oposisi dengan hujan batu.

Sementara puluhan ribu orang sudah berkumpul di Alexandria, kota besar Mesir lainnya, dan sudah berjanji akan melakukan long-march menuju kota Kairo jikalau pasukan keamanan berani menggunakan preman bayaran untuk mengganggu perjuangan para patriot di lapangan Tahrir.

Proposal Washington: Transisi dengan jalan damai

Sementara di belakang layar, pemerintahan Obama sedang melobi para pejabat Mesir untuk menerima proposal AS jika seandainya Mubarat mengundurkan diri, yaitu sebuah pemerintahan transisi yang dipimpin oleh wakil presiden, Omar Suleiman, dan atas dukungan militer.

Pemerintahan transisi ini, dalam bayangan Washington, akan membawa Mesir dalam pemilu bebas dan jurdil pada tahun berikutnya. Ini juga sejalan dengan pernyataan Tony Blair di CNN, bahwa perubahan di Mesir haruslah “perubahan stabil”.

Untuk memberi alasan atas apa yang disebut “perubahan stabil” ini, negeri-negeri imperialis telah membesar-besarkan bahaya “naiknya rejim radikal ekstrim atau fundamentalisme”. Sehingga, untuk mencegah kebangkitan fundamentalisme itu, barat telah mengajukan proposal agar segelintir elit berfikiran liberal diberi kesempatan untuk memimpin transisi.

Omar Sulaiman sendiri sedang menawarkan negosiasi dengan kalangan oposisi dan Ikhwanul Muslimin, terhadap perubahan konstitusi yang diperlukan untuk menjamin pemungutan suara secara bebas pada pemilu presiden september, sekaligus mengganti Mubarak yang sudah berjanji tidak akan maju lagi.

Meskipun demikian, proposal “jalan damai Washington dan barat” ini kemungkinan tidak diterima oleh keseluruhan spektrum politik dalam gerakan rakyat di Mesir. Dari ketiga spektrum kekuatan gerakan oposisi yang ada di Mesir, yaitu Ikhwanul Muslim, Liberal (Wafd), dan kekuatan kiri (komunis, nasserisme, dll), kemungkinan hanya liberal dan ikhwanul muslimin yang setuju dengan proposal itu, sedangkan kekuatan kiri cenderung mengajukan proposal yang mandiri dan diluar kontrol AS.

Mohamed El Baradei, tokoh oposisi yang dibesar-besarkan oleh media barat, adalah sepenuhnya seorang liberal, dan menginginkan Mesir bergeser dari negara otoriter menjadi negara liberal yang mengangut pemilu bebas dan kebebasan politik.

Ikhwanul Muslim, kendati kurang setuju dengan El Baradei yang liberal, tetapi sering mengambil posisi pragmatis ketika berhadapan dengan barat, terutama jika berhadapan dengan proposal kiri radikal atau nasionalis radikal. Ini ditunjukkan saat gerakan Ikhwanul Muslimin bersekutu dengan imperialis barat untuk melawan pemerintahan Gamal Abdul Nasser yang membawa sosialisme Arab. Nasser saat itu menasionalisasi terusan suez, mengambil alih sejumlah perusahaan dan bank asing, dan reforma agraria.

Kekuatan penentu lainnya adalah militer. Militer memainkan peranan sangat penting dan sangat berpengaruh dalam sejarah Mesir. Di jaman Nasser, militer memainkan peran penting dalam melawan imperialisme dan dunia barat. Tap kemudian, ketika Nasser meninggal pada tahun 1970, militer mulai mengalami pergeseran. Dengan rejim Mobarak yang pro-imperialisme AS, militer mendapat bantuan keuangan dan logistik yang banyak sekali dari AS, dan dengan itu militer punya kesempatan berbisnis. Akan tetapi, ketika Mubarak gencar melakukan privatisasi, ada gosip yang berkembang bahwa militer “kurang senang” karena sebagian aset/bisnisnya diprivatisasi.

Ada analisis yang cukup berbahaya akhir-akhir ini, yang mendefenisikan posisi militer sebagai kekuatan netral. Ini juga sangat dipercaya oleh kelompok oposisi seperti Ikhwanul Muslimin. Akan tetapi, mengingat ketergantungan militer Mesir terhadap imperialisme AS, sulit untuk mengatakan bahwa mereka akan bersikap netral.

Kenapa Mubarak tidak segera mengerahkan militer untuk melakukan represi atau kontra-demonstrasi? jawabnya: Itu terlalu riskan dalam situasi gejolak massa yang sedang pasang, sedang menaik kemarahannya. Pada kenyataannya, Mubarak menggunakan preman dan polisi berpakaian sipil untuk strategi “konflik horizontal”, sekaligus legitimasi untuk mengundang tentara agar segera bertindak dan mengontrol situasi.

Tentu saja, negeri-negeri imperialis tidak akan melepaskan Mesir menciptakan “jalannya sendiri”. Sebab, selain posisi sangat kuat Mesir dalam geopolitik dunia Arab, keberadaan Terusan Suez juga sangat penting bagi kelangsungan ekonomi negeri-negeri imperialis.

Diperlukan Instrumen Politik

Tentang kebangkitan gerakan massa dan perlunya kepemimpinan politik, saya bersepakat dengan Marta Harnecker, bahwa inisatif massa, dalam dirinya sendiri, tidaklah cukup, tetapi diperlukan sebuah instrumen politik yang punya kapasitas untuk memunculkan program nasional alternatif dan berkemampuan pula untuk menyatukan berbagai sektor sosial yang beragam ke dalam satu tujuan.

Untuk menjadi aksi politik yang efektif, agar insureksi bisa diubah menjadi revolusi, maka keberadaan instrumen politik menjadi penting terutama untuk mengatasi dispersi dan fragmentasi gerakan rakyat.

Kekuatan sosial yang melakukan perlawanan di Mesir datang dari berbagai sektor yang beragam, bahkan sebagian besar tanpa afiliasi politik. Sebagian besar mereka adalah massa yang marah dengan rejim Mubarak, tidak puas dengan situasi ekonomi seperti kenaikan harga pangan, pengangguran, dan lain sebagainya.

Gerakan kiri merupakan minoritas kecil di tengah lautan massa tanpa afiliasi politik, lebih kecil dibandingkan ikhwanul muslimim dan liberal (Wafd). Ada gerakan sosial yang disebut-sebut punya pengaruh cukup luas, yaitu Kifayah (cukup) dan gerakan untuk perubahan mesir, tetapi mereka kebanyakan adalah kelas menengah dan perjuangannya pun lebih mengarah pada kebebasan politik.

Diantara kekuatan kiri, yang terbesar adalah partai Tagammu, yang menikmati kenyataan sebagai partai legal dan memiliki lima anggota parlemen. Partai ini melekat dengan tradisi nasserisme, dan tradisi komunis reformis di dalamnya. Ada juga kelompok nasserisme sayap kiri yang cukup radikal, juga grup-grup kiri radikal lainnya, yang meskipun sangat kecil tetapi sangat hidup dan berperan dalam gerakan massa ini.

Di sinilah letak tantangannya: bagaimana gerakan progressif bisa mengkonversi kekuatannya dan memenangkan proposal alternatifnya di tengah massa luas tanpa afiliasi politik itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags:
  • Yos Bere

    suatu negara demokratfis tidak seharusnya dipimpin sampai tiga dekade seperti kepemimpinan Mubarak. untuk membayar semua itu memang Mubarak harus ikhlas menerima bahwa ia harus dilengserkan secara paksa dari tampuk pimpinan di Mesir. karena selama beberapa dekade kepemimpinannya tidak ada perubahan yang dirasakan oleh masyarkat Mesir. sudah seharusnya Mubarak turun karena tuntutan rakyat sangat beralasan. mubarak jangan berdalih bahwa ada aksi demonstrasi yang dilakukan ditunggangi oleh elit politik tertentu.
    bagi pemerintah indonesia, pulangkan mahasiswa2 yang sementara tinggal di Kairo sebagai pelajar dan mahasiswa.

  • isdar

    Rud…jika bennar pemberitaan media bahwa sekitar 300 orang yg jadi korban di Mesir..knp pergerakkan massa terhentak sampai pusaran negosiasi saja yg pada akhirnya tidak cukup kuat untuk melengserkan Rezim….?

  • bagus

    kenapa pergerakan rakyat mesir hanya berhenti sampai proses negosiasi saja itu karena satu hal mas yaitu rakyat tidak punya tentara, tentara yang itu memang milik rakyat. dan bila saya menanggapi apa yang terjadi dimesir itu bukan lah sebuah rev mas, kenapa karena walaupun rev itu adalah perubahan secara cepat, yang berlawanan dengan evolusi, tapi rev itu lama sebenarnya, karena itu butuh taktik yang pas untuk mencapainya. syarat-syarat untuk rev harus di penuhi. rev butuh massa yang sadar, rev butuh tentara untuk bertahan dari gempuran tentara rezim. dan bukan hanya itu rev butuh alternatif yang cocok untuk kontinuitasnya lagi “alternatif sistem”. sehinggga yang terjadi di mesir itu adalah bukan lah revolusi, tapi levelnya nanti akan sama dengan reformasi/mengembalikan kembali. dan analisas saya ini akan sama saja dengan rezim sebelumnya..

  • Kaum kiri di Mesir lemah dalam konsep perjuangannya, hingga terkesan gerakan spontan!