Harapan untuk Renaldi, Bayi Penderita Busung Lapar

Bayi yang hanya bisa tergolek lemah di atas dipan berukuran 3×2 meter itu adalah Renaldi. Rengekan lirih sesekali terdengar dari mulut mungilnya. Ketika disambangi di rumah petaknya yang bertempat di gang Abah Muhammad II nomor 346/186 RT 02 RW 11 kelurahan Maleber, kecamatan Andir, Bandung, Jawa Barat, Renaldi tengah bersama sang ayah.

Bayi kelahiran 5 November tahun lalu ini sudah sempat diperiksakan ke rumah sakit oleh sang ayah. Sampai dengan usia 3 bulan sekarang, bayi laki-laki itu tidak mendapatkan gizi yang cukup. Setiap hari, asupan gizi Renaldi hanya berasal dari air tajin (rebusan beras.Red) saja. Jangankan untuk susu formula untuk Renaldi, untuk makan sehari-hari saja, keluarga ini masih tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hidup Renaldi kian malang karena sang Ibu tak kuasa menahan beban ekonomi yang begitu menyiksa hingga ia pun melarikan diri. Semakin hari, badan Renaldi semakin kurus. Perutnya pun kian membuncit.

Sejak dari proses melahirkannya, bayi ini sudah mendapatkan kesulitan. Ia harus menginap selama 6 hari di ruang persalinan karena Mariam, sang ibu dan keluarga tidak mampu membayar biaya persalinan. Bahkan, ketika masih ada di Rumah sakit, Mariam juga pernah mendapatkan intimidasi dari satpam Rumah Sakit.

“Ada duit berapa saja, maka kamu bisa cepat pulang karena ada banyak yang antri melahirkan disini,” ujar Rohman, sang ayah (36) menirukan satpam Rumah Sakit tempat bayi mungilnya dilahirkan.

Dedi Fauzi, aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Jawa barat yang mendapatkan informasi dari salah seorang pasien yang juga dirawat di Rumah Sakit yang sama dengan Renaldi melakukan pendampingan yang cukup intens dengan keluarga bayi tersebut.

“Mereka kan keluarga miskin. Harusnya mereka bisa diberikan akses jaminan persalinan (Jampersal) yang menjadi program pemerintah. Kami memang berhasil kemudian melakukan hal itu. Hanya saja, karena tekanan yang begitu berat, Ibu Renaldi justru lari dari rumah dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini. Karena itu, Renaldi tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif karena dia dirawat neneknya,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, kondisi renaldi masih memprihatinkan dengan perut yang membuncit dan hanya di beri air tajin bercampur gula merah sebagai pengganti susu. Sementara nenek dan kakek bayi tersebut juga dalam kondisi ekonomi cukup memprihatinkan. Nenek Renaldi tinggal di rumah berlantaikan tanah, memasak dengan kayu bakar dan hanya bekerja sebagai buruh serabutan.

“Harusnya di kota Bandung ini sudah tidak ada lagi bayi yang masih kekurangan gizi. Walikota, Dinas Kesehatan Kota bandung juga Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat harus bertanggung jawab atas kesehatan masyarakatnya termasuk juga kondisi Renaldi yang kian memprihatinkan ini,” tegas Dedi.

Besok (Rabu,18/01), kata dia, aktivis SRMI Bandung akan mengantarkan Renaldi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif dari pihak rumah sakit. Ia berharap, pihak rumah sakit memberikan fasilitas kesehatan yang semaksimal mungkin agar Renaldi bisa segera tertolong.

EDI SUSILO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut