Kisah Pertanian Kolektif Dan Komune Di Tanah Baso

Selasa, 12 Maret 2013 | 23:51 WIB   ·   0 Komentar

Laskar Rakyat di jaman Revolusi (Ilustrasi)

Laskar Rakyat di jaman Revolusi (Ilustrasi)

Ada cerita menarik dari tanah Baso, yang terletak antara Payakumbuh dan Bukittinggi, Sumatera Barat, pada akhir pendudukan Jepang dan awal-awal pasca Proklamasi Kemerdekaan.

Saat itu, seperti diceritakan oleh Audrey Kahin dalam bukunya, Dari Pemberontakan Ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, seorang pemimpin lokal, namanya Tuanku Nan Putih, telah mendorong pertanian kolektif.

Sayang, Audrey Kahin tidak menceritakan detail pertanian kolektif itu. Ia hanya menjelaskan, bahwa Tuanku Nan Putih mendorong pengikutnya untuk menjalankan pertanian kolektif. Istri Tuanku Nan Putih ini punya tanah yang luas di daerah Baso. Di situlah pertanian kolektif itu dipraktekkan.

“Mereka menanam jagung, ubi kayu, dan tebu,” tulis Audrey Kahin di bukunya.

Kira-kira akhir 1945 atau akhir 1946, Gubernur Sumatera saat itu, Hassan, berkunjung ke Baso untuk melihat Romusha dan sistem pertanian kolektif itu. Maklum, banyak pekerja dalam pertanian kolektif itu adalah bekas romusha.

Selain pertanian kolektif, masyarakat di sana juga membentuk komune. Semua bahan makanan dibagikan secara adil. Mereka juga membuat bengkel-bengkel produksi, dengan bantuan opsir Jepang, yang dijalankan secara kolektif.

Praktek pertanian kolektif di Sumatera Barat tentu bukan hal sulit. Maklum, seperti dituturkan Djamaluddin Tamin, masyarakat Sumatera Barat sudah mengenal kepemilikan kolektif terhadap sumber daya alam.

Tuanku Nan Putih adalah seorang ulama. Pada tahun 1920-an, ia sudah bergabung dalam Sarekat Islam (SI). Begitu SI pecah antara SI merah dan SI putih, Ia memihak SI merah—kelak bernama Sarekat Rakyat (SR).

Saat terjadi pemberontakan anti-kolonial awal 1927 di Sumatera, Tuanku Nan Putih terlibat. Akhirnya, ia ditangkap Belanda dan dibuang ke Pamekasan, Madura. Di sana ia menghuni penjara selama tiga tahun.

Begitu bebas, Ia sempat bergabung ke berbagai partai politik. Diantaranya Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) dan PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia). Namun, tak bertahan lama, karena partai-partai itu ditindas oleh penguasa kolonial.

Begitu Jepang datang, Tuanku Nan Putih bersikap moderat. Ia melakukan penyambutan terhadap kedatangan pasukan Jepang. Bahkan, ia sempat mendirikan organisasi kepanduan pemuda Dai Nippon. Ia juga mendorong pengikutnya bergabung dalam laskar rakyat (Giyu Gun) bentukan Jepang.

Ketika Jepang memaksa rakyat menjadi Romusha, Tuanku Nan Putih membujuk penguasa Jepang agar para pengikutnya dipekerjakan di pembangunan lapangan terbang di Padang Gadut dekat Bukittinggi, bukan di Logas.

Adik tirinya, Boerhan Maling Kuning—sering dipanggil Tuanku Nan Hitam, datang ke Baso pasca Indonesia merdeka. Ia membawa tiga opsir Jepang, dua mobil, dan dua truk. Orang-orang Jepang inilah yang dipakai untuk melatih penduduk cara membuat mesin, senjata, dan bertempur.

Kedua tokoh ini, Tuanku Nan Putih dan Tuanku Nan Hitam, sama-sama pengikut Tan Malaka. Namun, seperti diungkapkan Audrey Kahin, Tuanku Nan Hitam lebih radikal. Ia menyerukan para pengikutnya menghancurkan semua penghalang kemerdekaan 100%–seperti anjuran Tan Malaka.

Pada saat itu, sekitar 1945-1946, Sumatera Timur sedang diguncang oleh Revolusi Sosial. Rakyat dan kaum kiri melancarkan pemberontakan terhadap raja-raja feodal yang pernah berkolaborasi dengan penguasa kolonial, baik Belanda maupun Jepang.

Tuanku Nan Hitam mulai melancarkan aksi-aksi revolusioner terhadap penguasa lokal dan kaum bangsawan. Residen Sumatera Barat saat itu, Djamil, ketakutan jika aksi revolusioner itu menjalar luas. Ditebarkanlah propaganda palsu, bahwa selain menyelenggarakan pertanian kolektif dan berbagi makanan secara kolektif, mereka juga berbagi istri.

Akhirnya, pada 16 April 1946, pasukan yang dipimpin Dahlan Djambek menumpas gerakan rakyat Baso. Tuanku Nan Putih dan Tuanku Nan Hitam ditangkap. Tak hanya itu, meski tak ada perlawanan, ratusan pengikut Tuanku Nan Putih ditangkap dan dieksekusi. Konon, ada 113 orang yang tewas akibat penumpasan itu. Tiga opsir Jepang, yang turut mengenalkan teknologi kepada penduduk kampung, juga dibunuh.

Menteri Pertahanan saat itu, Amir Syarifuddin, yang sedang berkunjung ke Sumatera Timur, sempat singgah di Baso. Ia tiba di sana tanggal 17 April 1946. Namun, ia tiba di sana setelah perlawanan rakyat itu sudah tumpas.

Dengan demikian, berakhirlah pertanian kolektif (komune) rakyat Baso saat itu.

Sigit Budiarto

Tags: , , ,

URL Singkat:

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :