Gerakan Turun Ke Bawah Dan Kampanye Pasal 33 UUD 1945 Di Desa Oeteta

Ada banyak cara untuk mempropagandakan gerakan pasal 33 UUD 1945 di tengah-tengah massa rakyat. Salah satu diantaranya adalah turun langsung di tengah-tengah rakyat dan hidup di tengah mereka (live in).

Gerakan itulah yang kini sedang dilakukan oleh aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) di Desa Oeteta, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para aktivis LMND ini hidup langsung dan beraktivitas dengan salah satu kelompok tani di desa Oeteta, yaitu kelompok tani Mardika.

Para mahasiswa berdiskusi dengan rakyat tentang berbagai persoalan bangsa dan tentang perjuangan menegakkan pasal 33 UUD 1945. Diantara persoalan yang dijelaskan oleh mahasiswa adalah soal praktek neoliberalisme dan dampaknya terhadap kehidupan kaum tani Indonesia.

Selain berdiskusi, para mahasiswa juga mengajarkan cara pembuatan pupuk Bokasi dan pestisida kepada petani. Selain itu, bersama dengan anak-anak desa, para mahasiswa mengajarkan cara pemanfaatan barang-barang bekas.

Kegiatan lainnya adalah pemutaran film dan diskusi film. Target dari kegiatan ini adalah memudahkan rakyat mengenal persoalan secara visual dan sekaligus mempelajari inspirasi-inspirasi gerakan dari tempat lain.

Maco Kappo, koordinator dari kegiatan ini, mengaku fokus kegiatan lebih banyak berkonsentrasi kepada masalah-masalah yang dihadapi petani. “Selama tiga hari ini kegiatan kita fokus kepada persoalan petani. Kita juga mendiskusikan solusinya secara kolektif,” ujarnya.

Sebagian besar kegiatan berlangsung di kelompok tani Mardika. Puluhan petani mengikuti kegiatan dengan antusias dari pagi hingga sore. Beberapa diantara mereka berparpartisipasi langsung dalam demonstrasi pembuatan pupuk, pestisida, dan pakan ternak.

Para petani juga antusias menyimak pemaparan Thor Chaster Seno, ketua LMND NTT, mengenai Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945. Seno antara lain menjelaskan bahwa gerakan pasal 33 UUD 1945 adalah gerakan perebutan sumber daya agar bisa dinikmati oleh rakyat banyak, bukan oleh segelintir orang.

Ia juga menjelaskan soal kelangkaan pupuk yang mendera petani. Dikatakannya, persoalan kelangkaan pupuk itu tidak terlepas dari penguasaan asing terhadap berbagai sumber daya dan kekayaan nasional, termasuk gas.

“Kita punya banyak cadangan gas bumi. Kita juga pengekspor gas bumi terbesar di dunia. Tetapi banyak pabrik pupuk kita yang gulung tikar karena kurangnya pasokan gas,” ujar Seno.

Para petani pun merasa sangat terbantu oleh kegiatan LMND ini. Mereka mengaku belajar dan mendapatkan informasi baru dari mahasiswa. “Kegiatan ini sangat membantu petani kecil. Kami belajar banyak dari kawan-kawan mahasiswa. Kami juga menjadi tahu akar penyebab persoalan petani dan jalan keluarnya,” kata ketua Kelompok Tani Mardika, Gustav Tabelak, di sela-sela kegiatan.

Anak-anak juga sangat senang dengan kegiatan ini. Mereka mendapat banyak pengetahuan baru tentang teknik pemanfaatan barang bekas menjadi barang-barang bernilai ekonomis tinggi. Setidaknya 40-an anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Menurut Julius Kasimo, ketua LMND Kupang, serangkain kegiatan di desa Oeteta ini juga merupakan ruang bagi aktivis LMND untuk bersentuhan dan belajar langsung dari massa rakyat. “Selain kampanye pasal 33, kita juga ingin menjawab kerinduan anggota liga yang ingin mengaplikasikan pengetahuaannya pada rakyat,’’ kata Julius.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut