Gerakan Rakyat Peringati Hari Pahlawan Di Makassar

Ratusan orang dari Gerakan Rakyat untuk Kemerdekaan Nasional (Graknas) melakukan aksi turun ke jalan bertepatan dengan peringati Hari Pahlawan.

Aksi dimulai dari depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang Makassar, lalu melakukan long-march menuju Fly-over, di seputar jalan tol Makassar.

Massa Graknas membawa patung tengkorak yang dibungkus kain hitam, kemudian ditempeli kertas-kertas bertuliskan nama-nama korporasi asing yang sementara ini sedang menguras kekayaan alam Indonesia.

Selain itu, beberapa demonstran mengenakan topeng bergambarkan wajah trio penindas dan pendukung penjajahan, yaitu SBY, Obama, dan Soeharto.

Arham, Ketua PRD kota Makassar, menegaskan bahwa momen hari pahlawan seharusnya bisa mengobarkan kembali semangat kepahlawanan kaum muda dan rakyat Indonesia untuk melawan neo-kolonialisme.

Arham mengatakan, jika penjajahan di masa lalu mengerahkan kekuatan militer, maka penjajahan sekarang ini menggunakan pengerahan kebijakan ekonomi dan politik.

Menentang Kedatangan Obama dan Imperialisme AS

Karena bertepatan dengan momen kedatangan Barack Obama, massa menyampaikan sejumlah pernyataan politik terkait praktik imperialistis AS di Indonesia sejak puluhan tahun.

Arham, dari PRD, mengatakan aksi pengamanan super terhadap Obama telah menegaskan ulang peran SBY sebagai boneka imperialisme.

Menurutnya, sebagai negeri imperialis yang puluhan tahun mengeruk dan menguras kekayaan alam Indonesia, AS seharusnya dianggap sebagai bagian dari masalah kedaulatan nasional bangsa kita.

Sementara Anto, aktivis dari PMII, menyatakan bahwa rejim SBY lebih patuh kepada modal asing daripada kepentingan nasional.

Aktivis lainnya, Alwi dari LMND, menegaskan bahwa Obama membawa agenda penting dari imperialisme AS, yaitu memaksa Indonesia semakin intensif dalam menjalankan liberalisasi ekonomi dan tidak mengganggu kepentingan AS di Indonesia.

Menolak gelar Pahlawan Untuk Soeharto

Massa Graknas juga menyampaikan penolakan atas rencana pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto, mantan penguasa otoriter selama 32 tahun di Indonesia.

Ide pemberian gelar pahlawan terhadap Soeharto telah mencoreng nilai kepahlawanan itu sendiri, sebab Soeharto semasa berkuasanya sangat aktif bersekutu dengan asing, menindas demokrasi, dan melakukan korupsi.

“Jika SBY tetap memberi gelar pahlawan kepada Soeharto, maka ini menjadi bukti bahwa SBY memang bagian dari rejim otoriter Soeharto,” ujar Firdaus, ketua SRMI Makassar saat menyampaikan orasi di depan massa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut