Gerakan Mahasiswa Harus Memajukan Teori dan Praktek

Aula pertemuan Asrama Bakopmist di Jalan Landak Baru, Makassar, yang biasanya tidak begitu ramai, tiba-tiba riuh dengan suara orang berdebat. Hari itu, 9 dan 10 April 2011, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menyelenggarakan pendidikan dasar di tempat ini.

Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul di tempat itu. “Jumlah peserta keseluruhan ada 55 orang,” kata Makbul, yang menjabat sebagai sekretaris LMND kota Makassar.

Mereka sebagian besar berasal dari Universitas Muhammadiyah, Universitas Indonesia Timur, Universitas Veteran RI, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas 45 Makassar, dan STIK Tamalate.

Darmin Wairo Sangadji, yang baru terpilih sebagai ketua LMND Januari lalu, menjelaskan kepada para peserta bahwa pendidikan politik dasar ini merupakan agenda rutin yang sudah diputuskan organisasi dan ditujukan untuk menambah kapasitas pengetahuan teoritis setiap calon anggota.

Meskipun berlangsung hanya dua hari, Darmin mengajak panitia dan peserta berkonsentrasi penuh untuk memaksimalkan pendidikan. “Dengan dua hari ini, saya berharap kawan-kawan bisa mencurahkan fikiran dan konsentrasi pada pendidikan ini,” katanya.

Pentingnya mengasah pengetahuan teori

Dengan mengutip perkataan Lenin yang terkenal “Tanpa teori revolusioner, maka tidak ada praktek revolusioner”, Darmin menjelaskan bahwa teori bukan saja penting untuk membimbing praktek revolusioner, tetapi juga menyimpulkan bahwa teori akan menemukan kebenaran ilmiahnya jika diaplikasikan dalam praktek.

“Ada banyak yang meremehkan pentingnya teori revolusioner, lalu akhirnya terjebak dalam aktivisme dan advoturisme. Ada pula yang membangun tembok pemisah antara teori dan praktek sehingga menjadi menara gading,” katanya.

Senada dengan Darmin, Ketua LMND Sulsel Alwi Assegaf juga menyerukan agar anggota LMND tidak meninggalkan aspek penguatan kader atau kaderisasi. “Kaderisasi itu penting bukan saja untuk membuat kader faham teori, tapi yang lebih penting adalah setiap praktek atau pengalaman revolusioner harus diteoritiskan.”

Jalannya Pendidikan

Dalam pendidikan kali ini, pengurus LMND hanya menurunkan sejumlah materi dasar saja, diantaranya, Pengenalan LMND, Filsafat Dasar, Sejarah Gerakan Mahasiswa, Membangun Organisasi Maju, dan Neoliberalisme Pendidikan.

Di setiap presentasi materi, para peserta dibebaskan untuk memberikan sanggahan atau bertanya. “Kita mau membuat pendidikan ini bisa berlangsung dialogis,” ujar Makbul.

Selain itu, dalam setiap sesi presentasi materi, tekanan pokok yang diberikan adalah bagaimana menghubungkan teori dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari atau isu-isu yang sedang dihadapi oleh massa rakyat.

Filsafat dasar, misalnya, diajarkan tentang perbedaan antara kubu idealisme dan materialisme melalui contoh-contoh konkret sehari-hari. Hal itu, menurut Makbul, sangat membantu para peserta untuk cepat memahami materi.

Meski fasilitas pendidikan sangat sederhana, tetapi para peserta tetap terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti setiap materi.

Membangun gerakan mahasiswa berbasis massa

Kenyataan menunjukkan bahwa pamor gerakan mahasiswa semakin menurun. Gerakan mahasiswa, kalaupun masih bertahan di kampus, adalah minoritas kecil di tengah lautan massa mahasiswa yang hedonis dan “tidak mau ambil pusing” dengan persoalan bangsa.

Di penghujung pendidikan, Darmin menyampaikan pidato penutup. Ia meminta agar para peserta, selepas pendidikan ini, mulai aktif mengorganisir massa mahasiswa di kampus masing-masing.

“Kita harus memenangkan pengaruh di dalam kampus. Setiap anggota LMND harus pintar-pintar memanfaatkan setiap ruang untuk menghimpun massa mahasiswa secara luas,” ujar Darmin.

Pendidikan ini, katanya, harus mencetak propagandis-propagandis yang akan memprogandakan LMND dan program perjuangannya kepada massa mahasiswa.

Selain itu, katanya lagi, setiap anggota LMND harus terus mengasah kemampuan teoritis dan kecakapan personalnya, sebagai modal dasar dalam mengorganisir massa mahasiswa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut