Gerakan Koin Pesangon Untuk SBY Di Jogjakarta

Ratusan massa dari Beberapa organisasi gerakan di DIY menyiapkan pesangon buat pemerintahan SBY. Massa yang tergabung dalam komite Revolusi Rakyat ini menggelar aksinya longmarch dari Tugu Yogyakarta sampai kantor pos besar DIY.

Dalam orasinya Slamet Was Air selaku Koordinator umum Komite revolusi rakyat menilai, pemerintah SBY sudah keterlaluan. Selama tujuh tahun pemerintahan hanya seperti “polisi India”, yaitu serba terlambat dalam segala hal. Selama ini kebijakan-kebijakan tidak membela rakyat, tetapi lebih mementingkan pencitraan figur presiden.

Sebagaimana era kapitalis lanjut ini yang penuh kebohongan. Pemerintah akibat citra-citra mampu bertahan hingga dua periode dengan membohongi publik. Ada kriteria kebohongan atau pengingkaran menurut Komite Revolusi Rakyat. Pertama, ingkar hukum. Kasus mafia hukum buktinya. Bagaimana mungkin orang dipenjara justru nglencer, kasus HAM yang tak dituntaskan, dan sebagainya. Hukum telah diplintir. Kedua, ingkar janji atau dusta yang sengaja melalaikan janjinya. Hukumnya seperti berkhianat, karena melalaikan amanat konstitusi.

Koin pesangon untuk SBY

Selain menggelar aksi massa, Komite Revolusi Rakyat juga mengumpulkan koin untuk pesangon Presiden SBY jika sudah dipecat. Ada banyak sekali warga masyakat yang menyumbang koin untuk pesangon SBY.

Penggalangan koin untuk SBY ini sekaligus sebagai sindirian atas curhatnya beberapa pekan lalu, saat meminta kenaikan gaji di hadapan anggota TNI/Polri. Di mata gerakan mahasiswa ini, curhat SBY itu sangat kontradiktif dengan kenyataan yang dialami oleh rakyat, seperti kaum buruh yang tidak pernah naik upahnya, kaum tani yang sulit menjual hasil produksi, hingga sebagian besar rakyat sulit mendapatkan pekerjaan.

Ketua Partai Rakyat Demokratik DIY, Budiman HK, menjelaskan bahwa banyak sekali persoalan yang dihadapi rakyat, diantaranya persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lain sebagainya, yang butuh perhatian Presiden SBY.
“Masih banyak kasus gizi buruk, rakyat makan nasi aking, putus sekolah, hingga kasus bunuh diri, yang seharusnya diperhatikan oleh SBY,” tegasnya.

Komite Revolusi Rakyat mempunyai catatan mengenai 9 dosa besar SBY-Boediono, yaitu: Pertama, tidak tuntasnya kasus Lumpur Lapindo, Munir, Marsinah, Wartawan Udin, Tanjung Priuk, dan lain-lain sehingga tidak adanya supremasi hukum di Indonesia; Kedua, Berkiblatnya perekonomian Indonesia pada neo-liberalisme; Ketiga, Membiarkan biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal sehingga tidak terjangkau oleh rakyat; Keempat, Ketidak berpihakan terhadap kaum buruh; Kelima, Membiarkan perlakuan diskriminatif terhadap buruh perempuan; Keenam, Menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan telepon; Ketujuh, Tidak selesainya polemik undang undang keistimewaan Yogyakarta secara benar dan proporsional; Kedepalan, Tindakan kriminalisasi terhadap para anggota oragnisasi rakyat yang menentang kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat; dan kesembilan, gagalnya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Komite revolusi rakyat, yang terdiri dari 21 organisasi gerakan di DIY diantara HMI MPO, SMI, GMKI, IMM, Pembebasan, LMND, PRP, NPMSB IKPM Kep Riau, PPMI dan PRD, melakukan pembakaran Foto SBY, juga melakukan pemblokiran jalan yang mengakibatkan malioboro macet.

Aksi diakhiri dengan pengiriman koint receh di kantor pos besar DY hasil dari penggalangan kepada dari rakyat jogja sejumlah 99.000 sebagai pesangon untuk SBY dari rakyat yogjakarta.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut