Gerakan Koin dan Oposisi Sejati

Setelah Presiden SBY curhat mengenai gajinya yang tidak pernah naik di hadapan Rapim TNI/Polri, rakyat pun memberikan respon yang cukup luas. Salah satu respon dari rakyat adalah “gerakan koin untuk gaji Presiden SBY”. Gerakan ini disambut dengan sangat antusias dimana-mana, dan menjadi cara rakyat untuk menyindir Presiden yang tidak tahu diri, bahkan dilakukan pula oleh sejumlah anggota DPR di gedung parlemen.

Tetapi dampak dari gerakan tersebut sudah bisa kita bayangkan: Presiden SBY yang suka menjual pencitraan, merasa tersinggung dengan koin. Maklum, koin adalah simbol rakyat miskin, dan sering diberikan kepada pengemis. “Dengan menggunakan simbol koin ini, kami mau menyebut mental SBY sebagai pengemis. Dia memang suka mengemis kepada asing,” demikian dikatakan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) saat menggelar aksi “koin untuk gaji Presiden SBY” di Surabaya.

Dalam membentuk opini dan menarik partisipasi massa, maka gerakan koin ini sudah pernah teruji keampuhannya. Lihat saja di dalam kasus Prita, bukan saja kelas menengah dan penghuni dunia maya yang antusias dalam gerakan ini, tetapi juga rakyat dari kalangan bawah. Bahkan, lebih jauh lagi, rakyat membangun posko-posko peduli Prita secara sukarela. Kesuksesan “gerakan koin untuk Prita” pun menjadi inspirasi dan diikuti oleh gerakan-gerakan lain, seperti gerakan “koin peduli TKI” dan lain sebagainya.

Jika gerakan moral semacam gerakan koin ini bisa mencapai sukses besar, maka gerakan politik justru mengalami kebuntuan. Gerakan politik, yang dalam beberapa hal sering dipersamakan dengan gerakan untuk mengubah kekuasaan politik, sedang kehilangan daya tariknya di hadapan massa. Ini tidak lepas dari kemampuan neoliberalisme men-depolitisasi kehidupan rakyat, sehingga massa menjadi alergi dengan politik dan partai politik.

Gerakan koin memang membuat SBY merasa “tersinggung” dan merah telinganya, tetapi tidak cukup untuk memaksa jenderal bintang empat itu untuk mengundurkan diri. Gerakan ini memang juga cukup efektif untuk menarik dukungan media massa, termasuk media mainstream, tetapi proses pembelokan tujuan gerakan juga sangat mungkin terjadi di sini.

Oleh karena itu, adalah penting untuk memberi program politik dalam gerakan-gerakan semacam ini, juga menyertakan seruan-seruan untuk turun ke jalan dan melakukan perlawanan secara politik. Dan, sebagaimana dicontohkan dengan baik oleh aktivis LMND dan SRMI di Surabaya, bahwa gerakan ini harus dibawa ke tengah-tengah rakyat: kampung-kampung, pabrik-pabrik, pasar, dan tempat keramaian lainnya. Para aktivis tidak sekedar mengumpulkan koin dari rakyat, tetapi juga mengajak berdiskusi dan sekaligus memberi penjelasan mengenai persoalan ekonomi-politik.

Kita membutuhkan oposisi yang sejati, bukan oposisi yang malu-malu–yang sekedar memperlihatkan kekritisannya di dunia maya, terutama jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Kita butuh oposisi yang energetik dan berbasis massa, yaitu oposisi yang mengikat mayoritas rakyat Indonesia, baik dalam aksi di jalanan maupun di ruang politik legal, menentang rejim neoliberal dan menunjukkan alternatifnya. Inilah oposisi sejati: perjuangan politik massa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut