Genjer Bikin Geger

Selasa malam (29/9), diskusi tentang setengah abad peristiwa G30S digelar oleh salah satu stasiun TV swasta. Salah satu diskusi yang cukup menarik untuk dinikmari sambil menyeruput kopi.

Namun, sedang ogah juga untuk memihak mana yang lebih tepat jadi korban, kelompok TNI atau PKI? Terlebih lagi, kalau disuruh menceritakan apa saja yang dibicarakan peserta diskusi tersebut.

Hanya sedikit tertarik pada salah satu pernyataan Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Marsudi Syuhud dalam obrolan yang dimoderasi Karni Ilyas tersebut. Secara implisit, ia mengiyakan, pertentangan ideologi yang terjadi kala itu tampak jelas dari sisi kesenian. Banyak karya seni dari kaum kiri kala itu bikin geger. “Mereka bikin gendjer-gendjer, kami bikin shalawat badar,” kata dia.

Tapi, pertentangan seni antara PKI dan kelompok agama tersebut tidak sampai disitu. Ia pun sempat mengutip beberapa lakon yang sempat dimainkan oleh kelompok ludruk atau ketoprak dari Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) memang membuat para agamawan naik pitam. “Ada yang judulnya Gusti Allah mati, eh matine gusti allah.”

Benar, ada beberapa judul lakon yang sekilas menyindir agamawan yang dimainkan oleh organisasi kebudayaan pimpinan Njoto tersebut. Sebut saja: Matine Gusti Allah, Gusti Allah Ngunduh Mantu, Malaikat Kimpoi, dan Kawine Malaikat Jibril. Namun, lakon tersebut sejatinya sangat politis, tidak teologis.

Lakon-lakon yang dimainkan di tahun 1965 itu sebenarnya hanya provokatif secara judul. Judul itu tak lebih dari sindiran LEKRA pada para tuan-tuan tanah yang didominasi para kyai merangkap priyai yang selalu bersembunyi di balik agama dan Tuhan. Terlebih lagi, watak feodalistik mulai berkembang biak. Sementara kaum kiri kala itu sedang asyik-asyiknya memperjuangkan land reform.

Entah ilham itu lahir darimana. Bisa jadi dari thesis Mbah Sosialisme, Karl Mark, yang bilang agama itu candu. Tapi, lahirnya lakon tersebut merupakan kreatifitas para seniman LEKRA dalam membaca situasi dan minat penonton. Di tangan seniman anti manikebu itu, lakon-lakon mistis khas ludruk diubah menjadi lakon-lakon yang dekat dengan rakyat. Untuk diketahui, bagi LEKRA, politik adalah panglima. Bagi LEKRA, seni harus mengabdi pada revolusi, diwujudkan dalam tinggi mutu artistik dan tinggi mutu ideologi.

Saking beraninya mereka, lakon Matine Gusti Allah misalnya dimainkan untuk memperingati Hari Raya Paskah. Keberanian itu lantaran isi pementasan ternyata tidak seekstrem judulnya. Kisah yang paling banyak ditampilkan tak jauh dari penderitaan rakyat, kemiskinan, kegetiran, kekecewaan, nasib buruh tani, juga tentang perjuangan rakyat melalui land reform.

Setiap penampilan ludruk pun dihiasi dengan lagu genjer-genjer. Sebuah karya seni yang menceritakan kemiskinan dan kesusahan rakyat kecil pada saat itu. Lucu juga, kalau lagu yang dinyanyikan Bing Slamet itu dianggap metamorfose ‘Genjot Jendral oleh Gerwani’.

Tapi, yang jelas, hingga saat ini, karya seni tersebut malah boomerang. Entah siapa yang memulai, karya tersebut malah memperkuat kaum tersebut sebagai kelompok tidak percaya Tuhan (atheist). Cap anti tuhan itu nampaknya tetap saja diimani sebagian pihak, hingga sekarang. Entah sampai kapan?

Tedi Cho, Aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut