Geliat Revolusi Kebudayaan Dalam Revolusi Mesir

Grup band rock progressif Mesir, Cairokee, sedang tampil di hadapan massa di lapangan Tahrir. (Foto: http://www.albawaba.com)

Dua tahun lalu, ketika revolusi berkobar di seantero Mesir, lahir pula sebuah gerakan kebudayaan yang berwatak revolusioner. Namanya: El-Fan Midan atau “Seni di Lapangan”.

Memang, lapangan telah menjadi salah satu simbol revolusi Mesir. Banyak yang berujar, “Revolusi Mesir lahir di lapangan Tahrir.” Dan sejak itu, gerakan yang terinspirasi oleh revolusi Mesir juga berusaha menjadikan lapangan sebagai pusat perlawanan. “Seni benar-benar mengambil peranan sentral di lapangan,” kata aktivis dan blogger Yaman, Atiaf Alwazir, yang mengaku terinspirasi revolusi Mesir.

Namun, El-Fan Midan tidak lahir di lapangan Tahrir, yang menjadi simbol revolusi itu. Ia justru lahir di lapangan Abdeen, yang terletak di jantung kota Kairo, hanya dua bulan setelah kejatuhan diktator Mesir, Hosni Mubarak. Tepatnya: 6 April 2011.

“Kami ingin rakyat merebut kembali jalan-jalan. Bukan hanya melalui aksi protes. Karena itu, kami membawa seni ke jalanan,” kata Hamdy Reda, seorang seniman visual yang turut menggagas gerakan ini.

Penggagas gerakan ini adalah koalisi seniman independen. Basma El-Husseiny, salah seorang tokoh dari Koalisi Seniman Independen, menjelaskan alasa membentuk gerakan ini. “Kami menciptkan bentuk dialog publik diantara massa melalui seni, musik, dan teater,” katanya.

Dan media yang paling mungkin untuk menciptakan ruang itu adalah festival budaya. Festival budaya El-Fan Midan ini berlangsung setiap bulan. Kegiatannya pun sangat beragam: pertunjukan musik, teater, tari-tarian, pembacaan puisi, pemutaran film, pameran buku, dan lain-lain.

Sebelum revolusi, festival merupakan sesuatu yang langka. Otoritas berkuasa selalu melarang festival dengan berbagai alasan. Dengan demikian, kelahiran El Fan Midan adalah gebrakan besar untuk mengembalikan kebudayan ke tengah-tengah rakyat.

Ambil contoh aksi grafiti. Di masa kediktatoran, grafiti merupakan ekspresi pemberontakan. Di masa periode revolusioner, ia berfungsi sebagai pembawa pesan perlawanan. Dan ketika revolusi sudah menang, grafiti menjadi simbol dari kebebasan berekspresi dan menyalurkan bakat seni.

Grafiti memang berkembang pesat di Mesir. Kecenderungannya pun makin kritis dan radikal. Salah satu contoh adalah NooNeswa, yang digerakkan oleh sekelompok perempuan muda Mesir. Proyek mereka disebut Graffiti Harimi (grafiti perempuan), yang berisi grafiti yang menantang hal-hal tabu di Mesir dan mengajak kaum perempuan untuk turun ke jalan. Mereka banyak menulis kata-kata penyair Mesir: “Beri Aku Kebebasan, Hilangkan Rantai yang Membelengguku.”

Kelahiran El Fan Midan memang tidak bisa dipisahkan dari revolusi. Ketika kediktatoran masih berkuasa, rakyat ditekan dengan berbagai larangan dan teror. Namun, begitu revolusi bergelora, semua rasa takut itu pun dijebol. “Revolusi telah menghancurkan ketakutan di dalam diri kami. Sekarang kami bebas untuk berekspresi,” kat Zeft, seorang pelukis grafiti.

Kebebasan berekspresi dan memainkan seni tanpa sensor merupakan ekspresi revolusi Mesir saat ini. Hal itu juga diakui oleh grup band rock progressif, Cairokee. “Sebelum revolusi, kami frustasi karena harus bermain hanya untuk diri sendiri, untuk teman-teman, atau di studio, tetapi setelah revolusi rakyat mengubah standar ini. Kami harus menyanyi di mana-mana, di hadapan banyak orang,” kata Amir Eid, vokalis dari band Cairokee ini.

Pada Desember 2011, El Fan Midan sudah menjangkau 16 kota dari 13 Provinsi di Mesir. Sekarang, kelahiran El Fan Midan dirayakan setiap tahunnya dengan festival dan kegiatan besar. “Awalnya kami tidak berharap kami bisa bertahan hingga setahun. Tapi untungnya publik mengagumi ide El Fan Midan dan mendukungnya,” kata Basma El-Husseiny, direktur  Al-Mawred Al-Thaqafi (Cultural Resource), kepada Ahram Online.

Salah satu kelompok teater yang sering tampil adalah Masrah al-Maqhurin (Teater Kaum Tertindas). Selain mengangkat tema-tema politik dan kritik sosial, kelompok ini juga melibatkan penonton dalam pementasannya.

Dan di setiap festival El Fan Midan, orang akan melihat bagaimana semangat revolusi masih berkobar. Kali ini disuarakan melalui lagu-lagu, puisi, lukisan, grafiti, pernak-pernik, patung, teater, dan lain sebagainya. Selain mengingatkan kenangan revolusi, karya seni itu juga berbicara mengenai tugas-tugas revolusi yang belum selesai.

Namun, perkembangan El Fan Midan bukan tanpa hambatan. Salah satunya adalah soal dana. Maklum, dukungan dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan Mesir, sangat kecil. Di sisi lain, untuk menghelat sebuah festival, mereka butuh dana yang tidak sedikit.

“Kami hanya bertahan dengan donasi sukarela. Rakyat Mesir percaya, bahwa mendanai pendidikan dan kesehatan adalah prioritas utama, sedangkan kebudayaan adalah urusan ke sekian,” kata Hamdy Reda.

Reda mengingatkan, revolusi tidak hanya menyangkut perubahan di level politik, tetapi seluruh aspek kehidupan rakyat Mesir. Termasuk revolusi di lapangan kebudayaan.

Hamzah Fansuri

Editor: Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut