Gagasan Ekonomi Bung Hatta Masih Relevan

Diskusi soal Koperasi di kantor PERCIK Indonesia

Selama ini, karya-karya pemikir ekonomi dari luar, seperti Adam Smith, David Ricardo, John Maynard Keynes, John Kenneth Galbraith, dan lain-lain, cukup akrab di telinga kita. Namun, karya-arya pemikir ekonomi bangsa sendiri kurang terulas. Padahal, banyak pemikiran ekonom bangsa sendiri itu justru relevan untuk konteks Indonesia.

Hal itulah yang mendasari Percik Indonesia untuk menggelar acara bedah buku berjudul “Beberapa Fasal Ekonomi” karya Bung Hatta. Acara itu berlangsung di kantor Percik Indonesia di jalan Sawo Kecik Raya, Jakarta Selatan, pada hari Jumat (5/4).

Pembicara dalam bedah buku ini adalah Agus Pranata. Dia adalah Koordinator Kajian dan Kaderisasi Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat  (KPP-PRD). Acara bedah buku ini dihadiri oleh puluhan aktivis mahasiswa dan gerakan sosial.

Menurut Agus, di tengah berkecamuknya krisis ekonomi dunia, pemikiran Bung Hatta justru menemukan relevansinya. “Saya kira, banyak sekali gagasan ekonomi Bung Hatta yang sangat relevan sekarang. Itu sangat penting diulas,” ujarnya.

Agus pun mengulas lima ciri pemikiran ekonomi Bung Hatta. Pertama, menjamin kemakmuran bersama. Hal ini, kata dia, karena Bung Hatta mengusung bentuk organisasi produksi yang bersifat kolektif. “Bung Hatta selalu menekankan pentingnya membangun usaha bersama,” tuturnya.

Kedua, adanya pengawinan terhadap demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Agus mengurai kesimpulan ini dari konsep Bung Hatta mengenai demokrasi asli Indonesia, yang menggabungkan antara pemenuhan hak-hak politik, seperti rapat/pengambilan keputusan secara kolektif dan kepemilikan alat produksi secara kolektif.

Ketiga, sosialisme koperatif. Maksudnya, kata Agus, koperasi dirancang bukan hanya untuk menyatukan usaha kecil-kecil, tetapi juga bisa dipraktekkan dalam perekonomian negara. “Tentu saja, ketika perekonomian negara sudah berbentuk usaha bersama, kita sudah siap bertransisi menuju sosialisme,” tegasnya.

Keempat, adanya peran negara yang kuat. Menurut Agus, konsep Bung Hatta akan peran negara yang kuat ini tercermin pada konsep “politik perekonomian”. Politik perekonomian ala Bung Hatta, ujar Agus, bercita-cita mendatangkan kemakmuran.

Kelima, adanya semangat percaya pada kekuatan sendiri (Self Help). Dengan melalui koperasi, ujar Agus, Bung Hatta berharap agar rakyat menemukan kepercayaan diri dan dan bisa menggunakan kemampuannya untuk membangun ekonomi.

“Percaya pada diri sendiri itu penting, kata Bung Hatta, untuk memerangi penyakit inferiority complex. Yaitu, penyakit yang selalu merasa rendah diri dan merasa tidak mampu di hadapan bangsa asing,” tegasnya.

Menurut Bung Hatta, pemikiran Bung Hatta yang penting lainnya adalah soal bagaimana menghentikan model “ekonomi ekspor”, yaitu model ekonomi yang menitikberatkan pendapatan negara dari ekspor bahan mentah ke negara-negara lain.

“Saya kira, model ekonomi ekspor ini masih diadopsi sekarang. Padahal, itu dulu konsep ekonomi kolonial. Model ini hanya menguras kekayaan alam kita dan tidak menciptakan basis untuk industrialisasi,” katanya.

Sebagai alternatifnya, kata Agus, Bung Hatta mengusulkan agar kita lebih memperkuat “pasar internal”. Hanya saja, menurut Agus, penguatan pasar internal ini hanya mungkin jika daya beli rakyat diperbaiki.

Dalam diskusi ini, Agus juga mengadvokasi konsep Bung Hatta tentang koperasi sebagai senjata melawan eksploitasi kapitalisme, termasuk korporasi global. Caranya, kata dia, dengan menyatukan ekonomi rakyat yang kecil-kecil ke dalam koperasi.

“Kalau kecil-kecil, mereka akan dilahap oleh ekspansi kapital besar. Tetapi jika kekuatan ekonomi kecil-kecil ini disatukan, maka ia bisa mengimbangi kekuatan modal besar,” tambahnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut