FX Harsono: Pemerintah Tidak Memperhatikan Persoalan Kebudayaan

JAKARTA:  Perupa Indonesia kenamaan, FX Harsono, menilai, pemerintah kurang memperhatikan kebudayaan dalam orientasi pembangunan di Indonesia, sehingga banyak sekali proses pembangunan yang tidak sesuai atau kurang peka dengan tuntutan masyarakat.

Demikian dikatakan FX Harsono saat menjadi pembicara dalam diskusi berjudul “National and Character Building”, di Jakarta, Sabtu (21/8). Dengan panjang lebar, FX Harsono menguraikan persoalan-persoalan kebudayaan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Harsono mengatakan, segera setelah Bung Karno digantikan oleh rejim Soeharto dan gagasan-gagasannya juga turut dihapus, maka kebudayaan pun mulai dihilangkan dalam pembicaraan strategi pembangunan.

Sekarang ini, menurutnya, pemerintah sendiri mengartikan kebudayaan secara salah. “Kebudayaan sekedar dilihat sebagai ritual dan kesenian. Di sini, anggapan pemerintah soal kebudayaan hanyalah upacara-upacara dan ritual, sementara sektor kehidupan yang lain, misalnya sikap dan perilaku, dianggap bukan soal kebudayaan.

Akibatnya, Harsono menjelaskan, kebudayaan diletakkandi bawah departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dimana kebudayaan dianggap sebagai komoditi yang dapat memicu tumbuhnya pariwisata.

Lebih jauh, Harsono mengatakan, banyak sekali konflik-konflik sosial yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh hilangnya pemahaman soal kebudayaan.

Dalam pembangunan, sebagai missal proses industrialisasi, pemerintah tidak menempatkan manusia sebagai bagian dari penciptaan industri itu sendiri. Akibatnya, banyak sekali proses industrialisasi yang mengorbankan kemanusiaan, demikian dikatakan Harsono.

Dia mencontohkan, ketika pemerintah memutuskan konversi gas, sementara kebudayaan masyarakat memahami bahwa setiap bahan bakar pasti memiliki bau, sehingga banyak sekali kasus ledakan gas dipicu oleh ketidaktahuan masyarakat.

“Itu salah pemerintah. Dia tidak mengetahui budaya memasak masyarakat, tata cara berfikir mereka soal penggunaan energi bahan bakar,” katanya.

Harsono pun berbicara soal gerakan renaissance (bahasa Perancis, renaisans) di eropa dan hubungannya dengan perjuangan kebudayaan. Menurutnya, ada tiga ciri dari gerakan renaissance itu: pertama, penghargaan terhadap manusia atau kemanusiaan. Kedua, penghargaan terhadap kesenian. Ketiga, penghargaan terhadap keragaman beragama.

Di Indonesia, kata Harsono, tidak ada penghargaan terhadap kemanusiaan, sambil mengambil contoh pada cara pemerintah memperlakukan orang-orang miskin.

Demikian pula dengan kesenian, yang menurut Harsono, sama sekali luput dari perhatian pemerintah saat ini. “kesenian kita tumbuh dan berkembang sendiri, selama bertahun-tahun, tanpa dukungan pemerintah,” ujarnya.

Persoalan serupa juga muncul saat agama dilepaskan dari persoalan kebudayaan, dan kemudian dimasukkan ke ranah politik, maka agama sekedar menjadi alat untuk pertarungan kekuasaan dan mempertahankan kekausaan, katanya.

“Dulu, ketika agama masih melekat pada kebudayaan, masyarakat kita hidup sangat rukun dan damai,” katanya.

Di bidang pendidikan juga begitu, dimana proses pendidikan dipisahkan dari persoalan budi pekerti dan keadaan sosial di sekitarnya. “Kita punya agama dan moral pancasila, itu bisa menjadi unsur budi pekerti dari pendidikan,” tegasnya.

FX Harsono memperingatkan bahwa dunia sekarang sudah berubah, dan perubahannya sangat cepat sekali. Karenanya, kaum muda dan pekerja budaya menghadapi situasi yang benar-benar berbeda dengan masa-masa sebelumnya, khususnya dalam perkembangan teknologi informasi.

Sekarang ini, FX Harsono menandai perkembangan baru dalam seni rupa Indonesia, khususnya seni rupa kontemporer, yaitu perubahan dari modern ke post-modern, dimana dalam dunia post modern tidak ada lagi orientasi atau kiblat dalam berkesenian.

Secara pribadi, FX Harsono menganjurkan agar pekerja seni tetap terbuka, tidak berprasangka, tetap kritis terhadap persoalan, dan menghilangkan segala “rintangan” yang menghalangi pandangan mereka dalam berkarya. (Rh/Ulf)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • pipin

    jgn2 indonesia memang nda punya budaya…