“Freddie Mercury Asia Tenggara”

Tahun 1980-an dan 1990-an adalah era kejayaan Queen dan Scorpions. Tapi, di Asia Tenggara kala itu, termasuk beberapa tempat di Indonesia, termasuk di kampung saya di Sulawesi, yang berjaya adalah dua grup band asal Malaysia: IKLIM dan SEARCH.

Popularitas dua band negeri serumpun itu berhasil membendung kedigdayaan QUEEN dan SCORPIONS. Bahkan, boleh dibilang, keduanya adalah imitasi dari dua raksasa musik Eropa itu.

Jika di QUEEN ada Freddie Mercury, maka di IKLIM ada Saleem Abdul Majeed. Jika di SCORPIONS ada Klaus Meine, maka SEARCH punya Suhaimi bin Abdul Rahman alias Amy Search.

Nah, saya bicara si Saleem Iklim, yang pada 14 Oktober 2018 berpulang karena kecelakaan. Kalau dilihat-lihat, didengar, dan diresapi, gaya dan vocal ini mirip-mirip dengan Freedie. Gak percaya? Coba tonton videonya, lihat gaya, dan dengarkan vokalnya.

Meskipun, dari segi daya vokal, tentu Freddie jauh di atas Saleem. Konon, suara Freddie bisa melengking hingga empat oktaf. Tapi Saleem juga punya suara yang bisa melengking tinggi.

Uniknya, jalan hidup dua orang ini mirip banget. Kalau Freddie dari keturunan Gujarat India, maka si Saleem ini juga punya darah India. Kalau di masa kecilnya, sebelum jadi penyanyi, si Freddie sempat jadi buruh angkut, maka Saleem pernah jadi pembantu koki.

Beruntung, dua orang ini dianugerahi oleh Tuhan kekuatan vokal yang luar biasa. Ini sekaligus menjadi pembuka jalan hidup mereka. Freddie bergabung dengan grup band SMILE, yang kelak berganti nama menjadi QUEEN. Sedangkan Saleem mengajak anak-anak sekampungnya mendirikan IKLIM.

Nama IKLIM ini unik. Kala itu, di tempat tinggalnya si Saleem, Terengganu, dilanda cuaca yang tak menentu. Badai kerap menerjang. Nelayan tak bisa melaut. Sebagai bentuk empati, band yang baru dibentuk diberinama IKLIM.

Awalnya, IKLIM ini main di kafe-kafe, pesta kawinan, dan hajatan-hajatan orang banyak. Namun, karena daya tarik vocal si Saleem, nama IKLIM cepat melambung. Hingga dilirik oleh industri musik.

Jika Queen langsung melambung dengan “Bohemian Rhapsody”, maka IKLIM dengan “Suci dalam Debu”. Hayo, siapa diantara kalian generasi 90-an yang tidak pernah mendengarkan lagu “Suci dalam Debu”?

Di kampung saya dulu, tahun 1990an, kalau ada hajatan yang menyuguhkan orkes—istilah zaman itu, lalu tak ada “Suci dalam Debu”, maka dianggap tak afdhol.

Boleh dikatakan, tahun 1990an era puncak kejayaan Saleem dan IKLIM. Dalam kurun waktu 1990-1996 (masa surut dan dipecatnya Saleem dari Iklim), grup band rock ini mendapat lusinan penghargaan. Bahkan, di Indonesia, “Suci dalam Debu” dua kali mendapat HDX Awards.

Jika lagu-lagu QUEEN itu filosofis, maka lagu-lagu IKLIM sangat puitis. Coba lihat lirik pembuka lagu “Hanyalah Satu Persinggahan”:

Di sini kasih pernah berbunga
Tiada harum tiada warna
Di sini cinta pernah membara
Tanpa bahang dan tanpa apinya
Begini yang ku rasa
Hidup kita berdua

Di sini langit mendung selalu
Tiada cahaya menyinariku
Di sini aku tiada berdaya
Mengikut kata tanpa bicara
Kerana engkau tahu
Aku tidak sepadan denganmu

Kalau QUEEN mewakili suara-suara anak muda yang bangkit menentang kemapanan dan faham tua, maka IKLIM lebih mengespresikan ketimpangan sosial. Lagu-lagunya selalu berbicara tentang cinta yang terhalang oleh dinding perbedaan kelas sosial. Aspirasi cinta suci dari kelas kere akan terwakili oleh lagu “Hakikat Cinta”, “Sheila”, dan “Bukan Tak Cinta”.

Tapi, memang sih, tema tentang percintaan yang kandas karena perbedaan kelas sangat umum dalam lagu-lagu Malaysia. Dan karena itu, bagi banyak generasi “broken heart” di masa lalu, lagu-lagu dari Negeri Jiran ini selalu jadi obat penenang.

Oiya, meski terbilang sangat sukses, bahkan menjadi penyanyi paling menjulang di masanya, jalan hidup Freddie dan Saleem bukan tanpa duri perintang.

Di masa keemasannya, Freddie disorot negatif karena orientasi seksualnya yang gay. Di tahun 1980-an, dunia masih memandang sangat negatif orientasi seksual yang dianggap menyimpang. Sampai-sampai vokalis SKID ROW, Sebastian Bach, pernah mengenakan kaos bertuliskan: “AIDS: Kills Fags Dead!”.

Belum lagi, ketika Freddie terkena AIDS. Saat itu dunia masih melihat negatif AIDS sebagai akibat seks dan pergaulan bebas. Jadilah gaya hidup Freddie jadi bahan kampanye negatif soal penyebab AIDS.

SALEEM juga bernasib tragis di puncak kariernya. Ia terseret penggunaan Narkoba. Karena urusan Narkoba itu, Saleem sempat dilarang pemerintah Malaysia tampil di TV. Puncaknya, pada 1996, dia ditangkap karena narkoba.

Sejak itu, karir Saleem terjun bebas. Bahkan, demi membersihkan aib negatif terhadap IKLIM, Saleem dipecat dari band yang ia ikut dirikan pada 1988 itu. Tapi Saleem sadar, itulah nasib yang harus ia terima dengan lapang dada.

Tapi IKLIM tanpa Saleem bak sayur tanpa garam. Tanpa karakter khas vokal Saleem, band IKLIM juga surut. Ditambah lagi, belantika musik Malaysia kedatangan banyak pendatang baru.

Beruntung, keluar dari penjara, Saleem masih disayangi nasib baik. Salah satu raksasa industri rekaman, Warner Music, menawarinya untuk rekaman.

Seperti Freddie yang menulis lagu cinta untuk istri pertamanya, Mary Austin, berjudul “Love of My Life”. Saleem juga menulis lagu cinta untuk istri pertamanya. Judulnya: Juwita. Ini ungkapan terima kasih Saleem terhadap istri pertamanya.

Tak hanya itu, untuk membersihkan citra negatifnya sebagai bekas narapidana Narkoba, Saleem menciptakan lagu berjudul “Maaf”. Ini semacam lagu penyelesalan atas kesalahan di masa lalu sekaligus memintar permohonan maaf.

Yang tak dimiliki Saleem dari Freddie adalah empati terhadap kemanusiaan. Selain terlibat kampanye untuk menyelamatkan penderita AIDS, Freddie pernah terlibat dalam konser kemanusiaan Live Aid 1985. Ini konser amal untuk menggalang dana bagi korban kelaparan di Ethiopia dan berbagai tempat di dunia.

Sementara Saleem, hingga penghujung hidupnya, terus berjuang untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap narkoba. Seiring dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Hingga, sebuah kecelakaan yang mematahkan 12 tulang rusuknya.

Akhir cerita, pada 14 Oktober 2018, the God Father of Broken Heart 1990-an versi rock ini berpulang.

Mahesa Danu

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid