Fidel Castro: NATO Punya Rencana Menduduki Libya

Pemimpin revolusioner Kuba Fidel Castro memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak punya sedikitpun kekhawatiran mengenai perdamaian di Libya, bahkan tidak ragu-ragu untuk memerintahkan NATO untuk menyerang dan menduduki negeri kaya tersebut.

“Orang bisa setuju atau tidak dengan Khadafi. Dunia telah menyerangnya dengan segala macam pemberitaan, terutama dengan menggunakan media massa. orang harus menunggu dengan membutuhkan waktu lama untuk mempelajari apa yang benar dan apa yang bohong, atau campuran dari berbagai peristiwa itu, dari berbagai kekacauan yang diproduksi di Libya. Tapi bagi saya, apa yang sudah sangat jelas adalah bahwa Amerika Serikat tidak punya kekhawatiran sedikitpun dengan perdamaian di Libya dan tidak ragu-ragu untuk memerintahkan NATO menyerang negara kaya itu, mungkin dalam hitungan jam atau setengah hari,” kata Fidel dalam refleksinya.

Fidel juga menyoroti kebohongan yang disebarkan media dalam beberapa hari terakhir, bahwa Khadafi sudah melarikan diri ke Venezuela, salah satu negara yang dianggap sebagai musuh imperialisme AS juga.

Dengan mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Venezuela Nicholas Maduro, Fidel Castro mengatakan, “bahwa Venezuela berharap rakyat Libya akan menemukan, dengan melaksanakan kedaulatan, solusi damai atas kesulitan mereka, yang akan menjaga kesatuan rakyat Libya dan bangsanya, tanpa campur-tangan imperialisme.”

Libya, yang sekitar 95% tanahnya adalah gurun pasir, melakukan revolusinya pada bulan September tahun 1969. Pemimpinnya adalah Muammar al-Gaddafi, seorang tentara asal Badui, yang pada masa awal revolusi sangat terinspirasi oleh Gamal Abdul Nasser.

Ada persekongkolan di balik krisis Politik Libya

Pemimpin Libya, Muammar Al-Qadafi, menduding demonstrasi oposisi yang diarahkan pada dirinya di Tripoli dan sejumlah kota lainnya adalah bagian dari persekongkolan jahat barat.

Dalam sebuah tayangan televisi negara, Khadafi memperingatkan rakyatnya bahwa protes oposisi yang meletus minggu lalu di Tripoli dan sejumlah kota lain seperti Benghazi adalah untuk “melayani setan” dan menuduh para penghianat dan pengacau mencoba mengarahkan negeri itu pada kekacauan dan memperlakukan rakyatnya.

Pada selasa malam Khadafi memerintahkan para pemuda untuk menggunakan gelang hijau sebagai simbol kesetiaan dan mempertahankan revolusi, dan bersumpah untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Khadafi juga mengatakan bahwa dirinya akan memimpin revolusi dan menyatakan bahwa dirinya siap mati di Libya sebagai martir.

Ia telah menginstruksikan kepada rakyatnya untuk membentuk milisi rakyat dan berkoordinasi dengan komite rakyat, sebuah badan yang sangat loyal kepada pemerintahannya dan tersebar di seluruh negeri diantara berbagai kekuatan bersenjata.

Dia mengatakan bahwa struktur ini telah mempertahankan minyak negerinya, mempromosikan proyek perumahan, juga pencapaian lain dari revolusi, dan malam ini mereka harus menangkap tikus (merujuk kepada penentangnya).

Dia menyatakan bahwa sebagian besar rakyat berada di belakangnya dan menggambarkan mereka yang menuntut pengunduran dirinya sebagai “pemuda mabuk dan pengguna obat-obatan”, yang dibandingkan dengan pemuda patriotik yang ditakdirkan untuk menyelamatkan negara.

“Libya dalam bahaya, kedaulatan kita dalam bahaya,” katanya sambil membaca beberapa pasal dalam KUHP mengenai hukuman bagi para penghianat, yang menempatkan negara untuk melayani asing dan menyerang pemerintah.

Khadafi menolak untuk mengundurkan diri dan berpendapat bahwa dia tidak punya istana, uang ataupun jabatan yang mana dia harus mundur. “Saya akan terus menjadi pemimpin revolusi,” katanya, sambil menyerukan kepada para pengikutnya, “jika mereka mencintai Muammar Qadafi, maka mereka harus mempertahankannya di jalan-jalan.”

“Anda harus berani. Anda berjuta-juta sedang mereka hanya seratusan individu; kalian harus turun ke jalan dan mengembalikan pemerintahan,” serunya.

Khadafi juga mengeritik sejumlah media yang menurutnya telah mendistorsikan kebenaran tentang apa yang terjadi di Libya, terutama merujuk kepada “jaringan TV Arab yang telah menghianatinya.”

Akan tetapi, dia mengakui keseriusan situasi dan laporan bahwa penentangnya telah mengambil-alih Benghazi, kota terbesar kedua di Libya dan kota-kota lainnya, selain melumpuhkan pelabuhan dan bandar udara di berbagai daerah.

Media resmi melaporkan bahwa sedikitnya 300 orang telah tewas dalam bentrokan antara oposisi dan pendukung Khadafi. Putra Khadafi, Saif Al-Islam, pada hari seni mengakui bahwa ratusan orang telah tewas dalam bentrokan. (Dari berbagai sumber)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut