Fidel Castro, Legenda Revolusi dari Amerika Latin

Fidel Castro lahir tanggal 13 Agustus 1926. Saat itu Kuba sedang diperintah oleh Gerardo Machado, seorang pejuang kemerdekaan, yang berusaha memutus kekuasaan elit tradisional dan menjadikan Kuba lebih independen dari Amerika Serikat.

Semasa kanak-kanak, Fidel tinggal di Santiago de Cuba, sebuah provinsi di Kuba, dimana ia menghabiskan hari-harinya dengan olahraga. Makanya, dia lebih unggul di bidang olahraga ketimbang prestasi akademis.

Masa mudanya beririsan dengan pergolakan politik: Fulgencio Batista, seorang tentara, berkuasa di tahun 1940 hingga tahun 1944. Dia berkuasa kembali di tahun 1952, setelah menggulingkan Presiden Carlos Prío Socarrás.

Dengan sokongan penuh Amerika Serikat (AS), Batista memerintah Kuba dengan tangan besi. Sampai-sampai Presiden AS John F Kennedy pernah bilang, “Batista adalah diktator paling represif dan berdarah-darah sepanjang sejarah brutalisme Amerika latin.”

Dia kemudian belajar ilmu hukum di Universitas Havana. Aksi-aksi protes mahasiswa sedang marak. Fidel akhirnnya terseret dalam gerakan mahasiswa itu. Sikap politiknya mulai jelas anti-imperialis.

Antara 1947-1950, Fidel berkunjung ke Republik Dominika dan Kolombia. Di sana, karena bersentuhan dengan perjuangan rakyat menentang rezim di kedua negeri itu, Fidel makin condong ke faham kiri dan revolusioner.

Castro kembali ke Kuba tahun 1950, dengan target utama: menyelesaikan studi hukumnya. Dia percaya, gelar hukum yang disandangnya bisa dipakai untuk membantu kaum tertindas dan melawan kediktatoran. Dia mulai mengorganisir kawan-kawannya ke dalam sebuah gerakan revolusioner yang bernama “Gerakan”.

Perjuangan bersenjata

Melalui “Gerakan”, Fidel mulai mengumpulkan ratusan kaum revolusioner. Sebagian besar dari adalah mahasiswa dan kaum miskin di kota Havana. Mereka kemudian dilatih perjuangan bersenjata.

Tanggal 26 Juli 1953, Fidel dan kawan-kawannya melancarkan serangan ke sebuah barak militer di Moncada. Sayang, serangan itu gagal. Fidel dan beberapa kawannya ditangkap.

Fidel harus rela dikurung dibalik jeruji besi. Namun, selama di penjara, Fidel rajin membaca buku, dari Marx, Lenin, Jose Marti, Freud hingga Shakespeare. Di proses persidangan, Fidel membacakan pledoi yang sangat terkenal, Sejarah akan membebaskan saya.

Fidel akhirnya dibebaskan tahun 1955. Begitu menghirup udara merdeka, dia langsung ke Meksiko. Di sana dia bertemu kawan seperjuangannya, Ernesto Che Guevara. Di sana juga dia mengorganisasikan kawan-kawan seperjuangannya yang tersisa ke dalam gerakan baru: “Gerakan 26 Juli” (diambil dari tanggal penyerbuan Barak Moncada).

Tahun berikutnya, Fidel dan kawan-kawan memulai perjuangan bersenjata di Kuba. Fidel bersama 81 kawannya—termasuk Che Guevara—berusaha mendarat di Kuba dengan menumpangi kapal bernama Granma. Sayang, pendaratan itu terendus aparatus Batista dan segera melakukan penyergapan. Hanya 21 orang yang selama—termasuk Fidel, Raul dan Che.

Setelah itu, Fidel bersama kawan-kawannya yang tersisa menyingkir ke pegunungan Sierra Maestra. Di sana mereka membangun basis merah. Dan, setelah perjuangan gerilya selama 3 tahun, Fidel dan kaum revolusioner berhasil menjatuhkan diktator Fulgencia Batista. Tepatnya 1 Januari 1959, yang dikenang sebagai “Revolusi Kuba”.

Api revolusi

Januari 1959, pemerintahan sementara terbentuk di bawah kepempinan seorang liberal, Manuel Urrutia Lleó. Fidel sendiri dilantik menjadi Perdana Menteri pada 16 Februari 1959.

Usai dilantik, Fidel sempat mengunjungi AS. Pulang dari AS, sekitar bulan Mei 1959, Fidel langsung meneken dekret reforma agraria untuk mengatasi ketidakadilan agraria.

Di bulan Juli 1959, pemerintahan Urrutia makin ke kanan dan anti-komunis. Situasi itu yang mendorong protes besar-besaran menuntut pengunduran diri Urrutia. Akhirnya, pada 23 Juli 1959, Fidel resmi menjabat sebagai Presiden.

Pemerintahan revolusioner di bawah Castro tidak menunggu lama untuk memulai program sosial-revolusioner, seperti pemberantasan buta-huruf, reforma agraria, nasionalisasi perusahaan asing dan layanan kesehatan gratis.

Dan sejak itu, hubungan Kuba dengan AS mulai memburuk. Upaya untuk menjatuhkan pemerintahan Castro pun dimulai. Puncaknya pada peristiwa yang disebut “invasi teluk babi”, yakni penyerbuan oleh ribuan milisi bersenjata kanan atas sokongan AS/CIA ke Teluk Babi di Kuba. Namun, rakyat dan kaum revolusioner Kuba berhasil mematahkan agresi itu tidak lebih dari 72 jam.

Sejak itu, Fidel tak henti-hentinya menjadi objek pembunuhan oleh CIA/AS. Setidaknya, ada 638 upaya pembunuhan terhadap Presiden yang gemar bermain catur itu. Berbagai cara dipakai CIA untuk membunuh Fidel: Pulpen beracun, cerutu beracun, pakaian selam beracun, hingga pil sianida. Tidak berhenti di situ, Kuba juga diembargo oleh AS.

Begitulah, dihantam angin topan dari mana saja, revolusi Kuba tetap berdiri kokoh. Bahkan, meski masih muda, revolusi Kuba tidak meninggalkan komitmen internasionalisnya: ikut serta dalam membebaskan Angola, membantu perjuangan rakyat Kongo, membantu rakyat Afrika Selatan melawan apartheid dan masih banyak lagi.

Kuba juga tak henti-hentinya melakukan aksi kemanusiaan: mengirim dokter gratis ke berbagai negara yang dilanda bencana (Chile, Aljazair, Haiti dan lain-lain). Berada di garis depan memerangi virus Ebola. Juga membantu berbagai negara dalam program pemberantasan buta-huruf. Di panggung dunia, Kuba di garis depan memperjuangkan pembebasan Palestina.

Di Amerika latin, Kuba menjadi api revolusi yang menginspirasi gerakan revolusioner. Mulai dari revolui Sandinista di Nikaragua hingga kemenangan sejumlah pemerintahan kiri di bawah panji-panji sosialisme abad-21 saat ini.

Di usia 90 Tahun

Hari ini, Fidel berusia 90 tahun. Umurnya sudah hampir satu abad. Di usia yang sudah senja itu, Fidel memang jarang muncul di hadapan publik. Tetapi dia masih rajin menulis refleksi di Granma, koran resmi Partai Komunis Kuba.

Terakhir kali dia muncul di Kongres Partai Komunis Kuba pada bulan April lalu. Di situ dia menyampaikan pidato yang berkesan tentang spirit menjadi komunis. “Ini mungkin yang terakhir saya bicara di forum ini….tetapi ide komunisme Kuba akan terus hidup di bumi ini. Bekerja dengan semangat dan martabat, dapat memproduksi kekayaan materil dan kulturil yang dibutuhkan manusia.”

Fidel memang sudah tua, tetapi dia tetap menjadi inspirasi bagi perjuangan untuk keadilan sosial di manapun. Terutama di Amerika latin. Hampir semua pemimpin kiri Amerika latin, seperti Chavez, Evo Morales, Correa, Daniel Ortega dan lain-lain, menjadikannya idola.

‘Bagi saya, Fidel adalah bapak, kawan seperjuangan dan seorang ahli strategi yang sempurna,” kata Chavez dalam sebuah wawancara dengan koran Granma di tahun 2005.

*****

Hari Jumat, 25 November 2016, sekitar pukul 22.29 waktu setempat, Fidel Castro menghembuskan napas terakhirnya. Dia telah mewariskan sebuah Revolusi paling bermartabat dan terus menjadi oase bagi mimpi dunia baru.

Selamat jalan, Komandante Fidel. Damai di surga.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut