Fenomena Amuk

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar fenomena amuk di tengah masyarakat kita, misalnya penggusuran makam di Koja, aksi petani di Lumajang, aksi buruh di Batam, aksi mahasiswa di Makasar, aksi sopir yang menghajar anggota DLLAJR di Bogor, sopir taksi di Denpasar Bali, perkelahaian antar organisasi massa, organisasi massa dengan warga masyarakat, amuk supoter bola, perkelahaian massal dalam pertunjukan musik, dan lain-lain. Negara melalui aparat hukumnya berusaha menangkapi dan memenjarakan para pelaku amuk, namun usaha itu kelihatannya kurang berhasil, malahan amuk ini terus berkembang, terus terjadi, dan makin meluas.

Masyarakat Indonesia dikenal sangat sabar, toleran, ramah dan santun. Ini berkaitan dengan masyarakat yang mengutamakan harmonisme. Namun, sekarang ini tiba-tiba sekarang menjadi brutal, mudah marah, curiga dan gampang melakukan kekerasan. Sekarang, misalnya, seseorang yang datang ke satu kampung, karena kebetulan kurang dikenal warga setempat, ia bisa saja menjadi korban amuk massa karena dituding hendak menculik anak.

Ada sebagian orang berpendapat, bahwa hal ini  merupakan gejala yang wajar karena Indonesia sedang dalam transisi demokrasi; dari periode kediktatoran yang membelenggu kebebasan, hingga demokrasi yang menawarkan kebebasan pribadi. Menurut pendapat tersebut, rakyat secara lama-kelamaan akan dewasa seiring matangnya kesadaran  akan demokrasi.

Memang betul, perubahan membutuhkan waktu dan proses bagi siapapun untuk menyesuaikan diri dengan sistem dan situasi yang baru. Akan tetapi, jika perubahan tersebut tidak memberikan harapan serta kepastian akan masa depan bagi rakyat, misalnya kemiskinan yang semakin lama makin akut, pengangguran merajalela, harga-harga bahan pokok naik membumbung tinggi, maka keresahan sosial pun akan meluas.

Dalam  kamus bahasa Indonesia, amok mengacu pada sebuah keadaan yang muncul dari sikap atau tindakan seseorang atau sekelompok orang yang merusak dan menghancurkan dengan cara brutal membabi buta dan mata gelap sehingga menimbulkan kerusuhan dan huru-hara, sebagai bentuk ekspresi dan pelampiasan emosi yang ditimbullkan akibat adanya tekanan rasa frustasi dari suatu keadaan yang tidak dikehendaki.

Jika ditelusuri lebih jauh, amuk sangat terkait dengan ketegangan-ketegangan sosial dalam susunan masyarakat Indonesia yang sangat hirarkis. Di satu sisi, ada segelintir elit yang mengontrol keseluruhan sumber daya, dan karenanya, mengontrol keseluruhan masyarakat. Sementara itu, pada aspek lain, sebagian besar masyarakat kehilangan akses terhadap sumber daya dan tidak menemukan ruang apapun untuk mengekspresikan kepentingan sosial-ekonominya.

Onghokham dalam buku Sukarno, Orang Kiri Revolusi & G 30 S 1965, membedakan revolusi  dengan amuk. Menurutnya, revolusi adalah berdirinya rakyat dengan tujuan politis-sosial dan ekonomi yang jelas, sedangkan amuk hanya pembalasan dan penghancuran total dari segala sesuatu. Pada tahun 1945, sebagai contoh, ketika para Pemimpin revolusi tidak memiliki alat seperti Partai-Partai, kader-kader dan persiapan-persiapan lain untuk memimpin rakyat, maka kemungkinan amuk lebih besar. Ini menjadi pertimbangan sejumlah pemimpin saat itu menambil jalan diplomasi.

Kita haruslah evaluasi bersama. Amok sangat terkait dengan tekanan ekonomi dan politik yang membebani fikiran setiap rakyat. Sementara itu, ketika kita berbicara soal kebijakan ekonomi dan politik, maka sistem neoliberalisme punya andil sangat besar. Neoliberalisme bertanggung jawab atas meningkatnya kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan ekonomi luar biasa, sebagai akibat dari praktik penghapusan subsidi, liberalisasi ekonomi, pemaksaan privatisasi, dan hilangnya peran negara.

Sudah saatnya semua komponen bangsa memahami situasi krisis ini, mencari akar persoalannya, dan mengambil solusi yang tepat untuk mengangkat kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Bagi organisasi massa maupun politik sudah asaatnya memajukan pengorganisasian serta memimpin perjuangan rakyat. Negara juga harus memenuhi kebutuhan darurat rakyat, kebutuhan pangan, sandang, papan yang murah, menyediakan lapangan pekerjaan yang layak, pendidikan dan kesehatan gratis. Jika pemerintah tetap abai terhadap persoalan ini, maka pengalaman tahun 1998 bukan tidak mungkin untuk terulang kembali.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut