FEMEN Dan Cita-Cita Revolusi Feminis

“Model jangan pergi ke rumah bordil,” teriak seorang aktivis perempuan dengan dada telanjang. Perempuan itu adalah Aleksandra Shevchenko, aktivis FEMEN, sebuah organisasi feminis di Ukraina.

Protes Oleksandra Shevchenko itu ditujukan kepada bintang papan atas dunia, Paris Hilton, saat menggelar konferensi pers di Kiev, Ukraina. Paris Hilton datang ke Kiev untuk menjadi juri kontes kecantikan.

FEMEN memprotes acara tersebut. Bagi aktivis Femen, bisnis model di Ukraina telah menjadi sarana menjual kecantikan.

Melawan Prostitusi

Alexandra Shevchenko, 24 tahun, bersama dua orang temannya, mendirikan Femen saat revolusi oranye menyapu Ukraina.

Partisipasi perempuan di Ukraina sangatlah rendah. Di parlemen, jumlah perempuan sangat sedikit. Sedangkan di pemerintahan hampir tidak ada sosok perempuan. Juga, hampir tidak ada kelompok yang berbicara soal hak perempuan di Ukraina.

Hampir 70% pendapatan perempuan Ukraina diperoleh dari laki-laki. Sekitar 80% pengangguran di Ukraina adalah kaum perempuan.

Keprihatinan terbesar yang memicu kelahiran Femen adalah maraknya prostitusi dan perdagangan perempuan di negara bekas Soviet itu. Suatu hari, aktivis Femen menggelar protes terhadap sebuah stasiun radio Selandia Baru. Pasalnya, stasiun radio itu mempromosikan wisata seks di sejumlah tempat di Ukraina.

“Ukraina bukan rumah bordil,” teriak 9 aktivis Femen dengan tampilan setengah telanjang.

Menurut Alexandra Shevchenko, sebagian besar perempuan Ukraina yang tinggal di kota besar punya hubungan dengan tempat prostitusi atau bisnis prostitusi. Penyebabnya, kata Alexandra, adalah biaya pendidikan dan biaya hidup yang terlalu tinggi.

Akibatnya, supaya bisa hidup normal, banyak perempuan Ukraina menopang hidup dari prostitusi dan bisnis seks lainnya. Terutama setelah krisis ini, pendapatan dari bisnis seks meningkat dua kali.

Lebih parah lagi, kata Alexandra, Presiden juga kerap mempromosikan prostitusi saat kunjungan keluar negeri. Di pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Presiden menganjurkan orang-orang untuk mengunjungi Ukraina saat musim semi, dimana perempuan mengurangi pakaiannya.

Aktivis Femen pernah menggelar protes di kampus. Mereka mengecam maraknya pelecehan seksual oleh para pengajar. Para dosen sering mengiming-imingkan nilai bagus dengan dua jalan: seks dan uang. Karena sebagian besar mahasiswi itu miskin, maka mereka memberikan seks.

Selain memprotes prostitusi, Femen juga berjuang melawan kediktatoran dan totalitarianism di Ukraina. Dengan ketiadaan demokrasi di Ukraina, kehidupan politik di negeri itu sangat anti-perempuan.

Di parlemen Ukraina, jumlah perempuan tidak melebihi 7%. Angka itu sangat rendah dibanding ketika Ukraina masih di bawah Soviet: 30-35%. Kejadian serupa juga terjadi di jabatan politik, kepemilikan perusahaan, dan lain-lain.

Metode Perjuangan

Metode perjuangan Femen sering dianggap kontroversial. Para aktivis Femen menggunakan tubuhnya sebagai senjata yang ampuh.

“Kami melakukan protes telanjang karena payudara adalah senjata kami,” kata Evgenia, 23 tahun, seorang artis yang menjadi aktivis Femen.

Aktivis Femen sering menulis tuntutan mereka di payudara. Metode itu cukup menarik perhatian dan tuntutan mereka terdengar.

Menurut Alexandra, yang membedakan Femen dengan kebanyakan feminis Eropa adalah metode perjuanganya.

“Mereka tidak menggunakan tubuh dan seksualitasnya sebagai senjata untuk mencapai tujuan dan tuntutan kaum perempuan,” katanya.

Femen punya anggota inti sebanyak 300 orang. Tetapi, tidak semua anggotanya dipaksa melakukan aksi semi-telanjang itu. Anggota-anggota tersebut dilibatkan pada aktivitas yang lain.

Femen pernah menggelar aksi saat Ukraina menjadi tuan rumah “Piala Eropa”. Di situ, aktivis Femen bukannya menolak perhelatan sepak bola tersebut, melainkan kecenderungan industri seks yang menyertainya.

Perjuangan Femen sudah memasuki konteks politik yang lebih luas. Organisasi feminis ini bertekad mengakhiri dominasi laki-laki dalam kehidupan politik.

Parlemen Ukraina, yang didominasi laki-laki, seringkali menyerupai arena tinju. Banyak perdebatan politik di parlemen berakhir dengan adu jotos.

“Kami ingin merebut kekuasaan dari laki-laki, membangun barikade, memulai perang dan menciptakan masyarakat matriarkhi untuk dunia yang lebih baik,” kata Alexandra menjelaskan tujuan politiknya.

Saat ini, Femen sedang memperjuangkan UU yang melarang bisnis seksual. Mereka juga memperjuangkan hukuman bagi mereka yang menghidupkan bisnis seksual dan perdagangan perempuan.

Tetapi, Femen tidak hanya berjuang di negerinya. Mereka juga berpartisipasi dalam berbagai protes di tingkat dunia: Occupy Wall Street, menentang pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, memprotes nuklir, dan lain-lain.

Selain itu, Femen juga punya kampanye menarik: rajin membaca buku. Mereka punya slogan: If you don’t read books, we’re not going to sleep with you!

Para feminis muda Ukraina ini bercita-cita mewujudkan sebuah revolusi feminis.

ANNA YULIA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut