FAM Unair Gelar Panggung Seni Keliling Untuk Menolak Kenaikan SP3

Pada tahun 1977, puisi “sajak sebatang lisong” dibacakan di tengah-tengah perjuangan mahasiswa melawan rejim orde baru. Kini, 34 tahun berlalu, puisi karya WS Rendra itu dibacakan mahasiswa Unair saat menolak kenaikan biaya pendidikan di kampusnya.

Puisi itu dibawakan dalam bentuk musikalisasi, dengan diiringi oleh petikan gitar, tabuhan jimbe, dan alunan irama biola. Aksi ini merupakan bagian dari “Panggung Seni Keliling” yang digelar oleh puluhan aktivis Front Aksi Mahasiswa (FAM) Unair.

Selain musikalisasi puisi, aktivis FAM Unair juga menyanyikan lagu-lagu seperti Halo-halo Unair, Berita cuaca, Surabaya oh Surabaya, Bangun Pemudi pemuda, dan Indonesia Tanah Air Beta. Aksi panggung ini dilakukan dengan berkeliling dan direncanakan berlangsung selama tiga hari.

Pada aksi hari pertama, Rabu (11/5), mahasiswa menggelar aksinya di sejumlah fakultas di kampus B Unair. Dan, sesuai dengan rencana, aksi ini akan dilanjutkan besoknya di kampus A dan C.

Menolak Skema Baru Kenaikan SP3

Beberapa saat sebelumnya, pihak pejabat Unair sudah menawarkan skema baru terkait kenaikan SP3 ini, yaitu dengan menerapkan sistim proporsional. Namun, skema baru ini dianggap mahasiswa sebagai taktik birokrasi Unair untuk mematahkan gerakan perlawanan.

Tidak hanya menerapkan skema baru, pejabat Unair juga memasang iklan secara besar-besaran di sejumlah media massa di Surabaya, bahwa Kampus Unair masih kampus rakyat karena menggratiskan biaya kuliah untuk anak keluarga miskin.

FAM Unair pun menuding langkah pejabat Universitas itu sekedar upaya membangun pencitraaan dan sekaligus untuk mematikan gerakan perlawanan. “Gerakan pencitraan tersebut, yang mungkin saja juga tidak gratis dan menyedot anggaran keuangan Unair itu, sedikit banyak memang telah meredam gerakan penolakan di kalangan mahasiswa dan masyarakat,” tulis FAM Unair dalam pernyataan sikapnya.

FAM Unair pun menceritakan sejumlah pengalaman sebelumnya, seperti ketika mahasiswa menolak sumbangan IKOMA, yang sebetulnya merupakan sumbangan sukarela tetapi tiba-tiba menjadi wajib. Rektor sempat membatalkan keputusan itu, tetapi kemudian berlaku lagi dan memaksa semua mahasiswa wajib membayar IKOMA.

Oleh karena itu, selain mahasiswa menolak kenaikan SP3 dengan skema apapun, mereka juga menuntut adanya transparansi keuangan di kampus terbesar di kota Surabaya tersebut.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut