FAM Unair Deklarasikan “Gerakan Gotong Royong Untuk Unair”

Puluhan aktivis FAM Unair mendeklarasikan sebuah gerakan yang disebut “Gerakan Gotong Royong Unair”. Pendeklarasian gerakan ini berlangsung di Prasasti penanda tempat kelahiran Bung Karno, di jalan Pandean IV/40, Surabaya, kemarin (11/6).

Menurut salah satu jurubicara aksi FAM Unair, Angela Sima Nariswari, gerakan “Gotong Royong” dimaksudkan untuk mengugah, mengundang serta mengajak segenap Keluarga Besar Unair supaya bergotong-royong menggalang dana guna menutup defisit anggaran keuangan seperti yang selama ini di klaim oleh para pejabat struktural Unair.

“Ini merupakan bentuk sindiran kepada pejabat Unair, yang sengaja mencari jalan pintas untuk mengurangi defisit dengan menaikkan biaya pendidikan, bukannya mencari alternatif lain yang tidak menyengsarakan rakyat,” kata mahasiswi Fakultas Kedokteran Unair ini.

Sedianya, kata Angela, gerakan ini juga akan dideklarasikan di kampus Unair mulai minggu depan. “aksi ami ini juga merupakan deklarasi awal dari Gerakan Gotong Royong untuk Unairyang akan kami gulirkan minggu depan kampus Unair,” katanya.

Bung Karno sendiri merupakan tokoh bangsa yang banyak mengembangkan konsep gotong-royong itu. Selain itu, bagi mahasiswa Unair, Bung Karno punya sejarah besar dengan kampus ini karena beliulah yang meresmikan kampus ini pada 10 November 1954.

Dalam aksinya, selain membentangkan spanduk penolakan kenaikan biaya pendidikan di kampus Unair, FAM Unair juga mementaskan musikalisasi puisi karya Hersri Setiawan yang berjudul “Tentang Kemerdekaan”.

Dalam pernyataan sikapnya, FAM Unair tetap pada posisinya: menolak kenaikan biaya pendidikan, termasuk skema baru yang ditawarkan pejabat rektorat Unair. Kebijakan itu, menurut FAM Unair, selain akan menyengsarakan mahasiswa dari keluarga miskin, juga dianggap sarat dengan intervensi asing.

“Kebijakan ini sarat dengan intervensi dari lembaga keuangan dan perdagangan Internasional, yaitu International Monetary Fund (IMF), Worl Bank, Asian Development Bank (ADB) dan World Trade Organization (WTO),” kata seorang orator dalam aksi itu.

Selesai menggelar aksinya di tempat itu, massa aksi juga melakukan kunjungan ke Rumah yang dulu menjadi saksi bisu kelahiran Bung Karno.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut