Ikhwanul Muslimin Dan Akar Rumput

Mohamed Mursi, kandidat dari Partai Ikhwanul Muslimin (IM), terpilih sebagai Presiden Mesir. Ia menyingkirkan Ahmad Shafiq, bekas penguasa di era Mubarak dan banyak disokong oleh pengusaha pro-Mubarak.

Bagi sebagian orang, kemenangan Mursi tidak memberi arah positif bagi masa depan revolusi Mesir. Maklum, Ikhwanul Muslimin—partainya Mursi—bukanlah partai progressif. Orang menganggap partai ini sangat reaksioner dan anti-buruh. Sudah begitu, partai ini punya rekam jejak pernah “berselingkuh” dengan imperialis untuk melawan Nasserisme.

Aku tak membantah kenyataan itu. Namun, tulisan ini hendak memotret sisi yang lain: pengalaman Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan politik. Celaka, aku bisa dianggap “murtad” karena menulis tentang organisasi reaksioner ini. Cap “oportunis” sebentar lagi dituduhkan kepadaku. Ah, abaikan saja! Ikuti kata pepatah saja: Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Kemenangan IM adalah bayaran setimpal untuk sejarah mereka. Sejarah panjang partai ini juga pernah diwarnai oleh represi dan ejekan. Pendiri partai ini, Hassan al-Banna, dibunuh oleh agen negara pada tahun 1949. Salah satu pemikir terbesarnya, Sayyid Qutb, digantung oleh Nasser pada tahun 1996. Banyak kader lainnya yang pernah dipenjara. Mohamed Musri salah satunya.

Meski begitu, perjuangan politik IM tak goyah. Meskipun punya intelek radikal sekelas Sayyid Qutb, yang menganjurkan perjuangan bersenjata melawan “kafir”, namun IM tetap memilih garis politik lain: kombinasi ekstra-parlementer dan parlementer.

Awalnya, IM tak berminat untuk maju dalam pemilu presiden. Namun, masa depan pertarungan politik berbagai kekuatan di Mesir—militer, pendukung mubarak, dan sekuler—belum menentu. IM sadar betul bahaya di depan mata: militer (SCAF)—melalui Mahkamah Konstitusi—bisa membubarkan parlemen. Padahal, seperti kita ketahui, IM mendominasi parlemen Mesir saat ini. IM harus ambil bagian untuk menciptakan ruang politik yang menguntungkan.

IM pun terjun dalam pemilu. Mereka mengajukan seorang kader tangguh, Khairat El Shater, sebagai capres. Sayang, Khairat dinyatakan didiskualifikasi karena faktor teknis. Akhirnya, IM mengajukan pilihan kedua: Mohamed Mursi.

Apa yang membuat IM bisa memenangkan pemilu?

Pertama, IM berkembang sebagai organisasi politik yang paling berdisiplin. Orang tidak bisa memungkiri kedisiplinan anggota IM—agak mirip dengan kedisiplinan kader-kader PKS di Indonesia. Bagi masyarakat awan sederhana saja, organisasi ini sukses memperlihatkan tradisi kepemimpinannya.

Dan Mesir, negeri yang sedang terpolarisasi itu, butuh dipimpin oleh organisasi yang punya tradisi disiplin dan berpengalaman memimpin. Di situlah IM dianggap penting bagi sebagian besar rakyat Mesir.

Kepemimpinan IM juga menarik: sebagian besar pemimpinnya adalah intelektual dan kalangan profesional. Mohamed Mursi sendiri meraih doktor bidang teknik material pada University of Southern California pada 1982. Sedangkan sebagian besar basis massanya adalah klas menengah dan borjuis kecil. Sebagian besar tinggal di pedesaan sebagai petani.

Kedua, IM dianggap sangat dekat dengan massa-rakyat alias akar-rumput. Dan, saya kira, inilah aspek paling kunci dibalik kemenangan IM di Mesir. Bayangkan, awalnya banyak orang yang meragukan kapasitas Mursi. Ia kurang dikenal dan tidak begitu kharismatik. Namun, kenyataan membuktikan, organisasi politik-lah yang membuat Mursi tampil sebagai pemenang.

Soal “dekat dengan rakyat” inilah yang menarik untuk dibahas. Mesir, seperti juga Indonesia, adalah korban kebijakan neoliberal. Salah satu dampak neoliberalisme di Mesir adalah meluasnya “sektor informal”. Catatan menunjukkan, sektor informal merupakan mata pencaharian separuh lebih (60%) rakyat Mesir. Sedangkan sektor informal di Indonesia mencapai 70%.

Negara-negara Teluk sendiri tak berminat mendukung pembangunan di negara-negara Arab, termasuk Mesir. Mereka sangat pelit untuk memberi bantuan untuk investasi industri. Mereka mendukung apa yang disebut oleh Andre Gunder Frank sebagai bentuk “pembangunan lumpen”. Mereka puas melihat rakyat Mesir terpenjara dalam kemiskinan dan pengecualian. Sebab, dengan begitulah politik reaksioner bisa dijaga di masyarakat.

IM sangat pandai memanfaatkan keadaan ini. IM punya banyak kegiatan amal yang bersentuhan langsung dengan rakyat. IM mendirikan rumah sakit dan apotik yang melayani rakyat miskin di seantero negeri. IM juga memberikan layanan pendidikan gratis kepada rakyat miskin. Satu lagi yang penting: IM memberi kredit mikro kepada rakyat yang sebagian besar bergantung pada sektor informal.

Dengan begitu, ikatan IM dengan massa bersifat “organik”. IM tidak mendekati massa secara musiman: pada momentum pemilu saja. Selain itu, pengalaman IM mengelola badan amal ini membuat rakyat sangat terkesan. Bagi rakyat, aktivis-aktivis IM sudah teruji menjalankan aktivitas sosial.

Meski demikian, banyak yang mencibir praktek IM ini. Ah, kata mereka itu, IM menggunakan cara itu untuk “menyuap pemilih”. Tapi, tak terbantahkan, cara itulah yang membuat IM sanggup menancapkan pengaruhnya di dalam rakyat.

Tapi, ya, pembangunan badan amal ala IM itu membutuhkan anggaran besar. Entah dari mana IM mendapat anggaran sebesar itu. Adakah dana itu didapatkan dari “Paman Sam” ataukah dari “raja-raja minyak” di Timur Tengah?

Kaum liberal bisa mencemooh IM partai fundamentalis. Sudah begitu, sebagian besar anggotanya adalah “kampungan”. Tapi, dengan keunggulan mereka di parlemen dan sekarang berkuasa sebagai Presiden, kaum liberal harus mengakui keunggulan IM mempengaruhi rakyat Mesir.

Kusno, Anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut