“Enam Djam Di Djogja”

Enam Djam di Djogja
Sutradara: Usmar Ismail
Tahun Produksi: 1950
Pemeran : Del Juzar, R Sutjipto, Aedy Moward
Distributor Perfini

Bunyi sirine bersahutan-sahutan. Bendera kebangsaan Belanda tampak dinaikkan di bandara udara Maguwo, Jogjakarta. Kendaraan lapis baja kuno terlihat berputar-putar mengelilingi tugu. Itulah suasana kota Jogja, di tahun 1949, ketika baru saja diduduki Belanda.

Suasana itu dipergunakan oleh Usmar Ismail, sang sutradara film “Enam Djam Di Djogja”, untuk menggambarkan suasana Ibukota Republik Indonesia kala itu. Kota begitu lengan. Hanya truk dan kendaraan lapis baja Belanda yang berseliweran.

Lalu, di sebuah rumah yang tak jauh dari markas Belanda, seorang pemuda sedang menyusun gerakan bawah tanah. Pemuda itu bernama Mochtar, seorang wartawan yang meninggalkan pekerjaannya demi revolusi. Mochtar sendiri hanya “ngontrak” di rumah itu. Tetapi yang punya rumah setuju jika rumahnya dijadikan “markas pergerakan”.

Pada bagian lain, dikisahkan tentang perlakuan tentara atau “orang-orang Belanda” terhadap rakyat Indonesia. Tidak jarang mereka diperlakukan kasar, bahkan seringkali dilecehkan. Uniknya, dalam film garapan Usmar Ismail itu, tidak jarang tangan-tangan kasar itu adalah orang-orang Indonesia sendiri yang sudah membelot kepada Belanda.

Film ini menceritakan kesulitan rakyat di dalam kota Djogja. Maklum, gara-gara pendudukan Belanda, pasokan makanan pun menjadi berkurang. Aktivitas ekonomi pun menjadi lumpuh. Rakyat hidup dalam kesulitan. Kopi dibuat tanpa gula.  Untuk makan, orang harus jual pakaiannya.

Tidak sedikit yang goyah iman Republiknya, lalu membelot dan menjadi “penjilat” Belanda. Ada yang menjadi polisi Belanda. Seperti seorang pemuda gemuk yang digambarkan dalam film itu. Ada pula yang akhirnya menjadi pegawai atau bekerja pada orang-orang Belanda.

Tetapi lebih banyak yang berlawan. Diantara mereka, umumnya pemuda dan pemudi, bergaul dengan rakyat banyak, mencari informasi, dan mengirimkannya kepada kelompok gerilya di luar kota. Mereka telah mengorbankan jiwa-raganya kepada Republik.

Tetapi ada yang menarik dalam film ini. Sekalipun sutradara mencoba mengangkat semangat revolusioner dan patriotisme, tetapi ia berusaha menggambarkan pahlawan bukan berarti tanpa kekurangan. Misalnya: digambarkan kelompok gerilyawan yang memerasa barang-barang milik rakyat. Situasi itu memang sulit untuk dihindarkan. Dalam film itu, digambarkan pula tentang barang yang sangat berharga: rokok, terutama rokok Amerika.

Usmar Ismail membuat film itu pada tahun 1950, hanya setahun setelah kejadian sebenarnya: Serangan Umum Satu Maret 1949. Oleh karena itu, setting lokasi dan keadaan saat peristiwa tidaklah berbeda jauh dengan saat pembuatan film.

Selain itu, keunggulan film ini adalah ia mengangkat tokoh-tokohnya dari kalangan pejuang rakyat jelata. Nama Soeharto, orang yang di dalam buku sejarah nasional disebut-sebut memimpin serangan itu, tidak disebut menonjol dalam film itu. Yang ada hanya ngarsa dalem (Kraton Djogja).

Ada tiga film yang berusaha mengangkat kisah “Serangan Umum Satu Maret itu”: Enam Djam Di Djogja (1950), Serangan Fajar (1981), dan Janur Kuning (1979). Dalam film “Janur Kuning”, kita akan menemukan sosok tokoh besar seperti Soeharto, Jenderal Soedirman, dan Amir Machmud.

Ada kontroversi mengenai serangan 1 maret ini: siapa inisiatornya? Dalam film “Janur Kuning”, yang dibuat di era kekuasaan Orde Baru, “Soeharto” ditonjolkan sebagai inisiator dan pelaku utama serangan ini. Buku-buku sejarah nasional di jaman Orde Baru juga mengambil alur dan cara pandang yang sama.

Tetapi, setelah Soeharto tumbang, kontroversi pun mencuat. Sebagian menyebut, Hamengku Buwono IX (HB IX) yang merupakan inisiator serangan ini. Konon, HB IX rajin menyimak siaran luar negeri, termasuk perkembangan berita soal Indonesia di PBB dan sidang-sidang di Lake Success, Amerika Serikat.

Ada yang menarik dari film garapan Usmar Ismail ini: ada peran saling mengisi antara strategi perjuangan bersenjata dan strategi perundingan. Jelas, jika menyimak dialog-dialog para pejuang dalam film itu, target serangan umum adalah menunjukkan “eksistensi Indonesia” di dunia internasional dan memudahkan wakil Indonesia di Lake Success, Amerika Serikat.

Film jadul ini memang menarik. Hanya saja, karena usianya sudah terlalu tua, maka kualitas gambarnya pun mulai berkurang. Ada bunyi “kresek” yang terkadang cukup mengganggu telinga. Sekalipun begitu, saya merasa hal itu tidak terlalu mengurangi kualitas dan mutu film itu.

[youtube]MDXJGk5DFRQ[/youtube]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut