Ekonomi Jeblok, Pedagang Kecil Gulung Tikar

Jebloknya perekonomian nasional tidak hanya menggerus penjualan industri besar yang berujung pada PHK. Hal ini juga membawa dampak besar bagi kalangan usaha mikro dan kecil. Mereka banyak yang gulung tikar lantaran daya beli masyarakat merosot tajam.

“Selama delapan tahun jualan, baru kali ini saya merasakan sepi pembeli, sampai saya harus berhenti jualan karena modal habis,” kata Udin, 37, pedagang mi ayam yang biasa beroperasi di seputaran Jalan Imam Bonjol, Denpasar, Bali Jumat (11/12/2015).

Dia mengatakan, sejak adanya pelemahan ekonomi, dagangan mi ayamnya tidak pernah habis. Kala kondisi masih normal, dia bisa jualan sampai Rp 250 ribu dalam sehari dengan keuntungan sekitar Rp 100 ribu. Tapi, dalam tiga bulan ini hanya bisa menjual antara Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu dalam sehari. Padahal, mi ayam jualannya hanya bisa bertahan dua hari. Lewat dari itu, maka sudah kedaluwarsa alias menjadi basi.

“Kalau sudah dua hari gak habis juga, ya dibuang. Modal saya jadi ludes,” terangnya.

Udin mengatakan, kondisi ini terjadi lantaran orang yang membeli berkurang drastis. Langganannya yang biasa datang membeli, tidak datang lagi. Karena tiga sangat sepi, Udin pun akhirnya mengibarkan bendera putih. Menyerah karena tidak ada modal lagi.

“Bahkan, untuk makan sehari-hari pun saya susah. Untuk bayar sewa kos pun gak punya. Saya sampai diusir pemilik kos karena telat membayar sewa kos,” aku Udin yang kini pindah kos ke Jalan Mahendradatta karena di sana ada kos yang lebih murah.

“Di kos yang baru pun saya baru bayar separonya. Itu pun uang dapat minjem dari keluarga. Saya sampai sedih melihat anak-anak makan begitu lahap karena beberapa hari ini makan gak teratur,” aku pria kelahiran Banyuwangi ini.

Karena mempesiunkan rombong (gerobak) mi ayamnya, Udin pun mencari pekerjaan lain. Kini, dia menjadi tukang jasa parkir di Jalan Teuku Umar Barat (Marlboro) untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Jadi tukang parkir, katanya, risiko usahanya hampir tidak ada.

“Hari pertama jadi tukang parkir pun saya gak punya uang sepeserpun. Untuk beli lipri (peluit) pun saya minta ke temen tukang parkir Rp 2000, susuk Rp 1000 jadi modal awal saya,” tutur bapak dua anak ini.

Hal senada diungkapkan Iqbal, 29. Pedagang angkringan yang mangkal di Jalan Imam Bonjol ini pun mengakui dagangannya tidak pernah habis sejak ekonomi nasional anjlok. Bila sebelum “krisis” bisa beromzet Rp 250 ribu, kini hanya Rp 100 ribu per hari. Bahkan, ramainya hanya malam Minggu.

“Enam hari dalam seminggu sepi sekali. Saya dulu bawa nasi 20 bungkus, sekarang cuma bawa 10 bungkus. Itu pun gak habis,” katanya.

Bahkan, sudah dua minggu ini dia berhenti sementara membuka angkringannya. Saat ini dia memilih pindah ke jasa ngojek karena risiko usahanya lebih kecil.

Taufik, 32, pedagang bakso di Tabanan, juga mengaku omzetnya anjlok. Sebelum merasakan “krisis”, dia bisa selip daging bakso sampai 8 kilogram. Kini, separonya saja tidak habis.

“Buat makan sehari-hari saja susah. Belum lagi bayar sewa kos. Saya sampai jual sepeda motor karena modal habis,” terangnya.

Baik Udin, Iqbal maupun Taufik, mereka berharap segera ada perbaikan ekonomi. Dia menuntut pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. Di antaranya, memibta pemerintah tidak menaikkan harga listrik, BBM dan lainnya lagi.

“Sekarang saja tarif listrik yang berdaya 1300 dan 2200 VA sudah naik. Tahun 2016 katanya ada pengurangan subsidi listrik lagi. Jelas, ini akan menggerus daya beli masyarakat yang ujungnya jelas akan membuat usaha kecil bangkrut karena gak ada yang membeli,” kata Iqbal. (*)

Urip Mahardika

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut