Parpol Makin Terpisah Dari Rakyat

Selasa, 7 Agustus 2012 | 1:01 WIB 0 Komentar | 236 Views

Parpol-pemilu 2014

Ada hal menarik dari jajak pendapat Kompas  tentang partai politik. Sebetulnya, beberapa hal yang dibahas jajak pendapat itu sudah sering dibahas oleh publik. Kompas hanya menegaskan hal-hal tersebut dan melengkapinya dengan data-data.

Jajak pendapat Kompas, yang digelar 1-3 Agustus 2012, menyebutkan, tiga dari empat respon menganggap tidak ada satupun parpol di parlemen saat ini yang cukup cekatan merespon persoalan rakyat. Kalaupun direspon, kata jajak pendapat itu, maka parpol sekedar menggunakannya sebagai “komoditas politik”.

Jajak pendapat juga menyimpulkan, parpol makin jarang terjun langsung ke tengah-tengah rakyat. Hampir semua respon mengaku tidak pernah menjumpai kegiatan parpol di tengah rakyat. Tiga dari empat responden mengaku tidak pernah melihat aktivitas parpol di wilayah mereka yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat.

Responden juga menemukan inkonsistensi antara slogan parpol dengan realisasinya di tindakan. Partai Demokrat, misalnya, yang mendengunkan slogan “Katakan Tidak Pada Korupsi” pada pemilu 2009 lalu, ujung-ujungnya punya banyak kader dan pembesar partai yang tersangkut kasus korupsi.

Begitu juga Golkar, yang punya slogan “Suara Rakyat Suara Golkar”. Bagi sebagian besar responden (64,9%), langkah dan tindakan partai pohong beringin itu belum sejalan atau sesuai dengan slogannya.

Namun, jajak pendapat Kompas juga menegaskan, parpol masih punya peluang untuk merebut kembali hati rakyat. Ada lima kunci yang ditawarkan di sini: sosok atau pemimpin parpol, program partai, ideologi, dan soliditas partai. Yang menonjol saat ini, dalam konteks politik kita, adalah sosok atau pemimpin partai.

Dari jajak pendapat Kompas itu, ada beberapa hal yang patut disimpulkan mengapa dukungan atau kepercayaan rakyat terhadap parpol makin menciut.

Pertama, partai politik sengaja meninggalkan rakyat. Parpol tidak pernah membuat kegiatan di tengah-tengah rakyat. Kalaupun ada kegiatan, biasanya menjelang “hajatan pemilu/pilkada”. Itupun, kalau sudah selesai hajatan politik itu, maka parpol akan segera memunggungi rakyat.

Kedua, Parpol juga jarang merespon persoalan rakyat. Coba sebutkan, adakah parpol yang hadir ketika kaum buruh menggelar pemogokan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, atau ketika petani mempertahankan tanahnya, atau saat rakyat miskin mempertahankan rumah dan pemukimannya dari penggusuran. Tidak jarang parpol berdiri di barisan para penindas rakyat itu.

Parpol melihat rakyat hanya sebatas “konstituen” belaka. Dan, karena cara pandang itu, persinggungan parpol dan rakyat pun sebatas pada momentum pemilu atau pilkada. Parpol tak menyadari fungsinya sebagai alat perjuangan politik massa-rakyat.

Ketiga, inkosistensi parpol dalam menjalankan slogan dan janji-janji politiknya. Kalau kita melihat iklan-iklan parpol di media massa, hampir semua partai mengesankan dirinya sebagai pembela rakyat. Mereka juga mengesankan diri sebagai penentang korupsi dan segala bentuk suap.

Kita juga sering melihat, parpol begitu gampang menghamburkan janji-janji politik, namun tidak pernah konsisten menjalankannya. Tidak sedikit pula kontrak politik yang berakhir dengan kata-kata di atas kertas belaka. Tidak salah kemudian, politisi sering diidentikkan dengan kebohongan.

Keempat, parpol tidak punya ideologi perjuangan yang jelas. Jelas, dari jajak pendapat Kompas itu, terlihat kerinduan rakyat akan hadirnya parpol ideologis. Setidaknya ini obat penawar terhadap menguatnya pragmatisme dan oportunisme.

Kita lihat, hampir semua partai mengklaim sebagai nasionalis, namun tak satupun yang berteriak lantang menentang imperialisme. Tak satupun partai yang menggugat kekayaan alam kita yang terus tersedot ke peti-peti kekayaan perusahaan asing. Tidak satupun yang berani mempersoalkan puluhan UU yang merugikan kepentingan nasional.

Wibawa parpol makin merosot. Maka, jangan heran, rakyat pun mulai beralih pada figur tertentu. Pilkada DKI Jakarta membuktikan hal itu. Kekuatan figur begitu memikat dan sanggup membangkitkan harapan rakyat. Sedangkan partai sebagai mesin politik nyaris tak berfungsi. Inilah tantangan partai kedepan: mereka harus kembali ke tengah-tengah rakyat atau ditinggalkan selamanya oleh rakyat!

Tags: , , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :