16 Tahun PRD: Penemuan Kembali Jalannya Revolusi Kita

Minggu, 22 Juli 2012 | 10:39 WIB 0 Komentar | 567 Views

PRD-karikatur

16 tahun yang lalu, tepatnya 22 Juli 1996, Partai Rakyat Demokratik (PRD) dideklarasikan. Kelahiran PRD, seperti disebutkan dalam “Manifesto tahun 1996”, merupakan jawaban atas kebekuan dan kebuntuan dari alat-alat politik ekstra parlementer saat itu. Maklum, satu-satunya sandaran untuk perubahan saat itu adalah aksi massa alias ekstra-parlementer.

Ditegaskan pula dalam Manifesto 1996, PRD berjuang untuk demokrasi. Tetapi demokrasi seperti apa? Jelas sekali disebutkan, PRD memperjuangkan demokrasi yang menempatkan “kedaulatan rakyat” dalam kehidupan ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Dengan demikian, yang diperjuangkan PRD bukan sekedar demokrasi politik semata, tetapi juga demokrasi di lapangan ekonomi dan budaya.

Panji-panji “kedaulatan rakyat” yang dikibarkan PRD tidaklah berbeda jauh dengan cita-cita pendirian Republik Indonesia: masyarakat adil dan makmur. Cita-cita itu tidak mungkin terwujud jikalau dirintangi oleh kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Untuk itu, indonesia merdeka harus berlandaskan pada sistem demokrasi yang sejalan dengan cita-cita masyarakat adil-makmur, yaitu sosio-demokrasi alias demokrasi-kerakyatan, sebuah demokrasi yang menggabungkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Cita-cita itulah yang membuat rakyat Indonesia berjuang mati-matian dalam “Revolusi Agustus” untuk mempertahankan Republik dari serbuan kolonialisme dan imperialisme. Dan cita-cita itu pula yang menyemangati perjuangan politik PRD, berikut pengorbanan kader-kadernya, untuk menggulingkan rezim orde baru yang menghianati kedaulatan rakyat. Cita-cita itu pula yang menyadarkan kader-kader PRD, bahwa perjuangan menggulingkan rezim orde baru hanyalah pembuka menuju perjuangan menegakkan masyarakat adil dan makmur.

Kongres PRD ke-VII pada tahun 2010 itu sangat berjasa dalam mengantarkan PRD memahami tugas sejarahnya. Kongres VII menyimpulkan bahwa problem pokok bangsa Indonesia saat ini adalah imperialisme. Imperialisme itu terkadang dibungkus dengan jubah “Neoliberalisme”. Kongres juga merumuskan bahwa azas politik yang relevan untuk memimpin perjuangan, yang sesuai dan berpijak di atas bumi Indonesia, adalah Pancasila. Di sini, Pancasila yang jadi acuan PRD adalah pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Intinya PRD menyadari, perjuangan menumbangkan kapitalisme harus diletakkan pada situasi kongkrit di masing-masing negeri.

Kongres VII PRD memutuskan soal “party-building” sebagai tugas pokok untuk memastikan partai bisa mengemban tugas sejarahnya. Untuk melaksanakan tugas party building itu, PRD telah menyebar kadernya ke seantero negeri untuk membangun struktur partai dan merekrut massa rakyat seluas-luasnya untuk bergabung dengan partai. Bersandar pada “kekuatan rakyat” sebagai tenaga pokok perubahan sangat sejalan dengan manifesto PRD 1996: Untuk mencapai kekuatan arah cita-cita masyarakat yang demokratik tersebut harus dicari kekuatan pendorong untuk mencapainya di tengah-tengah rakyat itu sendiri.

Lalu, pada Manifesto PRD tahun 2010 ditegaskan, dua metode yang menggerakkan massa-rakyat dalam perjuangan pembebasan nasional, yaitu  massa aksi dan membangun kekuasaan (macthvorming). Masa aksi adalah aksinya rakyat jelata yang, karena timpukan penindasan yang sudah tak tertahankan, menjadi sadar dan berkehendak membuat perubahan radikal. Sedangkan macthvorming diterangkan dengan sangat jelas dalam Manifesto PRD: “Macthvorming, atau menyusun kekuatan, merupakan capaian dialektis dari massa aksi. Dalam metode macthvorming terkandung prinsip kewenangan atas ruang untuk berpropaganda dan mengorganisasikan kekuatan politik yang konsisten berpihak pada kepentingan rakyat. Proses macthvorming ini dapat dilakukan melalui intervensi ruang-ruang elektoral, atau celah politik lainnya dalam demokrasi borjuis saat ini. Macthvorming juga dilakukan dengan mendorong bentuk demokrasi partisipatoris, yaitu demokrasi yang melibataktifkan rakyat dalam mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan masalah-masalahnya.”

Satu hal penting lagi: PRD menyadari bahwa perjuangan pembebasan nasional itu hanya bisa dicapai dengan front anti-imperialisme seluas-luasnya. Aliansi ini menghimpun seluruh seluruh kekuatan anti-imperialis dalam negeri (nasionalis, agamais, dan sosialis) dan sektor-sektor sosial yang selama ini turut dikorbankan oleh neoliberalisme.

Sudah 16 tahun PRD menapaki jalan perjuangan itu. Tak sedikit rintangan yang berusaha menghentikan langkah itu. Namun, berkat keteguhan pada cita-cita masyarakat adil dan makmur, PRD tetap konsisten sampai hari ini. PRD menganggap perjuangannya sebagai bagian dari tugas sejarah: mewujudkan masyarakat adil dan makmur tanpa penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa.

Tags: , , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :