Dilema Produksi Gula Nasional

Kamis, 5 Juli 2012 | 1:30 WIB 1 Komentar | 177 Views

Karikatur-impor gula

Kita pernah berjaya dalam produksi gula. Pada tahun 1930-an, produksi gula kita mencapai 3 juta ton. Itu diproduksi oleh 179 pabrik gula. Indonesia, saat itu masih bernama Hindia-Belanda, merupakan salah satu eksportir gula terbesar di dunia.

Tetapi cerita tentang ‘produksi gula’ tinggal pelipur lara. Produksi gula nasional terus menurun. Sedangkan kebutuhan gula nasional makin meningkat. Pada tahun 2011, produksi gula nasional hanya 1,361 juta ton. Padahal, tahun sebelumnya masih sebesar 1,382 juta ton.

Kita sangat pantas prihatin akan masalah ini. Gula menjadi bagian dari sembilan bahan kebutuhan pokok rakyat. Artinya, jika pemerintah gagal menjamin ketersediaan gula secara nasional, maka rakyat tentu saja akan mengalami kesulitan. Seperti kejadian yang sering ditayangkan di TV: rakyat menjerit karena naiknya harga gula.

Produksi gula nasional sendiri terhimpit banyak masalah. Beberapa diantaranya berhubungan langsung dengan kebijakan perekonomian nasional. Jika pemerintah tak kunjung membenahi, maka bisa dipastikan target swasembada gula nasional pada 2014 akan mengalami kegagalan.

Pertama, penyusutan lahan untuk perkebunan tebu. Pada tahun 2007, luas lahan perkebunan tebuh mencapai 301 ribu hektar. Lalu, pada tahun 2010, luasnya menurun hingga  285.779 hektar. Dan pada tahun 2011 ini tinggal seluas 282.349 hektar.

Keterbatasan lahan ini juga berpengaruh pada tingkat produksi. Ditambah lagi, karena ketiadaan penemuan varietas baru yang unggul, maka produktivitas tebu per-hektarnya juga semakin menurun.

Kedua, pertanian tebu tak lagi sanggup mengangkat kesejahteraan kaum tani. Akibatnya, banyak petani meninggalkan profesinya sebagai petani tebu. Bahkan, banyak lahan perkebunan tebu berubah fungsi menjadi lahan pertanian padi.

Maklum, harga gula dan harga tebu sekarang tak jauh berbeda. Padahal, kuantitas tenaga kerja yang diperlukan sangat berbeda: pertanian padi hanya membutuhkan waktu rata-rata tiga bulan, sedangkan pertanian tebu memerlukan waktu 16 bulan.

Ketiga, pabrik atau industri gula kita tidak bisa bekerja maksimal. Pada tahun 2011, misalnya, ada 52 pabrik gula milik BUMN yang masih tersisa, tetapi hanya 20 pabrik yang kondisinya masih baik. Sisanya, 32 pabrik, kondisinya sangat buruk.

Problem pokoknya: hampir semua pabrik itu mengandalkan mesin tua dan teknologi yang sudah ketinggalan zaman. Kabarnya, kapasitas produksi pabrik gula di Indonesia hanya 3500 ton tebu perhari.

Kondisi ini menyebabkan rendahnya rendemen (perbandingan kadar gula terhadap berat tebu giling) Indonesia. Untuk diketahui, rata-rata pabrik gula di Indonesia menghasilkan rendemen sebesar 6%-7%. Ini angka yang sangat rendah. Bandingkan dengan pabrik gula di Thailand yang rendemennya bisa 11%-12%.

Keempat, kebijakan pemerintah mengimpor gula turut memukul petani tebu dan industri gula nasional. Maraknya impor gula menyebabkan petani tebu dan industri gula di dalam negeri terus merugi.

Selain itu, petani tebu dan industri gula juga dirugikan oleh melubernya gula rafinasi ke pasaran. Belum lagi, sudah berdiri sejumlah pabrik gula rafinasi. Pabrik gula rafinasi ini mengolah atau memutihkan gula mental (raw sugar). Ini membawa dampak buruk pada petani tebu. Sebab, industri itu tidak berbasiskan pada bahan baku tebu yang dihasilkan oleh jutaan petani.

Kelima, minimnya dukungan modal bagi pertanian tebu dan industri gula. Ini menghambat kemampuan petani untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi. Selain itu, pencabutan subsidi pupuk juga berpengaruh pada produksi tebu petani.

Pemerintah harus mengatasi segala hal itu. Pemerintah harus segera menghentikan liberalisasi impor gula. Selain itu, perlu pembangunan dan modernisasi pabrik gula nasional. Pada aspek lain, penting juga untuk memaksimalkan perbaikan varietas tebu, optimalisasi waktu tanam, pupuk berimbang, pengendalian organisme pengganggu, perbaikan sistem tebang dan pengangkutan.

Tags: , ,

  • ArisTo

    Sekedar koreksi, info luas area tebu yang disebutkan kurun 2007 hingga 2011 kurang akurat karena seharusnya antara 350-430 ribu ha. Area tebu sesungguhnya tidak mengalami penyusutan, hanya terjadi pergeseran dan dinamika area yang berkorelasi dengan harga gula di tingkat petani. Tks

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :