Menggugat Hari Pers Nasional

Kamis, 9 Februari 2012 | 1:35 WIB 2 Komentar | 303 Views

medan-prijaji

Hari ini, 9 Februari 2012, Presiden SBY dan sejumlah tokoh pers akan memperingati Hari Pers Nasional (HPN) di Jambi. Sejumlah pejabat negara, tokoh-tokoh pers, dan ribuan tamu undangan akan memeriahkan peringatan tersebut.

Penetapan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional diputuskan melalui Surat Keputusan Presiden No. 5/1985. Jadi, secara resmi, peringatan Hari Pers Nasional baru dimulai pada tahun 1985. Padahal, geliat pers nasional sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu.

Penetapan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional cukup kontroversial. Ada beberapa alasan mengapa penetapan Hari Pers Nasional perlu digugat.

Pertama, penetapan Hari Pers Nasional diputuskan melalui SK yang dikeluarkan oleh rejim Soeharto. Pengusul tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional adalah seorang tokoh orde baru, Harmoko, yang saat itu menjabat ketua PWI Pusat.

Penetapan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional sarat dengan kepentingan penguasa saat itu. Selain itu, rejim orde baru punya rekam jejak anti kemerdekaan pers. Sejak 1965 hingga 1998, rejim orde baru berkali-kali membredel media massa.

PWI sendiri adalah satu-satunya organisasi pers yang diakui pada masa orde baru. Dengan demikian, penetapan hari lahir PWI sebagai Hari Pers Nasional hanya akan memperpanjang ketaklukan dunia pers terhadap kekuasaan.

Kedua, penetapan Hari Pers Nasional mengacu pada kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 9 Februari 1946. Akan tetapi, dalam sejarah Indonesia, PWI bukanlah organisasi wartawan pertama di Indonesia.

Jauh sebelumnya, yakni pada jaman pergerakan anti-kolonialisme, para jurnalis dan aktivis sudah membentuk organisasi wartawan. Pada tahun 1914, Mas Marco Kartodikromo sudah mendirikan Inlandsche Journalisten Bond (IJB).

Organisasi wartawan lain sebelum PWI adalah Sarekat Journalists Asia (1925), Perkumpulan Kaoem Journalists (1931), dan Persatoean Djurnalis Indonesia (1940).

Ketiga, penetapan Hari Pers Nasional, yang mengacu pada kelahiran PWI (1946), terkesan mengabaikan andil para perintis pers Indonesia dan sejarah panjang perjuangan pers nasional Indonesia.

Taufik Rahzen, yang cukup lama meneliti soal sejarah pers nasional, mengusulkan tanggal penerbitan pertama Medan Priayi, koran pribumi pertama yang dinahkodai oleh Tirto Adhi Suryo, sebagai tonggak sejarah Hari Pers Nasional: 1 Januari 1907.

Takashi Shiraishi, penulis buku “Zaman Bergerak”, menyebut Tirto sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui tulisan. Tidak hanya itu, berkat kepandaian menulis dan ketajaman fikiran, Tirto juga perintis model perjuangan nasional modern: koran dan organisasi.

Akan tetapi, versi lain juga menyebutkan bahwa Medan Priayi bukanlah koran nasional yang pertama. Di Sumatera, sejumlah koran berbahasa Melayu, yang juga digawangi oleh kaum pribumi, sudah terbit. Selain itu, jika ukurannya adalah orang pribumi dan bahasa Melayu, maka kiprah Abdul Rivai tidak dapat diabaikan. Pada tahun 1900, Abdul Rivai sudah menerbitkan koran berbahasa melayu, Pewarta Wolanda. Lalu, pada tahun 1902, Abdul Rivai kembali menerbitkan koran berhasa Melayu: Bintang Hindia.

Sementara itu, kalau kita mencari jejak sejarah pers pertama kali di Indonesia, maka 160-an tahun sebelum Medan Priayi sudah ada koran di tanah Hindia-Belanda: Bataviasche Nouvelles. Koran ini terbit di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1744-1746.

Kita perlu menetapkan kembali Hari Pers Nasional yang baru. Dengan begitu, peringatan Hari Pers Nasional tidak lagi menjadi seremoni elit di kalangan tokoh pers dan pejabat negara.  Hari Pers Nasional harus ditetapkan sesuai dengan patokan sejarah pers nasional yang benar.

Kami sendiri mengusulkan agar Hari Pers Nasional mengacu pada sejarah kelahiran Medan Priayi dan kemunculan tokoh Tirto Adhi Suryo. Pasalnya, peranan Tirto Adhi Suryo sangat kuat dalam kebangkitan pergerakan nasional. Terlebih lagi, sejarah pers nasional tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan anti-kolonialisme.

Tags: , , , ,

  • http://www.samdiaspora.blogspot.com sam

    Saya sependapat dengan artikel ini. Seharusnya kelahiran pers nasional itu ditandai dengan terbitnya Medan Prijaji tgl 1 Januari atau tgl 31 Desember saat pertama MP dikerjakan untuk diterbitkan.

  • http://www.facebook.com/peterapollonius.rohi Peter Apollonius Rohi

    1) Pewarta Wolanda ditujukan kepada masyarakat intelektual terutama bagi kaum terpelajar bangsa melayu di negeri Belanda. Abdoel Rivai adalah orang melayu pertama lulusan sekolah dokter di negeri belanda. Ketika hari ulang tahun Ratu Welhelmina ia menulis sebuah artikel yang memuji-muji Sang Ratu, sehingga ia dibenci kaum pergerakan ketika itu. 2) Di Surabaya sebuah koran berbahasa melayu bernama Pewarta Soerabaia sudah terbit tahun 1905. 3). Kalau merujuk pada organisasi, maka PWI bukanlah yang pertama, tetapi Pesatoean Djoernalis Indonesia (PERDI) yang terbentuk di Semarang tahun 1936 hasil Kongres Semarang. Perdi dibentuk sebagai organisasi tandingan dari Ikatan Jurnalis yang pro pemerintah Belanda ketika itu.Kalau gak salah ingat Ketuanya Saerun. 4).Tetapi bagaimana pun TIRTO ADISOERJO- lah yang terbesar karena Medan Prijaji diterbitkan sebagai media pergerakan kebangsaan. Dia pun ditangkap Belanda, dibuang ke Pulau Bacan dan meninggal di sana.

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :