Tolak Kenaikan Harga BBM!

Rabu, 9 Maret 2011 | 1:10 WIB 0 Komentar | 147 Views

Rumus paten ala pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono dalam mengatasi krisis minyak bisa ditebak: penghematan atau pemangkasan subsidi. Tujuan buruknya selalu identik dengan caranya, yaitu: memanfaatkan kepanikan atas naiknya harga minyak dunia, yang dikesankan sebagai beban APBN, sehingga kemudian disolusikan langkah penghematan’. Begitulah pesan yang berhembus sesudah rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Senin (7/3/2011).

Krisis politik di Timur Tengah, khususnya di Mesir dan Libya, telah mengganggu pasokan minyak ke Eropa dan Asia sebanyak 2,4 juta barel per hari melalui Terusan Zues. Sedangkan kemampuan produksi minyak Libya telah menurun dari 1,6 juta barel menjadi 1 juta barel per hari. Kondisi ini memaksa harga beberapa jenis minyak mentah di pasar Asia naik menghampiri US$ 120 per barel. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyebutnya sebagai ‘zona genting’. Tawaran proposal damai Presiden Venezuela Hugo Chaves atas konflik Libya hanya menahan sedikit laju kenaikannya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyalakan ‘lampu kuning’ untuk mengerem subsidi BBM. Asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) hanya dipatok US$ 80 per barel untuk tahun 2011, dan ketika menembus di atas US$ 100 per barel, maka menurut pemerintah akan ada beban tambahan APBN sebesar 3-6 triliun rupiah per tahun.

Untuk menutup beban inilah Ketua Tim Pengkaji Akademis Dampak Kebijakan Pembatasan BBM, Anggito Abimanyu, menawarkan tiga opsi yaitu: 1) kenaikan harga Rp. 500 per liter tanpa membebankan kenaikan pada angkutan umum, 2) pengurangan 3 juta kiloliter konsumsi BBM dengan cara memindahkan penggunaan premium ke pertamax untuk mobil pribadi, atau; 3) adalah menjatah konsumsi premium dengan melakukan sistem kendali.

SBY bisa dibilang lihai dalam merajut gejolak politik dan ekonomi internasional untuk memuluskan agenda pemotongan subsidi BBM yang sudah direncanakan sejak desember 2010. Ia menggunakan alasan: terjadi peningkatan konsumsi 10 % atau sebesar 38 juta kiloliter per hari.

Opsi Pemerintahan SBY ini benar-benar menipu, sejak dulu, penerimaan minyak mentah Indonesia dipengaruhi ALC (arabian light crude) di pasar Dubai. Indonesia menerima pasokan minyak dari Oman, Qatar, dan terakhir Arab Saudi serta Singapura, sehingga kenaikan harga minyak di New York dan London tidak mencerminkan kenaikan harga minyak indonesia secara langsung. Penerimaan migas Indonesia bahkan untung sekitar Rp 28,05 triliun atau setiap kenaikan US 1 dollar ada tambahan untung sebanyak 2,6 triliun rupiah.

Pengelolaan migas sudah hampir sepenuhnya di bawah kontrol korporasi asing. Semenjak tahun 2005, SPBU asing ikut menikmati keuntungan disektor penjualan. Dengan mempertahankan UU Migas no 22 tahun 2001, ada alasan untuk menggeser monopoli negara dalam penyaluran BBM dan penghapusan subsidi. Terlebih lagi di sektor produksi, perusahaan-perusahaan asing seperti Chonoco Phlips, Caltex, British Petrolium, Shell, Exxon Mobile, Petromas, Petro China, dll, ‘mencuri’ untung dari kontrak murah dan monopoli hasil produksi (lifting). Artinya: kebocoran keuntungan minyak (lifting) dalam skema bagi hasil adalah lebih banyak terangkut keluar negeri, ditambah lagi bahwa dalam perjanjian kontrak Indonesia harus menanggung beban ekspolitasi yang lebih tinggi.

Pilihan menaikkan BBM akan menghasilkan inflasi sebesar 2-3 persen. Sudah bisa dipastikan, harga-harga akan naik, daya beli masyarakat terpukul, dan 29 juta golongan masyarakat hampir miskin jatuh menjadi masyarakat miskin bakal tercipta.

Dengan konsumsi BBM yang terus meningkat, pemerintah sudah seharusnya menambah kapasitas kilang, dan memperbaiki sumur-sumur produksi yang sudah tua, karena produksi minyak mentah indonesia hanya berkisar 900 ribu barel per hari. Bukan hanya dengan mengutak-atik besaran subsidi bahan bakar minyak yang sudah mencapai 95 triliun rupiah. Negara harus memastikan kontrol terhadap sumber-sumber energi, termasuk produksi BBM.

Tags: ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :