Menyambut Agustus-an

Sabtu, 31 Juli 2010 | 2:29 WIB 0 Komentar | 108 Views

Bulan Agustus 2010 sudah dekat. Peristiwa yang tidak bisa dilupakan pada bulan ini adalah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Memasuki bulan ini terlihat berbagai persiapan untuk menyambut hari bersejarah, hari yang menjadi titik tolak berbangsa dan bernegara secara republik dan tekad melepaskan diri dari penjajahan. Detik-detik kemerdekaan terasa betul dan selalu diingatkan terutama ketika dibacakan kembali teks proklamasi kemerdekaan.

Di luar Pemerintah yang memperingati Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan itu, terlihat juga bagaimana rakyat menyambut Hari Kemerdekaan tersebut dengan berbagai cara. Dengan kegembiraan tersendiri yang seakan mentradisi: panjat pinang, gebug bantal, berbagai jenis lomba permainan dan atletik; bisa diikuti oleh anak-anak, remaja, pemuda dan bahkan orang tua. Ada juga yang merayakan dengan semakin lebih mendekatkan pada alam: naik gunung, berkemah. Malam sebelum tanggal 17 Agustus tiba, seringkali diadakan tirakatan semacam refleksi untuk menilai kembali kemerdekaan yang telah diproklamasikan atau sendiri dan bersama mendoakan Negara dan bangsa yang telah dimerdekakan oleh para pahlawan dan pejuang kemerdekaan.

Tradisi rakyat menyambut HUT Kemerdekaan ini memperlihatkan bahwa rakyat dalam kondisi apapun masih berusaha mengerti bahwa kita pernah bertekad dan bercita-cita menjadi bangsa yang merdeka, adil dan makmur. Terlihat juga dalam merayakan kemerdekaan itu nilai gotong royong dan kerja sama antar warga untuk membersihkan desa dan lain-lain hal yang dianggap perlu.

Suasana menyambut kemerdekaan ini sampai sekarang masih terasa. Karena itu kami menyambut baik segala kegiatan, festival dan peristiwa untuk mengenang peristiwa penting di Republik ini: Proklamasi Kemerdekaan.

Walau begitu di tengah kemeriahan merayakan kemerdekaan yang terkadang juga tampak seremonial saja situasi bangsa yang menunjukkan keterpurukan bangsa perlu juga disampaikan. Kemiskinan rakyat masih terlihat nyata. Rakyat terus menghadapi tekanan ekonomi: lapangan kerja sulit didapat, pendidikan dan kesehatan semakin mahal; harga-harga kebutuhan sehari-hari semakin memberatkan; kekerasan apparatus Negara dalam menangani konflik dengan rakyatnya sendiri masih sering terjadi. Primordialisme masih sering ditonjolkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Rakyat masih sering terlibat dalam konflik dengan mengatasnamakan suku, agama, ras dan golongan yang seakan melunturkan nilai-nilai patriotisme dalam kehidupan berbangsa.

Situasi keterpurukan bangsa dari segi ekonomi dan keprihatinan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa menunjukkan arti penting kemerdekaan yang kita proklamasikan 65 tahun yang lalu itu. Apakah kita sudah beranjak maju atau kita masih berputar dalam situasi ketidakmerdekaan? Apa arti kemerdekaan bagi rakyat bila kesulitan hidup yang masih didapat?

Melalui tulisan pendek ini kami ingin mengajak semua warga Negara untuk kembali mengenal, memahami arti perjuangan kemerdekaan pada hari ini. Silahkan dimaknai dan dirumuskan kembali agar kita tak semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan yang intinya adalah menyejahterakan kehidupan rakyat baik spiritual maupun material.

Bagi kami jelas: bahwa keterpurukan bangsa ini tak bisa dilepaskan dari situasi penjajahan yang semakin terlihat nyata; seperti semakin besarnya porsi penguasaan kekayaan alam oleh perusahaan asing dan besarnya hutang luar negeri yang harus ditanggung.

Menyambut Agustus-an kali ini, baiklah diingat kata-kata Bung Karno: Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Tags:

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :