Pasca Kudeta Di Paraguay: Sebuah Wawancara Dengan Fernando Lugo

Kamis, 19 Juli 2012 | 14:49 WIB 0 Komentar | 567 Views

Fernando Lugo2

Pastor berhaluan kiri Fernando Lugo terpilih pada tahun 2008 sebagai Presiden Paraguay. Dengan terpilihnya Lugo, partai konservatif Colorado yang berkuasa selama 61 itu pun berakhir. Mirip dengan apa yang terjadi di beberapa negara Amerika latin lainnya dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan baru menyusun program sosial dan hubungan lama dengan Amerika Serikat perlahan-lahan digantikan oleh aliansi dengan negara tetangga.

Selama masa jabatannya, Lugo berhadapan dengan mayoritas parlemen yang menentangnya. Wakilnya, Federico Franco, berasal dari partai berbeda dan secara terbuka menentang Lugo dalam beberapa tahun terakhir. Pada 21-22 Juni 2012, Lugo disingkirkan dari jabatannya melalui pemakzulan oleh parlemen dengan “pengadilan politik”. Pemakzulan presiden melalui “pengadilan politik” adalah struktur khusus yang dimungkinkan oleh konstitusi Paraguay. Ini untuk satu kamar parlemen untuk memulai pemakzulan presiden, dan kamar kedua memberikan penilaian apakah presiden bersalah seperti yang dituduhkan. Pengacara Lugo, Adolfo Ferreiro, yang mempertahankan Lugo dari sidang pemakzulan, menjelaskan, bagaimana mungkin sebuah pemakzulan terhadap presiden yang tak melanggar hukum apapun: “Orang-orang di balik ini mencoba untuk membuat percaya mereka dapat memulai sebuah pengadilan politik tanpa alasan, hanya karena mereka tidak suka Presiden.” Mereka mengatakan bahwa alasan untuk sidang tidaklah penting, selama mereka memiliki suara yang diperlukan untuk menang dalam persidangan. Mereka memulai semua kekacauan ini dengan “mosi tidak percaya” seperi yang banyak terjadi dalam sistim parlementer. Di sana pemerintah dipilih oleh parlemen dan dapat diberhentikan oleh parlemen melalui pemungutan suara. Di sini, pada sisi lain, kami menganut sistim presidensil, dimana Presiden dipilih langsung oleh rakyat dan tidak ada hubungan langsung antara yang ditunjuk sebagai Presiden dan yang memiliki mayoritas di parlemen.”

Ferreiro dikenal pada tahun 2008 oleh publik sebagai penentang pencalonan Lugo dan terus berlanjut sebagai kritikus sekutu Lugo, seperti pemerintah Venezuela. Mempertahankan Lugo dalam pertahanan sesuai prosedur dianggap sebagai dasar pembacaan objektif terhadap konstitusi Paraguay.

Lugo sendiri melihat keseluruhan hal ini sebagai kudeta. “Anda dapat menyebutnya coup d’etat 2.0, sebuah kudeta parlemen atau kudeta ekspres (kilat)–banyak istilah untuk hal yang sama, sebuah kudeta yang berbeda dari apa yang kita lihat pada 1970-an: tidak ada tank atau orang yang mati di jalan-jalan, dan mereka sangat berhati-hati untuk mencoba untuk memberikan legitimasi hukum untuk hal ini. Namun, tak ada yang berubah dari kenyataan bahwa telah terjadi sebuah pelanggaran terhadap prinsip-prinsip demokrasi di sini, dan bahwa Akibatnya, apa yang telah terjadi di sini adalah kudeta.”

Repolitisasi Institusi Pemerintah

Di sini banyak diskusi tentang apa yang benar-benar berubah setelah pemerintahan kudeta mulai berjalan. Salah satu poin yang paling sering disebutkan adalah masalah pekerjaan di sektor publik. Sekretaris Lugo di bidang pekerjaan umum hingga maret adalah Lilian Soto, dan dia bangga dengan perubahan yang mereka lakukan selama menjabat. “Di bawah partai Colorado, apa yang membuat anda bekerja adalah koneksi politik dan koneksi keluarga. Kami mengubah itu melalui proses formal dengan memeriksa pendidikan dan pengalaman calon.” Soto keluar dari pekerjaannya untuk persiapan sebagai kandidat Presiden dalam pemilihan umum tahun 2013 dari partai feminis dan, oleh karena itu, ia merasa tidak etis terus menjadi bagian dari pemerintah Lugo.

Lugo menjelaskan, pemerintahan kudeta berusaha untuk membatalkan ini–dengan sengaja mengabaikan orang-orang yang secara massal hanya karena ideologi politik mereka. “Sampai sekarang, hal ini terutama terjadi di Kementerian dan badan pemerintah yang menangani kontrol pertanian dan pestisida. Hari ini buruh pekerja di sektor ini mulai untuk mendapatkan aktif. Itu akan menjadi perjuangan besar berikutnya.”

Geopolitik

Lugo melihat adanya kesamaan antara dirinya dengan kudeta di Honduras pada tahun 2009, dimana Presiden Manuel Zelaya diberhentikan: “Apa benar untuk kasus keduanya bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip demokrasi, dan presiden yang terpilih secara demokratis dipangkas.” Tapi ia juga melihat perbedaan besar: “Di Honduras, kami melihat kudeta yang mirip dengan 1970-an, dimana militer mengambil peran yang utama. Juga, ada perbedaan dalam keadaan geo-politik. Di Amerika Selatan kami saat ini mengalami beberapa kemajuan penting dalam integrasi regional, seperti perjanjian perdagangan Mercosur dan yang terbaru, yakni komunitas Amerika Latin dan Karibia (CELAC). Itu belum begitu penting ketika kudeta terjadi di Honduras. Saya pikir organisasi-organisasi ini (Mercosur dan Celac) mewakili sebuah alternatif  atas organisasi Amerika Serikat (OAS), yang sedang dalam penurunan. Aku tidak akan menyangkal bahwa OAS telah mencapai banyak kemajuan dalam lima puluh tahun terakhir, tetapi dengan adanya polarisasi saat ini antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko di satu sisi dan Amerika Selatan di sisi lain, kami telah mencoba untuk menemukan alternatif regional. Kudeta sekarang mencoba untuk menyerang upaya integrasi regional.

Tak satu pun dari tiga negara tetangga Paraguay—Bolivia, Brazil dan Argentina—mengakui pemerintah baru (kudeta), juga tak menerima proses yang membawa pemerintahan kudeta itu ke kekuasaan. Sebaliknya, pemerintah negara-negara ini berada di antara para kritikus terkuat dari apa yang telah terjadi. Dari pendukung kudeta, solusi umum yang diberikan adalah untuk sebaliknya bekerja dengan negara-negara lain. Lugo percaya ini sangat tidak mungkin terjadi: “Secara geografis dan politik, mungkin untuk beberapa negara, seperti Chili, Peru dan Kolombia, yang menandatangani perjanjian perdagangan bebas langsung dengan Amerika Serikat. Tapi dalam kasus Paraguay, itu sangat sulit. Kami tidak memiliki garis pantai sendiri. Dan sungai di bawah kepemilikan bersama (negara tetangga). Untuk menggunakan sungai itu sebagai rute transportasi untuk kapal kargo, kita tergantung pada perjanjian dengan Brazil dan Argentina. Selain itu, selama dekade neoliberal 1990-an, Paraguay kehilangan kendali maskapai penerbanngan. Semua ini membuat sulit untuk untuk bekerja sama dengan negara-negara lain tanpa bekerja bersama-sama dengan tetangganya.”

Kedaulatan nasional versus multinasional

Lugo percaya bahwa orang bisa melihat kudeta sebagai pertarungan antara negara melawan perusahaan multinasional. “jika kita melihat pada beberapa hal pertama yang dilakukan pelaku kudeta, itu cukup jelas akan mengarah pada: pertama, mereka membuka pintu untuk makanan transgenik; kedua, mereka memutuskan bahwa produksi kedelai tidak menjadi pajak; ketiga, perusahaan  multinasional Rio Tinto Alcan diizinkan untuk membangun perusahaannya di Paraguay. Ini adalah tiga persoalan penting yang kami diskusikan dalam dua tahun proses partisipatif, dimana kami mempelajari secara mendalam dan konsekuensinya. Sekarang ini semua itu dilakukan tergesa-gesa. Itu menunjukkan bagaimana persoalan kedaulatan nasional sangat penting dalam proses ini.

Kontrak dengan Rio Tinto merupakan hal yang paling dikritik oleh penentang kudeta di Paraguay. Para penandatangan setuju ini akan berlangsung selama 30 tahun, dan selama itu perusahaan akan mendapatkan bagian listrik terbesar yang dihasilkan oleh pembangkit Paraguay. Lugo percaya bahwa kesepakatan yang ditandatangani rezim sekarang tidak menghormati masa depan, ketika rezim demokratis berkuasa kembali. “saya sangat meragukan bahwa rakyat Paraguay akan menghormati lisensi yang memberi perusahaan hak atas listrik dengan harga murah. Kesepakatan ini seluruh sangat dipertanyakan.”

Presiden Rakyat dan komunitas internasional

Meskipun Lugo tidak lagi memiliki kontrol atas aparatur negara, tetapi dia masih melihat dirinya sebagai Presiden: “Rakyat masih melihat saya sebagai Presiden. Pemimpin kudeta Franco bisa mengontrol secara formal tentara dan polisi, tetapi itu tidak berarti bahwa ia dapat mengendalikan massa rakyat. Dan pada dasarnya kami percaya bahwa rakyat berdaulat untuk memutuskan siapa yang berhak menjadi Presiden. Aku juga ragu bahwa Franco (pemimpin kudeta) benar-benar bisa mengatur negara. Selain rakyat Paraguay, masyarakat internasional juga masih melihat saya sebagai Presiden Paraguay yang sah. Dan, di zaman kita hal itu sangat penting, hampir satu-satunya faktor penentu.”

Franco telah memperlihatkan tak lama setelah kudeta, bahwa ia akan meminta bantuan Lugo untuk meminta negara-negara lain tidak memberi  sanksi kepada Paraguay. Lugo tidak merespon permintaan itu: “Saya pikir, sebagian besar rakyat akan memahami bahwa kita tidak akan bekerja sama dengan penyelenggara kudeta.”

Orang-orang di luar negeri yang ingin membantu demokrasi di Paraguay, Lugo menganjurkan: “Jika seseorang ingin mendukung proses demokrasi di sini, maka yang terbaik yang dapat Anda lakukan adalah mulai mengikuti apa yang terjadi di sini. Jika laporan-laporan media di Paraguay, pastikan bahwa mereka memihak demokrasi.”

Pemilihan presiden berikutnya sudah dijadwalkan sebelum kudeta terjadi. OAS sedang mencari tahu apakah ada kondisi yang memungkinkan pemilu bebas bisa berlangsung. Lugo percaya hal ini tidak mungkin: “Di sini masalahnya hanya melihat masa depan, dan tidak pernah melihat di sini dan sekarang. Itu berarti bahwa mereka  lupa apa yang terjadi sekarang dan menganggap situasi sekarang sudah OK– mereka yang secara resmi bertanggung jawab sekarang tidak ada di sini karena rakyat ingin mereka di sini. Itu sebabnya kami akan terus fokus pada situasi saat ini!”

Johannes Wilm ,mahasiswa PhD di Goldsmiths College, Universitas London di bidang antropologi sosial. Blog-nya dalam bahasa Inggris adalah http://www.johanneswilm.org dan dalam Spanyol di http://johannes.si

Tags: , , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :