Dukungan Luas Untuk Malala Yousafzai

Dukungan kepada Malala Yousafzai, aktivis remaja berusia 14 tahun korban penembakan Taliban, terus mengalir. Tak hanya dukungan dari rakyat di negerinya, Pakistan, tetapi juga dukungan masyarakat internasional.

Di Pakistan, beberapa hari setelah kejadian, 50 ulama islam sunni mengeluarkan putusan agama mengutuk tindakan Taliban. Bagi kelompok ini, tindakan Taliban itu “tidak Islami” dan menyerang prinsip-prinsip Islam. Sebab, bagi mereka, Islam tak melarang perempuan mengenyam pendidikan.

Kelompok ini, pada 16 Oktober, sembari memprotes film yang menghina Islam, Innocence of Muslims, mereka juga mengecam penembakan terhadap Malala. Para ulama menuding tindakan itu sebagai konspirasi menyudutkan Islam.

Sebelumnya, pada 14 Oktober, puluhan ribu orang berbaris di jalanan kota Karachi, Pakistan, sembari mengutuk penembak Malala. Aksi besar-besaran ini diorganisir oleh sebuah partai sekuler-liberal, Gerakan Muttahida Quami.

Di Peshawar, Pakistan, orang-orang menggelar aksi protes mengutuk Taliban. Mereka juga menggelar doa-doa untuk keselamatan Malala.

Koran India, The Hindu, melaporkan, pasca kejadian penembakan terhadap Malala, banyak remaja perempuan di Afghanistan mengatakan “Saya Malala”. Ini sebagai bentuk tantangan terhadap pernyataan jubir Taliban, Ihsanullah Ihsan, yang berjanji akan membunuh Malala jika masih hidup.

Tapi, protes tak hanya terjadi di Pakistan.

Di Afghanistan, pada hari Sabtu (13/10), Menteri Pendidikan menyerukan anak-anak sekolah seantero Afghanistan menggelar doa untuk keselamatan Malala. Mereka menggelari Malala sebagai “Malalai Dari Maiwand”, pejuang perempuan Afghanistan yang menentang penjajahan Inggris.

Pekan ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan sebuah petisi atas nama Malala Yousafzai, dengan slogan “I am Malala”, yang menyerukan agar Pakistan membuat rencana nasional untuk mendidik setiap anak, mendesak semua negara menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan, dan memastikan 61 juta anak yang tak bersekolah agar bisa bersekolah.

Artis ternama dunia, Madonna, tak ketinggalan menyampaikan simpati untuk Malala. Ia rela membuka baju untuk mendukung Malala. Tak hanya itu, ia juga membuat sebuah lagu khusus untuk pejuang HAM Pakistan itu. Madonna bilang, “ini membuat saya menangis. Seorang remaja putri berusia 14 tahun menulis di blog-nya tentang sekolah. Taliban menghentikan bus dan menembaknya. Apakah anda menyadari betapa sakitnya itu?”

UNICEF, pada 11 Oktober, berpesan: “Hari ini fikiran kita dengan Malala Yousafzai, aktivis perempuan berusia 14 tahun yang menginspirasi perjuangan hak atas anak perempuan.”

Namun, ada juga yang skeptis terhadap berbagai dukungan terhadap Malala. Shaik Zakeer Hussain, seorang penulis independen dan blogger dari India, menulis singkat di website progressif “Dissident Voice”.

Ia mengencam apa yang disebutnya “sikap Munafik” terhadap Malala saat ini. Katanya, begitu Madonna menangis untuk Malala, kenapa ia tak menangis ketika pesawat-pesawat AS membunuh ratusan orang tak bersalah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak, setiap hari di Pakistan, Afghanistan, dan Yaman.

Ia juga mempertanyakan moral Inggris dan AS, beserta negara-negara gila perang lainnya, yang habis-habisan mengutuk penembakan terhadap Malala, namun tangan mereka berlumuran darah ratusan ribu Rakyat Irak. Lebih dari setengah juta anak-anak mati di Irak akibat agresi AS dan sekutunya.

Malala mulai muncul di hadapan publik sejak usia 11 tahun. Saat itu ia menulis di blog BBB berbahasa urdu, dengan sebuah nama pena, untuk melawan perlakuan tidak sewenang-wenang kelompok Taliban di kampung halamannya.

Taliban, kelompok teroris bentukan AS saat perang melawan pengaruh Soviet, melarang anak-anak perempuan memasuki sekolah. Bagi mereka, perempuan bersekolah itu merupakan simbol kebudayaan barat.

Tak sedikit perempuan, termasuk anak-anak, menjadi korban kebrutalan Taliban. Terkadang, dalam urusan seperti berpakaian, Taliban mengatur mana yang pantas dan tidak pantas dikenakan oleh perempuan. Taliban melarang baju warna-warni.

Malala bersuara keras menentang semua itu. Tak hanya di blog, ia aktif berkampanye untuk memperjuangkan hak perempuan atas pendidikan. Ia melakukan itu di kampung halamannya, Mingora, lembah Swat, Pakistan Utara, sebuah daerah yang dikontrol Taliban sejak tahun 2007 hingga sekarang.

Sejak Januari 2009, Taliban menutup sekolah-sekolah dan melarang perempuan bersekolah. Tetapi anak-anak perempuan di lemba Swat tak takut. Mereka tetap memilih pergi ke sekolah. Ini berkat kampanye terus-menerus dari Malala.

Pada 9 Oktober lalu, saat Malala Yousafzai bersama dua rekannya, Shazia Ramzan and Kainat Ahmed, di dalam sebuah bus sepulang dari sekolah, pasukan bersenjata Taliban menembaknya dalam jarak dekat. Peluru Taliban bersarang di leher dan kepalanya. Tembakan teroris juga melukai dua kawannya yang lain.

Saat itu, seperti dituturkan kawannya yang melihat kejadian, kelompok Taliban menghentikan bus yang ditumpangi Malala. Ia menanyakan siapa yang bernama “Malala Yousafzai”. Tak satupun diantara rekan Malala yang menjawab atau menunjuk. Tembakan jarak dekat pun menyalak.

Karena itulah, beberapa hari kejadian, anak-anak perempuan Pakistan ramai-ramai menyebut diri “I am Malala”. Keberanian Malala telah memotivasi remaja perempuan Pakistan lainnya untuk bangkit dan berani bersuara.

Tak salah jurnalis Pakistan, Ahmed Rashid, menulis di New Yorker menyebut Malala sebagai “teladan tak hanya untuk anak-anak di wilayahnya, tetapi juga menjadi simbol dari perdamaian.”

Saat ini Malala menjalani perawatan di Birmingham, Inggris. Dokter masih berjuang untuk memulihkan kesehatan pejuang perempuan ini. Seorang dokter mengatakan, Malala sudah bisa menulis, punya memori yang kuat, dan berterima kasih atas dukungan terhadap dirinya.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut