Dua orang Petani Tertembak dan 60 Warga Ditangkap Di Bima

Sumber Berdikari Online di Kabupaten Bima, NTB, melaporkan bahwa sedikitnya 60 orang warga Kecamatan Lambu ditangkap dalam tiga hari terakhir.

Penangkapan ini bermula dari aksi penolakan puluhan ribu rakyat Lambu terhadap Izin Usaha Penambangan (IUP), yang diberikan oleh Bupati Bima, Ferry Zulkarnain, kepada PT. Sumber Mineral Nusantara.

Aksi ini digelar di kantor Kecamatan Lambu. Namun, karena camat Lambu, yaitu Muhaimin, menolak permintaan warga untuk membatalkan ijin usaha pertambangan emas tersebut, maka warga pun merengsek masuk ke dalam kantor camat.

Situasi makin membara tatkala Polisi melepaskan tembakan. Tembakan membabi-buta aparat kepolisian ini menyebabkan dua orang warga tertembak peluru tajam. Sementara beberapa orang lainnya mengalami luka-luka akibat peluru karet.

Situasi inilah yang memicu kemarahan rakyat semakin membesar. Akibatnya, kantor camat Lambu pun hangus dibakar oleh rakyat yang marah.

Pasca aksi yang berujung bentrok itulah Polisi mulai melakukan penyisiran dan penangkapan terhadap sejumlah warga dan aktivis. Pada hari itu juga, 10 orang warga kecamatan Lambu ditangkap oleh kepolisian. Mereka dianggap sebagai provokator saat terjadi pembakaran.

Sehari kemudian, sedikitnya 50 warga dan aktivis kembali ditangkap oleh pihak Polres Bima. Hingga hari ini, 12 Februari 2010, Polisi masih terus melakukan penyisiran dan penangkapan secara membabi-buta terhadap warga.

Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Adi Suryadi menegaskan bahwa tindakan kepolisian ini tidak dapat dibenarkan. “Kami bersama 12 perwakilan warga sedang melakukan dialog, tetapi Polisi malah memprovokasi warga di luar,” katanya.

Anehnya, kata Suryadi, Polisi tidak mengusut penembakan terhadap 2 orang warga, tetapi malah mengejar-ngejar rakyat yang memperjuangkan hak-haknya.

Aksi Solidaritas berakhir penangkapan 11 Aktivis di Mataram

Sementara itu, sebelas aktivis pergerakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, ditangkap oleh pihak kepolisian saat menggelar aksi solidaritas terhadap petani Lambu, Bima (12/02). Mereka langsung digelandang ke kantor Polres untuk menjalani pemeriksaan.

Sebelumnya, belasan aktivis dari PRD, LMND, dan LARD menggelar aksi di depan Markas Polda NTB. Mereka menggelar orasi dan tetrikal berupa aksi tabur bunga di depan markas polisi tersebut. Namun, baru sekitar 45 menit aksi ini berlangsung, tiba-tiba aparat kepolisian melakukan pembubaran. .

Salah satu aktivis yang ditangkap, Ahmad Rifai, menjelaskan bahwa penangkapan ini merupakan bukti bahwa kepolisian tidak menghargai hak politik setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat.

Disamping itu, tambah Ahmad Rifai, penangkapan ini terkesan merupakan upaya melindungi perilaku kekerasan aparat Kepolisian di Kecamatan Lambu, Bima, dimana sekitar 60 warga ditangkap dan dua orang warga tertembak peluru tajam.

Hingga berita ini diturunkan, belasan aktivis ini masih diperiksa di Mapolres Mataram dan belum ada informasi mengenai kapan mereka akan dibebaskan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Hendrikus Mesak

    saran: LSM supaya fasilitasi dengan pengacara….
    Bupati dilarang merampok harta rakyat…

    Data: 153 kepala daerah menjadi tersangka KPK…

    Basmi mafia dalam tubuh pemda Bima…

  • Aduh..

  • semoga semua rakyat makin sejahtera.

  • Risma

    gambarnya bukan peristiwa ini.ini bentrok di ujungpandang tempo hari. situs ini asal-asalan juga ya.
    LSM? ye ye ye

  • DDY

    Itu bukan gambar Lambu bung, tidak ada view sepeti itu di Lambu.

  • Editor

    Kawan-kawan,

    Penggunaan gambar di atas memang hanya untuk Ilustrasi. BO sendiri tidak berhasil mendapatkan gambar dari kejadian saat aksi di Lambu, Bima. Maka, jika kawan-kawan jeli untuk mendekatkan kursor (klik) ke gambar, maka akan ada tulisan “ilustrasi”. Bahwa gambar yang dipergunakan memang hanya “ilustrasi”, bukan gambar yang sebenarnya.

    Penggunaan gambar ilustrasi ini adalah supaya berita ini menjadi headline dan dilihat banyak pembaca. Kami menempatkan berita ini sebagai headline mengingat pentingnya berita ini untuk didangkat dan kebutuhan untuk mendapatkan solidaritas dari pembaca dan gerakan rakyat di Indonesia.

    Demikian penjelasan kami,