DPR dan Rakyat

Meski sedang tidak populer dan terus-menerus mendapat hujan kritik dari rakyat, DPR tetap keras kepala akan mendirikan sebuah gedung baru, yang konon kabarnya dibiayai dengan uang Negara sebesar Rp1,8 triliun. Lebih tidak tahu malu lagi, DPR yang “doyan” hura-hura ini berencana menyediakan kolam renang, tempat spa, dan tempat pijat di gedung baru itu. Ya, DPR benar-benar bukan hanya tidak tahu diri, tapi sudah putus “urat” malunya.

DPR termasuk lembaga paling boros menghabiskan anggaran Negara. Untuk membiayai aktivitas seluruh anggota DPR ini, Negara harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp2,7 triliun. Sementara untuk menangani kesehatan rakyat miskin (jamkesmas), yang jumlahnya 76,4 juta orang, Negara hanya menganggarkan Rp 4,6 triliun.

Meskipun menjadi lembaga paling “pemboros”, tetapi kinerjanya justru merupakan yang paling minim. DPR selalu menjadi bulan-bulanan dari pengumuman lembaga paling buruk di Indonesia. Lebih dari itu, sebagian besar koruptor yang menghuni sel-sel penjara sekarang adalah mantan politisi DPR. Di sini, DPR seharusnya memikirkan langkah-langkah untuk menyelamatkan ‘muka’ mereka di hadapan rakyat, bukan terus-menerus mempersolek diri dengan menghambur-hamburkan uang Negara.

Dengan memposisikan diri sebagai wakil rakyat, para anggota DPR seharusnya memiliki ruang kerja yang dekat dengan rakyat, dan bisa bersentuhan langsung dengan keadaan atau persoalan yang sedang dihadapi rakyat. Pekerjaan anggota DPR seharusnya lebih banyak bersentuhan dengan konstituen, menyerap aspirasi rakyat, dan memperjuangkannya. Untuk melakukan pekerjaan itu, setiap anggota DPR seharusnya lebih banyak berada di luar kantor ketimbang di dalam kantornya.

Sementara itu, di luar gedung DPR yang dikelilingi pagar yang tinggi-tinggi, gambaran mengenai kehidupan rakyat semakin menyedihkan. Sebagian besar rakyat bergulat melawan kemiskinan yang terus meminta korban. Anak didik telah kehilangan masa depannya karena biaya pendidikan yang terlampau mahal. Dan masih banyak contoh lainnya.

Sementara anggaran DPR terus-menerus melangit, anggaran yang diperuntukkan untuk rakyat miskin semakin terjun bebas. Ini bisa dilihat pada perbandingan antara APBN 2010 dan APBN 2011. Situasi ini menciptakan jurang pemisah yang sangat lebar antara kehidupan angota DPR dengan kehidupan rakyat banyak.

Dengan membangun proyek mewah di tengah lautan kemiskinan, DPR telah melukai rasa keadilan seluruh rakyat; karenanya, melecehkan suara para pemilih. Kejadian ini tidak ada ubahnya dengan perilaku pejabat kolonial, yang menikmati “kemewahan” di tengah eksploitasi dan penderitaan rakyat jajahan.

Apa yang paling mendesak dilakukan DPR sekaran ini, adalah bagaimana memperbaiki kinerja dan memperkokoh pengabdian kepada rakyat. Untuk bekerja di tengah rakyat, setiap anggota DPR hanya dituntut memiliki etos kerja, dedikasi, patriotisme, dan kecintaan kepada rakyat. Adapun keberadaan gedung, kantor, rumah dinas, mobil dinas, tunjangan, dan fasilitas lainnya hanyalah penunjang kinerja seorang anggota parlemen.  Seluas apapun ruangannya, setinggi apapun gedungnya, jikalau anggota DPR memang tidak punya dedikasi dan keberpihakan kepada rakyat, maka tidak akan ada gunanya.

Menutup editorial ini, kami sangat tergugah untuk menuliskan nyanyian aktivis gerakan mahasiswa saat menggelar aksi demonstrasi:

DPR..DPR dimana otakmu?
Engkau tidak tahu derita rakyatmu
BBM naik, Semua naik
DPR..DPR..antek imperialis

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut