Dolores Ibárruri, Srikandi Penentang Fasisme

Ibarruri.jpg

Dalam perjuangan menentang rezim fasisme di dataran Eropa, ada satu sosok perempuan yang tidak boleh dilupakan. Dia adalah Dolores Ibárruri. Ia berada di garis depan dalam menggalang aksi massa dan perjuangan bersenjata menghalau fasisme di tanah Spanyol.

Ibárruri lahir di Gallarta, Spanyol, pada 9 Desember 1895. Dia merupakan anak kedelapan dari sebelas bersaudara. Ayah dan ibunya adalah penambang. Latar keluarga yang miskin itu membuat Ibárruri gagal mengenyam pendidikan yang cukup untuk mengantarkan menggapai cita-cita sebagai seorang guru. Padahal, ia terbilang murid yang cerdas.

Alhasil, untuk menyambung hidup, Ibárruri bekerja sebagai tukang jahit dan pekerja rumah tangga. Hingga, pada usia 20 tahun, ia menikah dengan seorang penambang: Julian Ruiz. Ruiz sendiri dikenal sebagai seorang aktivis serikat buruh dan sosialis-revolusioner. Dengan pengetahuannya yang ulung soal marxisme, Ruis mulai berbagai pengetahuan dengan istrinya.

Namun, pasangan ini hidup sangat miskin. Saking miskinnya, empat dari enam anaknya meninggal karena dia tidak sanggup membeli obat-obatan dan makanan buat mereka.

Di tahun 1917, lantaran keterlibatannya dalam berbagai aksi pemogokan, Ruiz ditangkap. Keadaan itu memperburuk kondisi ekonomi Ibárruri dan anak-anaknya. Ia pun berjibaku bekerja untuk menyambung hidup anak-anaknya.

Namun demikian, Ibárruri tidak menyerah. Seusai bekerja untuk memberi makan pada anaknya, pada malam hari ia menghabiskan waktunya untuk membaca karya-karya Karl Marx di perpustakaan Casa del Pueblo di kotanya. Sejak itu ia makin jatuh cinta dengan ide-ide marxisme.

Tahun 1917 juga revolusi proletar menang di Rusia. Ibárruri sangat gembira menyambut kemenangan itu. Lalu, pada tahun 1918, ia mulai menulis artikel untuk koran para pekerja tambang. Di situ ia menggunakan nama samarannya yang terkenal: La Passionara (semangat). Kelak nama samaran inilah yang sangat melekat pada dirinya.

Tahun 1920, ia mulai bergabung dengan partai komunis. Tahun itu juga dia terpilih sebagai anggota Komite Provinsi Partai Komunis Basque. Ia aktif dalam berbagai aktivitas di akar rumput dalam membela hak-hak pekerja dan perempuan. Salah satunya aksinya: dia mengorganisir perempuan di kotanya untuk mendatangi kedai-kedai untuk memprotes suami-suami yang suka pulang mabuk dan tak jarang memukul istrinya.

Tahun 1921, Partai Komunis Spanyol (Partido Communista de Espana/PCE) dibentuk. Ibárruri pun segera bergabung dengan partai baru ini. Di tahun 1930-an, Ibárruri ditugaskan untuk bekerja di Sekretariat partai di Madrid. Di situ ia ditugasi mengurus seksi perempuan partai dan koran partai.

Di tahun itu juga, karena cukup menonjol, Ibárruri ditunjuk sebagai anggota Komite Sentral PCE. Pekerjaannya di koran partai, Mundo Obrero (Dunia Pekerja), turut mengasah kemampuan menulisnya. Ia juga berhasil menjadikan koran tersebut sebagai corong kaum pekerja dan perempuan. Tak lama kemudian, dia ditunjuk sebagai editor di koran tersebut.

Tahun 1931 adalah akhir dari kekuasan Monarki dan kediktatoran di Spanyol. Raja Alfonso III, yang didukung oleh diktator MiguelPrimodeRivera, tidak kuasa menahan ketidakpuasan massa rakyat dan kebangkitan anti-monarki. Sejak itu Spanyol memasuki era pemerintahan Republik kedua.

Kekuasaan Monarki kemudian digantikan oleh pemerintahan Republikan-Liberal. Sayang, pemerintahan baru ini gagal menunaikan janjinya untuk melakukan reformasi. Sebaliknya, mereka justru memukul mundur kaum tani yang menduduki tanah tuan tanah dan kaum buruh yang menggelar pemogokan.

Di tahun-tahun itu juga Ibárruri mulai keluar masuk penjara. Pertama ia ditangkap karena menyembunyikan kawan-kawannya yang dikejar oleh polisi. Ia dipenjara selama 4 bulan. Namun, tak lama setelah dilepaskan, ia kembali ditangkap dan dipenjara hampir setahun lamanya.

Sekeluarnya dari penjara, Ia dikirim sebagai delegasi Spanyol di pertemuan Komunis Internasional (Komintern) di Moskow, Uni Soviet, pada tahun 1933. Tahun berikutnya, ia terlibat mengorganisir Konferensi Perempuan Sedunia Melawan Perang dan Fasisme.

Tahun 1933, Spanyol menggelar pemilu. Kekuatan Republiken dan kaum kiri sosialis (Partai Pekerja Sosialis Spanyol/PSOE) menderita kekalahan. Sebaliknya, kekuatan konservatif yang tergabung dalam CEDA memenangi pemilu. Inilah yang membuka jalan bagi terbentuknya kekuasaan yang konservatif.

Tahun 1934, kaum buruh tambang di Asturias melancarkan pemberotakan. Sayang, setelah pertempuran sengit selama dua minggu, pemberontakan kaum buruh berhasil ditumpas. Sebanyak 3000 buruh tambang dibunuh setelah menyerah dan 40.000 aktivis buruh lainnya ditangkap.

Saat itu, Ibárruri dan kawan-kawan separtainya mengorganisir aksi untuk menolong para pekerja di Azturiaz. Banyak anak-anak dari pekerja tambang yang turut merasakan getirnya represi tersebut. Karena itu, Ibárruri dan kawan-kawannya berjuang mengevakuasi anak-anak pekerja itu ke Madrid atau ke Uni Soviet.

Tahun 1936, PCE ikut dalam pemilu. Saat itu PCE meraih suara 170-an ribu suara; cukup untuk satu kursi. Dan kursi itu diisi oleh Ibárruri. Selama kampanye, PCE gencar menjanjikan pembebasan para tahanan politik. Karena itu, sehari setelah dilantik anggota Parlemen, Ibárruri mendatangi penjara Oviedo. Dengan berbekal statusnya sebagai anggota parlemen, ia memerintahkan para sipir penjara membebaskan semua tahanan politik.

Di pemilu 1936 itu PCE bernaung di bawah Front Popular (Front Rakyat), sebuah koalisi dari partai komunis, sosialis, kaum Republiken, dan kaum demokrat-liberal. Front ini merupakan kebijakan Komintern dalam kerangka menghalau bangkitnya fasisme.

Saat itu pemilu dimenangkan oleh Front Rakyat. Begitu berkuasa, Front Rakyat mulai menjalankan janjinya. 30-an ribu tahanan politik dibebaskan. Rencana pendidikan dan reforma agraria pun mulai dijalankan. Tak hanya itu, pemerintahan Front Rakyat mulai mereformasi lembaga peradilan, kepolisian, dan tentara. Mereka juga mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan kaum buruh dari depresi ekonomi.

Kemenangan Front Rakyat memberikan ekspektasi yang besar bagi kaum buruh dan kaum tani. Gerakan buruh melancarkan aksi-aksi pemogokan untuk menuntut perbaikan ekonomi. Sementara kaum tani makin gencar melakukan aksi pendudukan tanah milik tuan tanah. Situasi itu membuat para industrialis dan tuan tanah mulai merasa terancam kepentingannya.

Akhirnya, pada bulan Juli 1936, kekuatan sayap kanan yang dipimpin oleh Jenderal Fransisco Franco melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan Front Rakyat. Franco berhasil menyatukan seluruh elemen sayap kanan, seperti tuan tanah, industrialis, monarki, organisasi fasis Falange, dan sejumlah struktur gereja. Tak hanya itu, Franco mendapat dukungan militer dari Hitler di Jerman dan Mussolini di Italia.

Pemberontakan Franco, yang berniat menggulingkan pemerintahan Front Rakyat yang terpilih secara demokratis, sebetulnya mewakili kepentingan tuan tanah, kapitalis, dan kaum monarki yang merasa terdesak kepentingannya oleh kebangkitan kaum pekerja dan petani di bawah panji-panji partai sosialis dan komunis. Mereka kemudian berusaha memukul mundur demokrasi sekaligus menutup ruang bagi gerakan sosialis dan komunis. Ibárruri dan Partai Komunis sangat menyadari bahaya itu.

Pada 19 Juli 1936, Ibárruri memberikan pidato yang disiarkan melalui radio di Madrid. Pidato itu berjudul “Danger! To Arms!”. Melalui pidato itu ia menyerukan kepada rakyat Spanyol, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mengangkat senjata melawan fasisme. “Komunis, sosialis, anarkis, republikan, tentara dan semua kekuatan yang setia pada kehendak rakyat, taklukkan pemberontak penghianat.” Di pidato inilah ia meneriakkan slogan “No Pasaran”: kaum fasis tidak akan lewat; para tukang jagal Oktober tidak akan lewat!”

Rakyat Spanyol pun mengangkat senjata. Perang ‘puputan’ melawan fasisme pun berkobar. Di sebuah pertemuan dengan kaum perempuan Spanyol, Ibarurri bilang, “lebih baik menjadi janda dari seorang pahlawan daripada menjadi istri seorang pengecut.”

Di bulan Agustus 1936, di sebuah pertemuan yang dihadiri oleh ratusan ribu orang di sebuah stadion di Valencia, Ibarruri kembali meneriakkan “No Pasaran”. Dia kembali menyerukan agar rakyat Valencia bahu membahu melawan fasisme.

Kemudian, pada sebuah pertemuan di Paris, Perancis, pada September 1936, dia kembali meneriakkan kata-kata yang menggugat banyak pejuang anti-fasis: “lebih baik mati berdiri, daripada hidup berlutu!”. Ia meminta dukungan rakyat Perancis untuk membantu perjuangan rakyat Spanyol. “Anda harus membantu rakyat Spanyol. Mereka berjuang membela kebebasan dan mempertahankan perdamaian melawan fasisme,” katanya.

Sayang, pemerintah negeri-negeri Eropa seakan memilih diam. Di bawah kebijakan “non-intervensi”, negara-negara yang mendaku dirinya sebagai pembela demokrasi, seperti Inggris, Perancis, dan AS, justru menolak untuk membantu pemerintahan demokratis Spanyol dari ancaman fasisme. Rupanya, pemerintah di negara-negara tersebut lebih takut dengan kebangkitan ‘kaum merah’ di Spanyol ketimbang terhadap fasisme. Saat itu hanya Uni Soviet yang terang-terangan mendukung perjuangan rakyat Spanyol melawan fasisme.

Namun, bukan berarti seruan Ibarruri tak bersambut. Para pekerja dan kaum militan di sejumlah negara Eropa dan berbagai penjuru dunia bergabung dalam relawan bersenjata bernama “Brigade Internasional” untuk terjun membela rakyat Spanyol melawan fasisme Franco.

Di bulan Oktober 1936, kaum nasionalis-fasis di bawah komando Franco mulai mengintensifkan serangan. Mereka mulai mengepung Madrid, pusat pemerintahan kala itu. Namun, setelah melalui pertempurang sengit pada tanggal 8 dan 23 November, kaum republikan berhasil menghalau pasukan Franco.

Akan tetapi, pasukan Franco yang didukung penuh dengan persenjataan oleh Jerman dan Italia berhasil menguasai sejumlah kota lain di Spanyol. Saat itu Ibarruri tetap bergerilya menggalang perlawanan terhadap derap maju fasisme. Namun, keretakan internal di kubu republikan turut melemahkan kekuatannya. Akhirnya, pada 23 November 1939, kaum fasis berhasil menggempur dan merebut kota Madrid. Tak lama kemudian, seluruh Spanyol jatuh ke tangan fasisme Franco.

Sejak itu ia mengungsi ke Uni Soviet. Di sana ia melakukan aktivitas politik bersama Partai Komunis Uni Soviet. Anak laki-lakinya yang masih hidup, Ruben, bergabung dengan Tentara Merah. Belakangan, Ruben gugur dalam pertempuran mempertahankan kota Stalingrad dari serbuan NAZI-Jerman.

Ibarruri sendiri masih tetap aktif di PCE dan ditunjuk sebagai Sekjend pada tahun 1944. Ia tetap tinggal di Moskow hingga beberapa tahun. Di sana ia menderima Penghargaan Perdamaian Lenin pada tahun 1964 dan Order Lenin pada tahun 1965.

Tahun 1975, Jenderal Franco meninggal dunia. Dua tahun kemudian, Ibarruri berhasil kembali ke Spanyol. Dalam pemilu yang digelar di bulan Juni 1977, Ia masih sempat terpilih sebagai anggota DPR mewakili CPE.

Tanggal 12 November 1989, Ibarruri meninggal dunia di usia ke-89. Dia meninggalkan nama harum: La Passionara. Dia dikenang sebagai seorang pejuang anti-fasisme, seorang revolusioner, penulis, dan orator yang hebat. Ia adalah contoh dari perjuangan yang penuh keteguhan dan kegigihan.

Rudi Hartono, Pimred Berdikari Online; Rini, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) kota Pematangsiantar.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut