Disorganisasi Sosial

Pada bulan Juli 2011 lalu, seorang warga Makassar tewas akibat bentrok antar kelompok pemuda. Pemicu perkelahian antara kelompok ini juga sangat sepele: soal parkiran di sebuah café. Cerita seperti ini banyak sekali terjadi dan sudah seringkali diangkat oleh pemberitaan media massa.

Jika ditelusuri secara mendalam, sebagian besar pemicu perkelahian itu adalah persoalan kemiskinan dan ketiadaan lapangan pekerjaan. Mereka rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan kelangsungan hidup (survive), sekalipun itu berarti membunuh sesama orang miskin.

Di sinilah masalahnya: kemiskinan yang terjadi bersifat struktural, sangat berelasi dengan sistem ekonomi-politik, tetapi model penyikapan korban kemiskinan bersifat perang horizontal, bukan perang vertikal.

Seharusnya: ketika kemiskinan dan pengangguran semakin meluas, sebagai akibat dari kesalahan sistim ekonomi-politik, maka klas bawah mestinya membangun solidaritas horizontal untuk menjatuhkan klas pengusa yang menindas mereka. Tetapi hal itu sangat sulit terjadi di alam neoliberalisme seperti sekarang ini.

Rupanya, kita baru tahu, bahwa neoliberalisme bukan hanya menciptakan kesenjangan sosial yang sangat parah, tetapi juga menghancurkan organisasi sosial dan membubarkan ikatan-ikatan solidaritas klas-klas sosial. Lebih jauh lagi, sebagaimana diteorikan oleh Kenneth M. Roberts, seorang Ilmuwan politik dari University of New Mexico, bahwa, pada satu sisi, neoliberalisme berhasil membuat konsolidasi dan mengukuhkan dominasi klas penguasa, tetapi pada sisi lain juga berhasil menghancurkan solidaritas dan bentuk-bentuk ikatan sosial klas-klas yang tertindas.

Ini terjadi karena neoliberalisme menjalankan strategi fragmentasi untuk memecah-belah masyarakat. Formulasi ini mengandaikan masyarakat, khususnya klas-klas tertindas, terpecah-pecah seperti atom-atom (atomistic), lalu diadu satu sama lain dalam berbagai medan kompetisi (pasar tenaga kerja, lembaga pendidikan, kehidupan sosial, dll), sehingga tidak dimungkinkan terjadinya solidaritas horizontal (persatuan).

Strategi ini menciptakan atau memproduksi kelompok-kelompok sosial yang terisolasi satu sama lain, atau semacam minoritas yang saling beradu satu sama lain, sehingga memungkinkan klas penguasa mempertahankan hegemoninya terhadap sektor-sektor luas masyarakat.

Basis untuk menjaga supaya kelompok-kelompok ini tetap terisolasi adalah dengan mendisorientasi atau menghilangkan tujuan-tujuan umum mereka (misanya, masyarakat adil makmur, dll). Hal ini memungkinkan klas-klas yang sudah terbagi menjadi kelompok-kelompok terisolir tidak lagi memperjuangkan kepentingan umum mereka, atau semacam tujuan nasional, melainkan berjalan dengan proyek jangka pendek kelompok masing-masing.

Praktek disorientasi sosial ini berjalan dengan tiga cara:  (1) pemisahan individu dari masyarakat (individualisme); atau, mengatomisasi masyarakat menjadi kekuatan-kekuatan kecil, (2) orintasi kelompok diarahkan pada tujuan-tujuan sempit, parsial, dan jangka pendek, dan (3) menghapuskan kemampuan kelompok-kelompok sosial untuk bernegosiasi dan membangun aliansi bersama.

Proyek disorientasi ini juga dijalankan di lapangan teoritik. Ini ditandai dengan lahirnya teori-teori yang merayakan keterbatasan (serba kekurangan) manusia dan penyangkalan terhadap universalitas, totalitas, dan meta-narasi (sosialisme, marxisme, kapitalisme, rasionalisme, dll). Mereka lalu menganjurkan gerakan yang bersifat mikro-politik, spontan, berbasiskan isu, dan lain-lain. . Ini sangat nampak pada gerakan yang dikelola oleh gerakan sosial dan LSM.

Padahal, menurut kami, jika henda keluar dari persoalan keterpurukan bangsa ini, harus ada yang namanya proposal nasional dan persatuan nasional. Harus ada penyatuan politik seluruh sektor-sektor yang selama ini dikorbankan oleh neoliberalisme, tanpa memandang lagi identitas mereka.

Harus ada pengorganisasian-pengorganisasian kembali massa rakyat dari bawah. Keberhasilan Frente Amplio, sebuah persatuan politik multi-sektor di Uruguay, dengan komite-komite akar rumputnya (comite’ de base), patut menjadi contoh bagi gerakan rakyat di Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut