Dinas ESDM Sulsel Menolak Didemo Peringatan Hari Agraria

“Ini pejabat Dinas ESDM Sulsel tidak pernah membaca UU Pokok Agraria tahun 1960,” begitu komentar Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Makassar, Arham Tawarrang, menanggapi pernyataan pejabat Dinas ESDM Sulsel yang menolak kantornya dijadikan sasaran aksi memperingati Hari Agraria Nasional.

Selasa (24/9/2013) siang, sedikitnya 200-an anggota PRD Sulsel menggelar aksi massa di kantor Dinas ESDM Sulsel. Namun, pihak Dinas ESDM menuding aksi tersebut salah alamat. “Kalau mau hari Agraria jangan di kantor ESDM, ini salah jurusan. Ini kantor ESDM, bukan Dinas Pertanian,” kata seorang pejabat Dinas ESDM.

Penolakan itu memicu ketegangan di Lobby kantor ESDM. Aktivis PRD Sulsel menuding pihak ESDM Sulsel tidak memahami pengertian agraria sebagaimana diatur konstitusi. “Kalau anda baca UUPA 1960, agraria itu bukan hanya tanah, tetapi mencakup bumi, air, dan ruang angkasa. Artinya, kekayaan alam yang terkandung dalam perut bumi pun masuk dalam cakupan agraria,” kata Arham.

Namun demikian, massa aksi PRD Sulsel ini tetap menggelar aksinya di depan kantor ESDM. Dalam orasinya, Sekretaris PRD Sulsel Firdaus menjelaskan tuntutan pokok PRD dalam peringatan Hari Agraria Nasional ke-53 tahun ini.

“Pengelolaan sumber daya alam kita sekarang ini sudah melenceng jauh dari amant konstitusi. Sekarang pengelolaan SDM kita sangat berbau neoliberal, yang lebih mengutamakan swasta ketimbang kepentingan rakyat banyak,” kata Firdaus.

Firdaus mengungkapkan, akibat tata kelola yang berorientasi neoliberal itu, rakyat banyak benar-benar tersingkirkan dalam mengakses sumber daya alam bangsanya sendiri.

“Konflik agraria yang terjadi, yang pada tahun 2012 mencapai 198 kasus, menunjukkan adanya penyingkiran kaum tani dari tanah dan sumber daya alam yang terkandung di dalam tanahnya itu,” papar Firdaus.

Mengutip pernyataan Ketua KPK Abraham Samad, Firdaus mengatakan, akibat pengelolaan SDM yang melenceng dari konstitusi itu, Indonesia kehilangan potensi pemasukan dari blok migas, batubara, dan nikel sebesar Rp 2000 triliun per tahun.

Dalam aksinya, aktivis PRD Sulsel juga melakukan musikalisasi puisi dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Aksi massa PRD Sulsel ini juga diikuti oleh aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), dan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

Muhamad Asrul

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut