Dilma Rousseff, Kandidat Partai Buruh Memimpin Jajak Pendapat pemilu Putaran Kedua Brazil

BRAZILIA: Kandidat partai buruh yang berkuasa di Brazil, Dilma Rousseff, diperkirakan mendapat dukungan sebesar 54% dalam putaran kedua pemilu Brasil pada akhir oktober mendatang, kata lembaga survey Datafolha Institute.

Sementara pesaing Dilma Rousseff, yaitu Jose Serra dari Partai Sosial Demokrat Brazil (PDSB), diperkirakan mendapat 46% suara.

Namun, sejak empat persen pemilih menyatakan akan berubah fikiran ditambah tujuh persen pemilih yang masih ragu, perbedaan diantara kedua kandidat diperkirakan akan berkurang pada jajak pendapat berikutnya.

Karena itu, perwakilan dari kedua partai, yaitu partai buruh dan PDSB, mulai intensif menghubungi kandidat partai hijau, Marina Silva, yang sebelumnya adalah anggota partai buruh dan mengundurkan diri dari menteri lingkungan hidup pemerintahan Lula da Silva.

Marina Silva awalnya diragukan mendapat suara melebih satu persen di awal pemilihan, tetapi hasil resmi pemilu putaran menunjukkan bahwa Silvia bisa mendapatkan 19,3%.

Baik Dilma Rousseff maupun Jose Serra akan berusaha mendapatkan dukungan dari Marina Silva, yang mana dukungannya sangat menentukan hasil pemilihan.

Namun, para ahli mempercayai bahwa Silva akan mengambil posisi netral, tidak akan memihak kandidat manapun di putaran kedua, tetapi membiarkan pendukungnya untuk mengambil keputusan sendiri.

Menurut jajak pendapat terbaru, 51% persen yang memilih Silva lebih menyukai Serra, sementara 22% akan memilih Rousseff.

Pertempuran Menentukan

Banyak analis yang memperkirakan, bahwa pertarungan putaran kedua mendatang sangat menentukan masa depan politik Brazil.

Jika Dilma Rousseff yang terpilih, maka kebijakannya tidak akan bergeser jauh dari model yang sudah dilakukan Lula Da Silva selama dua periode. Sebaliknya, kalau kandidat sayap kanan dari PSDB, Jose Serra, yang memenangkan pemilihan, maka politik Brazil akan berayun ke kanan-neoliberal.

Dilma Rousseff, pada masa mudanya ikut serta dalam perlawanan bersenjata, yang dikenal sebagai Colina (singkatan untuk Komando Pembebasan Nasional) dan VAR-Palmares (Pasukan Bersenjata Revolusioner Vanguard), untuk melawan rejim militeristik.

Jika Dilma berhasil memenangkan pemilu putaran kedua, maka dia akan menjadi perempuan pertama yang menjadi presiden Brazil.

Sementara Serra adalah kandidat sayap kanan, mewakili kepentingan bisnis dan elit keuangan yang ada di Sao Paulo. Partainya, PDSB, sering mengeritik politik luar negeri Lula Da Silva yang sangat dekat dengan Venezuela, Bolivia, dan Kuba.

Alih-alih menentang kebijakan Lula yang sangat populer, Jose Serra dan PDSB memusatkan serangannya pada korupsi dalam pemerintahan Partai Buruh (PT), yang menghasilkan sejumlah skandal dalam beberapa bulan terakhir.

Namun Lula dan Dilma segera menghalau serangan ini, dengan menyatakan bahwa dirinya selalu menjadi korban dari kampanye kotor dari kalangan bisnis dan media swasta selama ini. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • matt

    aq lebih tertarik sama Badut dari Sao paulo, yg buta huruf tetapi memenangkan 1,3 juta suara untuk jd anggota dewan di sana…..heheheh