Diktator Argentina Diadili Terkait Operasi Condor

Mantan diktator Argentine, Jorge Videla (jas hitam), sedang diadili.

Mantan Diktator Argentina, Jorge Rafael Videla, yang sudah menjalani sejumlah tuntutan terkait kejahatan HAM di negerinya, kembali diseret ke pengadilan terkait “Operasi Condor” di tahun 1970-an dan 1980-an.

Selain Jorge Videla, pemimpin militer di era kediktatoran Videla, Reynaldo Bignone, juga diseret ke pengadilan. Keduanya berada diantara 25 terdakwa penjahat HAM. Termasuk bekas Menteri Dalam Negeri di era kediktatoran dari 1976 sampai 1983, Albano Harguindeguy.

Pengadilan ini juga menyeret sejumlah Jenderal Purnawirawan, seperti Benjamín Menéndez, Antonio Bussi, Santiago Riveros dan Ramón Díaz Bessone.

Amnesti Internasional memuji langkah pengadilan Argentina ini sidang bersejarah melawan impunitas, yang dilakukan oleh kediktatoran militer pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Pada pengadilan pertama, para terdakwa akan diperhadapkan terhadap tuduhan pembunuhan 108 aktivis dan pejabat politik. Sekitar 500-an saksi akan dihadirkan di persidangan. Dengan demikian, proses persidangan akan memakan waktu setidaknya 2 tahun.

Sebagian besar korban adalah warga Uruguay, yang dibawa ke sebuah pusat penyiksaan rahasia di Argentina, Automotores Orletti—bekas sebuah bengkel. Namun, kasus penculikan terhadap warga negara Paraguay, Chili, Bolivia dan Peru juga akan diadili.

Korban kejahatan operasi Condor memang lintas negara. “Rencana Condor” atau “Operasi Condor” adalah perjanjian kerjasama antara semua kediktatoran di Amerika Selatan untuk membasmi kaum kiri, khususnya sosialis dan komunis, dari benua tersebut.

Melalui operasi ini, pelarian politik di negara lain bisa dibunuh atau dihilangkan. Ini juga menyangkut kerjasaman penukaran tapol antara negara yang diperintah kediktatoran militer.

Salah satu korban dari operasi ini adalah Jenderal Carlos Prats, seorang petinggi militer Chile yang loyal pada Salvador Allende. Carlos Prats melarikan diri ke Argentina. Namun, Namun, ia dibunuh di Buenos Aires pada September 1973 bersama istrinya, Sofia Cuthbert.

Diktator Argentina Jorge Videla, yang sudah berusia 80 tahun, sebetulnya sudah divonis hukuman seumur hidup terkait kejahatan HAM. Pihak pengadilan menemukan fakta keterlibatan Videla dalam eksekusi mati terhadap 30 Tahanan Politik pada tahun 1976.

Lalu, baru-baru ini, pengadilan Argentina kembali menuntut hukuman penjara 50 tahun atas keterlibatan Videla dalam kasus tuduhan pencurian bayi para tahanan politik pada era kediktatorannya.

Dengan demikian, hingga saat ini, Jorge Videla tengah menghadapi pengadilan HAM yang berlapis-lapis. Terkait atas berbagai tuduhan atas dirinya itu, diktator Argentina ini telah menyerukan rekan-rekannya untuk mengangkat senjata melawan Kirchnerisme dan Marxisme.

Memang, diktator berusia 86 tahun ini merasa tidak menyesal atas perbuatannya. Ia menganggap tindakannya sebagai penyelamatan terhadap Republik dari kekacauan akibat warisan Juan Peron. Sebaliknya, ia menuding pengadilan itu bukan sebagai proses keadilan, melainkan balas dendam terhadap Angkatan Bersenjata.

Meski demikian, pemerintah dan pengadilan HAM Argentina tidak gentar. Tahun lalu saja, ada 400-an penjahat HAM yang diseret ke pengadilan terkait kejahatan HAM di era kediktatoran militer Argentina pada tahun 1976-1983.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut