Diduga melakukan Union Busting, Pengusaha Dilaporkan Ke Polisi

Tujuh orang perwakilan dari SMBE-GSBI PT. Daelim Indonesia dan pengurus DPP GSBI mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Selasa (24/5). Para buruh ini mengadukan dugaan tindak pidana pemberangusan serikat buruh oleh pengusaha PT.Daelim Indonesia.

Menurut Ade Baehaki, salah seorang buruh PT. Daelim Indonesia, sejak pembentukan Serikat Buruh di lingkungan PT. Daelim Indonesia, pihak pengusaha telah melakukan tindakan mutasi, skorsing dan PHK. “Alasan PHK ini selalu dibuat-buat,” kata Ade Baehaki.

Bahkan, menurut Ade Baehaki, beberapa pengurus dan pemimpin serikat buruh telah di-PHK secara sepihak. Serikat Buruh Metal dan Elektronik (SBME) PT Daelim Indonesia berafiliasi dengan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI).

Ade Baehaki, yang juga termasuk korban PHK ini, menganggap tindakan pengusaha PT. Daelim Indonesia sebagai pelanggaran terhadap undang-undang No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Sebelumnya, pihak pekerja sudah melaporkan kejadian ini pada kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya. “Sampai sekarang belum ada tindak lanjut serius dan terkesan diulur-ulur,” katanya.
Oleh karena itu, karena tidak juga mendapat respon dari Disnaker Bekasi, pihak buruh pun melaporkan kejadian union-busting ini kepada pihak Kepolisian.

Ismett Inoni, Kepala Dept Hukum dan Advokasi DPP-GSBI, membenarkan adanya upaya hukum yang dilakukan oleh kaum buruh. Menurutnya, apa yang dilakukan para buruh sesuai dengan Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia (HAM).

PT. Daelim Indonesia merupakan perusahaan penghasil alat-alat rumah tangga, yang berkedudukan di Kawasan Industri Jababeka, Bekasi. Perusahaan ini dimiliki oleh seorang pengusaha asal Korea Selatan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut