Dicari Pemimpin Sederhana Dan Anti-Neoliberal

Kita hidup di jaman baru dimana politik makin dimaknai sempit: kekuasaan dan kekayaan. Pejabat politik pun diidentikkan dengan para pengejar kemewahan, koruptor, dan kawanan kaum serakah. Hampir tidak ada lagi bekas tentang bagaimana para pemimpin terdahulu berpolitik: sederhana, pro-rakyat, dan anti-kolonial.

Di tengah mozaik politik yang begitu, sejumlah politisi pendatang baru berusaha menampilkan jenis politik yang beda. Mereka menunjukkan bahwa politik itu tidak identik dengan kemewahan dan korupsi. Mereka pun membujuk media untuk merekam aktivitas mereka yang sederhana: naik KRL ekonomi, naik angkot biasa, berpakaian sederhana, makan makanan sederhana, dan lain-lain.

Seminggu terakhir kita dijenuhkan oleh tontonan itu: Abraham Samad, ketua KPK yang baru, cari muka dengan naik angkot ke kantor Tribun Makassar; Bambang Widjajanto, anggota KPK yang baru, juga berlari-lari mengejar KRL ekonomi yang bakal mengangkutnya dari Bogor ke Jakarta; Dahlan Iskan, menteri BUMN yang baru, rela naik KRL ekonomi saat mengecek layanan rute baru PT. KAI.

Tentu saja, di tengah menguatnya apatisme terhadap politik dan politisi, perilaku para pejabat baru itu menjadi pusat perhatian dan menarik simpati. Ini juga bisa menjadi magnet baru di tengah kerinduan rakyat akan sosok “pemimpin sederhana”. Tetapi kita tidak tahu apa perilaku dan kegiatan seperti itu akan tetap dilakukan ketika tidak lagi direkam oleh kamera.

Ini adalah era “politik tampilan”, sebuah era dimana video berdurasi beberapa menit saja bisa membentuk persepsi massa-rakyat terhadap sosok tertentu. Sejak SBY menjadi Presiden, tontonan seperti ini sudah sering diperlihatkan. Awalnya pun rakyat sempat terkesima, lalu menaruh harapan. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa SBY adalah seorang neoliberal tulen yang menyebabkan sebagian besar kekayaan alam kita dirampok asing, sebagian besar layanan publik diprivatisasi, sebagian besar subsidi sosial dipangkas, dan lain-lain. Rakyat pun kehilangan harapan!

Kita juga tahu sosok Abraham Samad. Di luar gambaran yang dibesar-besarkan media mainstream, rakyat miskin Makassar tentu belum lupa siapa sosok yang menjadi pengacara pembela RS Faisal Makassar ketika menggusur lahan milik rakyat. Abraham Samad memilih menjadi pembela RS Faisal ketimbang rakyat yang tergusur.

Kita juga tahu sosok Dahlan Iskan. Ketika menjadi direktur PLN, Dahlan sangat gencar memaksakan privatisasi terhadap perusahaan listrik negara itu. Juga, pada saat itu, pemilik Jawa Pos ini diketahui melakukan PHK sepihak terhadap sejumlah pekerja dan menghalang-halangi aktivitas serikat pekerja. Ironisnya, Serikat Pekerja yang diberangus oleh Dahlan Iskan adalah Serikat Pekerja yang menentang agenda privatisasi.

Kita memang butuh sosok pemimpin sederhana. Akan tetapi, kesederhanaan yang dimaksud bukan sekedar di depan kamera, melainkan kesederhanaan yang melekat sebagai gaya hidup seorang pemimpin.

“Kesederhanaan di depan kamera” adalah jualan kaum liberal selama ini. Biasanya, sosok sederhana ini diperankan oleh kaum professional dan teknokrat. Mereka terlihat sederhana dalam kehidupannya, tetapi sebetulnya sangat neoliberal dalam tindakannya. Apa gunanya pemimpin sederhana jika tega menyerahkan kehidupan rakyat banyak  ke mulut serakah korporasi.

Kita butuh pemimpin yang sederhana dan berpihak kepada rakyat banyak. Ia tidak hanya berpenampilan sederhana untuk menarik perhatian, tetapi berpenampilan sederhana sebagai bukti keberpihakan kepada rakyat banyak. Kesederhanaan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai gaya hidup seorang pemimpin.

Karena itu, dalam konteks sekarang, kita tidak hanya butuh pemimpin sederhana. Tetapi kita juga butuh seorang pemimpin yang anti-neoliberal dan memperjuangkan kepentingan nasional. Seorang pemimpin yang tidak saja rela hidup sederhana, tetapi juga rela kehilangan segalanya demi mencapai masyarakat adil dan makmur.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut