Demonstran Anti-neolib Bawa Cabe Ke Istana

Seratusan massa Gerakan Rakyat Indonesia (GRI) membawa “cabe merah” saat menggelar aksi massa menentang rejim neoliberal SBY-Budiono di depan Istana Negara, siang tadi (11/1).

Meskipun diguyur hujan yang cukup deras, seratusan massa ini tetap tidak goyah dari tempat aksinya dan terus melakukan orasi politik secara bergantian. Puluhan aparat kepolisian berdiri membentengi massa ini.

Gerakan ini diorganisir oleh sejumlah organisasi gerakan rakyat, diantaranya Petisi 28, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), FAM UI, FAM Usakti, PMII Ciputat, Senat UKI, GMNI Jakarta Raya, Front-Jak, dan Repdem.

Dengan pidato berapi-api setiap perwakilan organisasi membeberkan berbagai kegagalan rejim SBY-Budiono sekarang ini, terutama kegagalan mengontrol harga sembako (cabe dan beras), memberantas korupsi, dan menyelamatkan BUMN dari privatisasi.

Aksi ini sempat mengalami kericuhan kecil ketika dua orang demonstran berusaha membakar poster bergambar SBY, tetapi usaha itu langsung digagalkan oleh aparat kepolisian.

Kembali kepada Pancasila dan UUD 1945

Salah satu tokoh penggerak aksi ini, Haris Rusli Moti, yang juga aktivis Petisi 28, menjelaskan bahwa jalan keluar atas persoalan bangsa sekarang ini adalah kembali kepada Pancasila dan UUD 1945.

“Kita harus kembali kepada Pancasila (1 Juni 1945) dan UUD 1945 yang asli, jikalau mau membersihkan negeri ini dari neo-kolonialisme dan imperialisme,” ujarnya kepada Berdikari Online di sela-sela aksi tadi.

Dengan kembali kepada Pancasila dan UUD 1945, tambah Haris Rusli Moti, bangsa Indonesia bisa menghapus atau melikuidasi semua produk UU dan kebijakan yang berbau neoliberal.

Pendapat hampir serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Lamen Hendra Saputra, yang mengatakan: “SBY-Budiono telah menghianati dasar-dasar filosofis dan konstitusi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sebaliknya, SBY telah menjadi penganut setia liberalisme ekonomi dan politik yang dipasokkan oleh imperialisme.”

Lamen juga menandaskan bahwa ada banyak sekali produk kebijakan ekonomi-politik pemerintahan SBY-Budiono yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, seperti pembuatan UU pro-neoliberal, privatisasi BUMN, penghapusan subsidi, dan liberalisasi ekonomi di segala aspek perekonomian nasional.

SBY mengandalkan prestasi “kosong”

Haris Rusli Moti juga menyoroti gembar-gembor pemerintah mengenai pencapaian ekonomi pada tahun 2010 lalu, dengan menyatakan bahwa pencapaian ekonomi yang diklaim SBY-Budiono hanyalah kebohongan belaka.

Dia mencontohkan, SBY menyatakan bahwa angka kemiskinan telah menurun, sementara kenyataan di masyarakat menunjukkan bahwa kehidupan mereka kian bertambah sulit.

“Ini hanya permainan statistik saja, yakni dengan mengutak-atik indikator, agar supaya terlihat bahwa SBY-Budiono berhasil,” katanya.

Sementara itu, Lamen menganggap bahwa klaim SBY-Budiono hanya prestasi di atas kertas saja, tidak terjadi dalam kenyataan yang sebenarnya.

“SBY mengatakan bahwa ekonomi terus tumbuh, tetapi pengangguran dan jumlah pabrik yang tutup semakin bertambah banyak,” katanya.

Menurut rencana, Gerakan Rakyat Indonesia akan melancarkan aksi protes besar-besaran pada tanggal 21 Mei mendatang, yang bertepatan dengan momentum jatuhnya rejim Soeharto 13 tahun silam.

“Pada tanggal 21 mei itu, kami bersama dengan rakyat Indonesia akan menumbangkan rejim SBY-Budiono,” tegas Haris Rusli Moti.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut