Deklarasi Rumah Pengaduan Pembohongan Publik Di Solo

Berbohong dalam konteks keagamaan adalah sebuah perbuatan ‘dosa”, sebuah perilaku yang harus dijauhi oleh segenap umat beragama. Karena perbuatan itu bisa menghadirkan dampak negative dan merugikan orang lain. Dalam konteks Islam, Nabi Muhammad adalah orang yang mendapat gelar Al Amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Segala ucapan dan perbuatannya dapat diadikan suri tauladan dan pedoman bagi umatnya. Bagaimana jika seorang pemimpin melakukan pembohongan dan bagaimana sikap umatnya harus merespon perbuatan tercela tersebut?

Bertempat di Geduang Ikatan Persaudaraan Haji Surakarta, Jumat 11 Februari pukul 13.30 – 15.00, sekitar 300 aktifis dari berbagai generasi, baik tua maupun muda, serta berbagai latar belakang keagamaan dan keyakinan, dari mahasiswa dan korban ’65, berkumpul untuk menghadiri Deklarasi Rumah Pengaduan Pembohongan Publik Surakarta.

Acara dibuka dengan Performance Art yang dilakukan oleh dua tokoh seniman dan budayawan Solo, St. Wiyono dan Gigok Anuraga. Dengan lontaran-lontaran yang sangat kontekstual terhadap situasi terkini bangsa ini, dialog tersebut bisa menghadirkan ketawa para hadirin yang sudah memenuhi kursi pengunjung. Membuat suasana sedikit cair, meskipun mereka sering menggunakan dialog dalam Bahasa Jawa.

Dua acara pokok berupa Pembacaan Deklarasi Rumah Pengaduan Kebohongan Publik Kota Solo oleh Aidul Fitri (Dosen Pasca Sarjana Universitas Muhamaddiyah Surakarta) sebagai koordinator dan didampingi oleh sembilan anggota Badan Pekerja yang berjumlah sepuluh orang. Dalam statemen yang dibagikan kepada wartawan menyebutkan bahwa “Sembilan (9) Dosa Kebohongan Lama dan Sembilan (9) Dosa Kebohongan Baru” yang direlease oleh tokoh lintas Agama di Jakarta beberapa waktu lalu membuktikan bahwa Pemerintahan SBY sebetulnya sudah tidak layak lagi dipercaya untuk melanjutkan kepemimpinannya. Apa yang terjadi pada warga Ahmadiyah di Jawa Barat serta kerusuhan yang terjadi di Temanggung beberapa waktu lalu, menunjukan bahwa Negara telah absen ketika dibutuhkan oleh warganya. Tugas dan kewajiban primitive untuk memberikan perlindungan dan jaminan keamanan bagi warganya pun tidak mampu disediakan oleh Negara. Dengan kata lain, Negara telah gagal.

Acara pokok selanjutnya sekaligus sebagai acara puncak adalah Orasi Kebangsaan yang dilakukan oleh Prof. Dr. Syafi’I Ma’arif atau akrab disapa Buya. Adanya komitmen terhadap nasib bangsa dan adanya komitmen untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil dan bermartabat, memaksa di usianya yang sudah hampir 70 th untuk terus menyuarakan kebenaran. Seusia beliau yang seharusnya sudah menikmati kebahagiaan dengan keluarga, dipaksa untuk terus melakukan da’wah kebenaran diseluruh negeri. Sudah selayaknya pemerintahan SBY untuk menghentikan segala kebohongan yang selama ini telah dilakukan dan digantikan dengan kinerja nyata dan upaya riel untuk menjalankan program-program yang memihak pada si miskin yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • salam taulina salam indonesia adi daya!!!pokoknya hantam kromo aja maju terus untuk kejayaan indonesia!!