Darurat Iklim Itu Nyata

Darurat iklim itu benar-benar nyata dan sudah di depan mata. Laporan terbaru Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan, Februari 2016 adalah bulan terpanas dalam abad ini.

Berdasarkan catatan NASA, suhu permukaan bumi pada Februari 2016, baik di tanah maupun laut, adalah 1,35 derajat Celcius dibandingkan suhu rata-rata pada bulan itu sejak 1951 hingga 1980.

Rekor sebelumnya adalah Januari 2016, yaitu 1,14 derajat Celcius dari rata-rata. Sedangkan suhu pada Desember 2015 adalah 1,10 derajat Celcius dari rata-rata.

Suhu lebih panas 1 derajat Celcius dari rata-rata mulai terjadi pada Oktober 2015. Sejak itu, suhu permukaan bumi selalu di atas 1 derajat Celcius dari rata-rata.

Sumber: NASA/GISS
Sumber: NASA/GISS

Meteorolog Dr Jeff Masters dan rekannya Bob Henson dalam artikelnya blog Weather Underground mengatakan, data suhu bulan Februari benar-benar mengejutkan dan menjadi penanda lain dari kenaikan jangka panjang suhu global akibat gas rumah kaca yang dihasilkan oleh manusia.

Lebih lanjut, kata Dr Jeff dan Bob Henson, dunia sekarang ini sedang meluncur ke suhu 2 derajat Celcius di atas level pra-industri yang disepakati secara global.

Keduanya juga memperkirakan tahun 2016 akan lebih panas dari tahun 2015. Padahal, sebelumnya tahun 2015 dinobatkan sebagai tahun terpanas di bumi.

Sementara Profesor Stefan Rahmstorf dari Institute Penelitian Dampak Iklim Postdam mengatakan, suhu bulan Februari 2016 merupakan suhu terpanas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kita sudah seperti dalam keadaan darurat iklim sekarang ini,” kata Professor Stefan, seperti dikutip Sydney Morning Herald, Senin (14/4/2016).

Lebih lanjut, Prof Stefan bilang, “pemerintah sudah berjanji untuk bertindak (mengurangi emisi gas rumah kaca) dan mereka perlu melakukan yang lebih baik dari yang mereka janjikan di Paris.”

Di Indonesia, tahun 2014 dinyatakan sebagai tahun terpanas. Suhu udara rata-rata tahun 2014 lebih tinggi 0,68 derajat celsius dibanding suhu rata-rata normal. Wilayah  yang banyak mengalami anomali tinggi, yakni di atas 0,67 derajat celsius, adalah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut