Dahlan Iskan Dan Soal Utang

utang luar negeri

Apakah anda senang dengan utang yang terus meningkat? Hingga April 2012, utang pemerintah sudah mencapai Rp1.903 triliun. Data Bank Indonesia tahun 2012 menyebutkan, pada tahun 2006 total utang luar negeri Indonesia sebesar 132,63 miliar dollar AS, namun pada 2011 utang itu sudah membengkak menjadi 221,60 miliar dollar AS.

Ada yang cukup menggelitik soal utang yang terus meningkat. Itu ada di tulisan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang berjudul “Tekad Baru: Hidup Yang Polos-Polos Saja”. Sebetulnya, pesan yang hendak disampaikan Dahlan lewat tulisan itu sangat bagus: bagaimana tekad yang sederhana bisa mendorong harapan. Hanya saja, ketika berbicara soal utang, Dahlan Iskan membuat “penyesatan” luar biasa.

Dahlan Iskan bercerita tentang pertemuannya dengan warga desa Bunigeulis, yang berada di lereng Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Warga desa itu sedang diliputi kegelisahan terkait masalah bangsa. Salah satunya adalah soal utang negara yang terus meningkat.

Kepada warga desa itu Dahlan Iskan mengajukan pertanyaan begini: baik mana Anda punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta, dengan punya utang Rp20 juta tapi kekayaan Anda Rp100 juta? Bagi Dahlan Iskan, tak soal utang Anda meningkat berapapun besarnya, asalkan kekayaan anda juga meningkat drastis.

Penjelasan Dahlan Iskan betul. Akan tetapi, jika penjelasan itu adalah analogi terhadap kondisi utang negara kita saat ini, maka jelas terjadi manipulasi besar-besaran di situ. Sebab, penjelasan soal utang negara tak sesederhana kisah dua orang yang saling pinjam-meminjam.

Pertama,  utang negara yang terus meningkat tidak disertai dengan perbaikan kondisi dan kualitas hidup rakyat. Artinya, penggunaan utang itu belum tentu untuk menggerakkan perekonomian yang menyejahterakan rakyat.

Sebagian besar utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sangat sedikit yang dipakai untuk menggerakkan sektor real, yang notabene menyangkut rakyat banyak. Dari data yang ada disebutkan, sebanyak 39,6 persen utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sedangkan 9,3 persen dipakai untuk perbaikan infrastruktur listrik, gas, dan air. Kemudian sekitar 4,7 persen dipergunakan untuk pengangkutan dan komunikasi. Sementara pertanian, yang menjadi tempat bergantungnya puluhan juta rakyat, hanya menerima alokasi 3,0%.

Ini yang membuat akumulasi utang luar negeri Indonesia tidak berkontribusi pada perbaikan infrastruktur, perbaikan layanan dasar, dan penciptaan lapangan kerja secara massif.

Kedua, sejarah utang—terutama yang berhubungan dengan negara-negara dan lembaga imperialis—adalah “jebakan” alias perangkap (debt trap). Utang luar negeri, seperti ditulis oleh Susan George dalam buku “Debt Boomerang: How Third World Debt Harms Us All”, merupakan suatu mekanisme yang dibuat oleh negara maju (pendonor) untuk memaksa negara penerima (peminjam) mengikuti aturan-aturan atau langkah-langkah yang mereka paksakan.

Negara yang ‘terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus menggenjot ekspornya—terutama ekspor bahan mentah—dan melakukan penghematan pada pengeluaran pemerintah dan belanja kesejahteraan sosial. Ini yang terjadi di sejumlah negara Amerika latin satu dekade lalu dan sekarang terjadi di Indonesia.

Mungkin kita akan bangga dengan ekspor yang meningkat. Akan tetapi, seperti ditulis oleh Eric Toussaint, Presiden Komisi Penghapusan Utang Negara Dunia Ketiga, ekspor ini tidak lebih dari penjarahan kekayaan alam. Menurut Toussaint, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi transfer kekayaan berkali-kali lipat dari pinggiran (dunia ketiga) ke pusat (negeri-negeri imperialis). Yang terjadi, negara dunia ketiga akan mengalami kekurangan bahan mentah dan bencana ekologis.

Di samping itu, untuk membayar utang, negara penerima pinjaman harus melakukan penghematan besar-besaran: pemangkasan subsidi, privatisasi layanan publik, dan lain-lain. Bahkan, tidak sedikit disertai dengan privatisasi BUMN. Akibatnya, rakyat dipaksa membayar mahal akses kebutuhan dasarnya (pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, makanan, dan lain-lain).

Inilah yang menjelaskan mengapa peningkatan utang luar negeri justru berbarengan dengan tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup manusia Indonesia. Itulah sebabnya mengapa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, pada tahun 2011 lalu, terperosok di peringkat 124 dari 187 negara.

Jadi, alih-alih kekayaan nasional Indonesia meningkat, utang luar negeri justru menjebak Indonesia dalam “lingkaran krisis”. APBN tidak pernah sehat karena sebagian dipakai membayar cicilan utang. Sedangkan anggaran untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat terus dipangkas.  Lantas, apa buktinya bangsa kita menjadi kaya karena utang? Silahkan tanyakan ke Dahlan Iskan.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Anti Freemason

    Gak Heran, Dahlan Iskan tercatat sebagai anggota dari Lions
    Club Indonesia. Ia tercatat sebagai anggota organisasi yang berafiliasi
    ke Yahudi itu dengan nomor 83335. Ia menjadi anggota dari District 307B
    Indonesia-Surabaya Surya. Ia sempat menjadi ‘President’ District
    tersebut. Kini ia menjabat sebagai salah satu direktor… penganut faham aliran freemason .. http://www.parapendusta.blogspot.com

  • Rifky Assegaf

    Analisa amburadul! Orang sekarang kita yang meminjami IMF yang sering dihujat oleh Media Sorban sebagai kaki tangan para kapitalis kok.

    Islam-islam bersorban perlu sadar bahwa sekarang ekonomi dunia sedang berubah arah. Amerika dan Eropa lagi kelimpungan. Akibat tak langsungnya mereka mengurangi dukungan ke negara-negara Arab, bahkan sebisa mungkin dapat sumber daya (minyak) gratis. Karena itulah virus demokrasi ditularin ke negara-negara sorban.

    Siapa yang sekarang pegang kendali ekonomi dunia? Itulah Cina dan sekutu-sekutunya. Dengan hubungan dagang yang akrab dengan Cina, kita ketularan tambah makmur. Coba kalau masih ikut-ikutan para pejuang ekonomi sorban, bisa-bisa kita ikut-ikutan ketularan virus kerusuhan politik timur tengah.

    Masih sibuk membodohi masyarakat kalau kita ini negara rendah diri yang ga mungkin maju? Sadar dong sekarang ini kita sudah punya pendapatan per kapita US$ 3.500. Tahun 2005 pendapatan per kapita kita baru US$ 1.250. Berarti kita sudah tiga kali lebih makmur. Kalau hutang nambah dari 132,63 miliar dollar AS jadi 221,60 miliar dollar AS, pertambahan hutang ga nyampe dua kali lipat.

    Kenapa keuangan perlu utang banyak? Karena dia akan bertindak meminjami para pengusaha untuk bisa menjalankan usaha industri dan perdagangan. Kedua bidang itu padat modal alias memang menjalankan sistem kapitalis. Semakin banyak modalnya, semakin lancar usahanya. Karena itulah pengusahanya membutuhkan pinjaman dalam jumlah besar.

    Kenapa pertanian cuma diutangi sedikit? Karena yang menjalankan kumpulan wong cilik yang ga butuh-butuh amat dukungan Bank. Biaya produksinya murah, harga tanah ga membumbung tinggi. Kalau pertanian sampai dibiayai utang yang banyak, itu artinya kapitalis mulai merambah agraria. Ntar kalau kejadiannya begitu malah sibuk nuduh pemerintah disetir zionis dan freemason lagi deh.

  • Rifky Assegaf

    Dan catet ya.. di bawah zaman Dahlan Iskan lah BUMN diobrak-abrik sampe semuanya bisa menghasilkan keuntungan, bukannya malah menyusu APBN yang jelas-jelas dibiayai pakai pajak Rakyat, apalagi jadi sapi perahan partai-partai yang berlindung di balik sorban.

    Orang udah berjuang untuk ekonomi Indonesia malah difitnah sebagai antek Yahudi. Ke mana nurani kalian sebagai pembuat berita? Naudzubillahi minzalik.

  • Budi Santoso

    Yang bisa loe buat apa, selain hasut…. Malah pecah belah doang, emangnya agama lain loe bilang pada ga bener gitu???

  • ray

    memang tdk ada tempat bagi yang bersih di bangsa ini selalu disingkirkan
    dg berbagai macam isu yg di buat oleh manusia,turut berduka

  • KK

    Baca kumpulan kultwit ini untuk jelaskan tentang pentingnya hutang negara, sebesar apa, terkait juga dgn inflasi dan peran bank sentral: http://chirpstory.com/li/19525

  • ThaifahManshurah

    mau dahlan iskan kek, sby kek, boediono kek
    sama-sama bajingan

  • yosa rosario

    ga tau lah kudu bilang apa,, bukan maksud membela manson,, tp negri ini butuh bangkit dahulu,, setelah bangkit,, baru bisa berkata untuk merdeka,, kita butuh pijakan buat nge bangkitkan negara ini,,baru bisa koar2,, jangan saling berselisih dan menjatuhkan antar warga indonesia..

  • gan… coba anda bandingkan perndapatan per kapitanya dalam bentuk emas, jangan dollar yg notebene uang bikinan amerika mungkin lebih fair.

  • manakah negara yang paling makmur yang tidak pernah ada inflasi……?

  • Sutanto Harjo

    halah gw kira lw pinter, ternyata lw gampang banget terkena politik pencitraan. bego lw…

  • Sutanto Harjo

    lw lihat dong kondisi negara lw kayak sekarang spt apa? utang luar negeri banyak, tp harga barang dna jasa jg pada naik kan? lw pikir gelontorin duit ke sistem keuangan akan membuat negara lw cepat keluar dr krisis? knp justru UE dan AS sendiri malah kolaps ekonominya gara2 gelontorin uangnya ke institusi2 keuangan dunia di sana? kalau bego jangan komen dong ah. malu2in aja lw…

  • Sutanto Harjo

    kemakmuran dilihat dari USD? hahahahaha sungguh dungu. lw tahu nggak harga tiket titanic tahun 1912 di AS sana cuma 45000 USD? tapi nilainya saat itu dalam USD sekarang = 1,000,000? mata uang kertas itu nggak berharga bego, yg berharga itu emas dan perak. makanya inflasi sering terjadi di planet ini, karena alat pembayarannya = uang kertas yg nggak ada nilai bagusnya sama sekali. lama2 jadi lemah harganya. namanya jg uang cetak, semakin banyak beredar, semakin murah harganya. bener2 bego lw…..

  • Fachri Jahri

    Dengan hormat, saya rasa masih valid bila kita membandingkan pendapatan per kapita 2005 dan 2012, karena goncangan ekonomi USD tidak separah 1998. Namun sayang sekali, pendapatan per kapita tidak bisa digunakan sebagai patokan kesejahteraan.
    “Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut.”-Wikipedia.
    Pendapatan per kapita yang tinggi memang baik, namun di sisi lain kita dihadapkan masalah yaitu “DISTRIBUSI KESEJAHTERAAN”, dan “DISTRIBUSI PELUANG UNTUK BISA SEJAHTERA”.
    Selama naiknya utang tidak memperbaiki dua hal tersebut, pasti banyak yang protes, oh, nggak juga yah? Sekalipun dua hal tersebut bisa diperbaiki, mungkin masih ada yang protes, yah? lawan politik si penguasa? hehehehe.

  • bego

    Lo yang ke blinger @Sutanto Bego,,,,,,,,,,,,, Jumlah penduduk Indonesia yg tidak punya usaha jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah pengusaha, bisa 2 (Dua) juta kali lipat jumlah pengusaha. sedangkan Utang Negara sangat besar bekas utangnya para pengusaha. sekarang siapa sebenarnya para pengusaha Indonesia (hampir 75% hanya ikut KTP (kartu tanda penduduk) Indonesia……. berarti yg tukang itung Utang itu adalah boneka Macan berbulu domba alias yg hanya ikut KTP (pengusaha)

  • Miftah Farid

    Analisa anda cuma berdasarkan angka2 doank mirip literartur ekonomi….PDB meningkat bukan berarti rakyat Indonesia sejahtera bung…

  • roni saputra

    apa yg bagus??? smakin banyk aja bumn yg diprivatisasi demi kepentingan kapitalis.

    lol

  • roni saputra

    betul

  • Ahyan Arif

    tullll

  • thecutecat

    Anda kalau merasa seorang Muslim harus malu kalau “gede omong tapi kerjanya NOL”.

    Sok-sok menjelek-jelekkan semua pejabat.. padahal gak bisa apa-apa..
    Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

    Kalau anda belum memiliki manfaat sebanyak apa yang Pak DIS berikan, gak pantes anda berkomentar buruk tetang beliau.. NGACA!!!

  • Marsaly

    emang nyatanya para pemimpin kita ada dibawah kendali freemason ko,, entah mereka sadar atau ngga

  • Marsaly

    yang jelas kita cuma penonton.. cukup diliat aja tanpa bisa apa-apa