Daeng Ruru, Jalan Panjang Sang Pemberani

Lahir di tanah jawa dalam suasana perang. Menjadi pelarian bersama kedua orang tuanya ke Kerajaan Siam, dan menyaksikan ayahnya bertempur dengan gagah berani sampai terbunuh. Darah kesatria yang mengalir dalam tubuhnya, membuat tentara Perancis tertarik membawa karaeng (Kr) negaranya. Setelah dijadikan anak angkat Raja Perancis,  Louis XIV, kemudian bergabung dalam angkatan perang Perancis, dia dipercaya memimpin salah satu armada laut untuk berperang melawan Inggris di perairan Havana Cuba, hingga akhirnya mati pada tahun 1678, di usia yang masih 36 tahun. Dia adalah Letnan Louis Pierre Daeng Ruru de Macassar, putra dari Daeng Mangalle. Jasadnya terkubur di negara tempat majalah satire Charlie Hebdo diterbitkan.

Kekalahan Kerajaan Gowa

Setelah melalui perang yang panjang, Belanda bersama sekutunya berhasil menerobos Benteng Somba Opu. Ribuan kilo amunisi telah dihabiskan. Hasilnya, dinding benteng setebal 12 kaki di ratakan dengan tanah. Langit di atas benteng memerah, tanahnya bergetar seperti sedang dilanda gempa. Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, bukan hanya mayat para prajurit, tapi juga rakyat sipil. Kekuatan yang tidak lagi berimbang dan penduduk yang makin menderita, membuat situasi semakin sulit. Sultan Hasanuddin  berat untuk melanjutkan perang, apalagi Kerajaan Gowa bukan cuma berhadapan dengan Belanda, tapi juga dengan saudara sendiri dari kerajaan Bugis, Buton dan Maluku.

Kerajaan Gowa mengibarkan bendera putih. Akibatnya, dengan terpaksa dilakukan perundingan damai. Perundingan yang kemudian menghasilkan perjanjian yang merugikan Kerajaan Gowa. Perjanjin ini di kenal dengan nama Cappayya ri Bungayya,  yang  di tanda tangani pada tanggal 18 november 1967.

Sejak perjanjian Bungayya di tanda tangani, beberapa petinggi Kerajaan Gowa tak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Diantaranya, ada Karaeng Galesong, Karaeng Karunrung, I Fatimah Daeng Takontu, Daeng Mangalle dan beberapa Raja dari kerajaan yang menjadi sekutu Gowa. Mereka tidak mau menyerah, apalagi tunduk di bawah kekuasaan penjajah, mereka berniat untuk terus melanjutkan perang terhadap Belanda. Karena ruang gerak yang semakin terbatas, dan untuk menghormati kesepakatan yang telah dibuat Kerajaan Gowa, mereka memilih untuk melanjutkan perang di Tanah Jawa, bersama Raja Banten, Sultan Agung Tirtajasa, dan Raja Mataram, Raden Trunojoyo.

Melanjutkan Perang di Tanah Jawa

Dengan sisa pasukan dan armada yang masih ada, mulai disiapkan untuk melanjutkan perang di Tanah Jawa.  Mereka membagi diri dalam beberapa regu dan berangkat secara bergelombang. Gelombang pertama tiba di pelabuhan Banten pada tanggal, 19 agustus 1671, di bawah pimpinan Karaeng Bontomarannu dengan kekuatan 4 armada kapal  dan  800 orang prajurit. Disusul dengan  rombongan kedua, di bawah pimpinan Opu Cenning La Setiaraja Daeng Massuro, yang tiba di pelabuhan Banten pada tanggal, 16 september 1671 dengan kekuatan 2 armada kapal dan 350 orang prajurit. Di dalam rombongan selanjutnya, di pimpin oleh I Manindori Karaeng Galesong,  tiba pada bulan oktober 1671, ikut didalam rombongan ini, I Fatimah Daeng Takontu dan Daeng Mangalle. Total seluruh kekuatan dari Makassar yang  tiba di Banten adalah 70 buah kapal perang dan 20.000 prajurit.

Setelah semua pasukan asal Makassar berkumpul di Banten, diadakanlah pertemuan untuk menyusun strategi penyerangan. Syekh Yusuf, yang  hadir dalam pertemuan itu, mengusulkan agar karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong bersama sebagian pasukannya bergerak ke Jawa Timur untuk bergabung dengan pasukan Trunojoyo dan Adipati Anom yang sedang berontak melawan pemimpin Mataram,  Amangkurat I. Pemberontakan ini terjadi karena Amangkurat I dianggap terlalu keras dan  telah bekerjasama dengan VOC. Sementara  adik Karaeng Galesong, I Fatimah Daeng Takontu bersama Syekh Yusuf dan Daeng Mangalle yang saat itu telah memperistri  putri Sultan Banten, Angke Syafiah, akan tetap bertahan di Banten.

Divide et impera dan terpencarnya pasukan Makassar

Seperti yang di alami Kerajaan Gowa, Belanda juga sukses menjalankan politik pecah belah untuk menghadapi perlawanan di Jawa. Bukan hanya berhasil mengisolir perlawanan yang tidak menyatu, tapi juga sukses memecah belah  keluarga kerajaan atau antar kerajaan yang satu dengan lainnya.  Ini tentu saja sangat merugikan,  karena harus berhadapan dengan dua kekuatan sekaligus.

Di Banten pada tahun 1672, terjadi kemelut antara Sultan Ageng Tirtajasa dengan putranya sendiri, Abd. Nas’r Abd. Kahar Sultan Haji, yang mendapat dukungan dari Belanda. Sementara di Mataram, dari tahun 1676 sampai 1679, terjadi pertempuran antara pasukan Amangkurat  yang mendapat bantuan Belanda, berhadapan dengan Trunojoyo bersama bantuan pasukan dari Makassar. Kemenangan demi kemenangan diraih pasukan Trunojoyo bersama pasukan dari Makassar. Mereka berhasil merebut kraton plered, ibukota Mataram, dan kemudian memindahkan ibukota kerajaan  ke Kediri.

Setelah Sultan Amangkurat I wafat,  dan di gantikan Sultan Amangkurat II. Mereka kembali mempersiapkan kekuatan. Dengan bantuan pasukan Belanda, mereka berhasil merebut  wilayah yang di kuasai Trunojoyo dan  mendudukkan kembali Sultan Amangkurat II sebagai Raja Mataram. Peperangan kemudian berakhir tahun 1679, setelah wafatnya Karaeng Galesong dan tertangkapnya Raden Trunojoyo oleh Belanda di Malang.

Hal yang sama terjadi di Banten.  Pada tahun 1682 Sultan Ageng Tirtajasa berhasil di tangkap Belanda. Syekh Yusuf bersama sisa pasukan yang ada, harus lari ke hutan sampai akhirnya tertangkap dan di buang ke Ceylon, Srilangka, dan  selanjutnya ke Cape Town Afika Selatan.  Adik karaeng Galesong, I Fatimah Daeng Takontu, melarikan diri ke Kerajaan  Mempawa Kalimantan Barat, disana dia mendirikan perguruan silat sampai akhirnya wafat dan di makamkan di Pulau Tumaju, Mempawa Kalbar. Sementara Daeng Mangalle bersama istri dan anaknya, Daeng Ruru, serta sisa pasukan yang masih hidup, melarikan diri ke Kerajaan Siam Thailand.

Pemberontakan di Kerajaan Siam

Daeng Mangalle  meninggalkan Banten pada tahun 1674, menuju Kota Ayuthia di kerajaan Siam, Thailand. Disana beliau diterima baik oleh Raja Siam. Awalnya memiliki hubungan baik dengan Kerajaan Syiam, tetapi sebuah konflik kecil terjadi pada tahun 1686 yang mengakibatkan terjadi permusuhan antara mereka. Ini bermula saat Orang Melayu dan Campa merencanakan pemberontakan terhadap Raja Syiam. Rencana pemberontakan itu juga di ketahui oleh Daeng Mangalle. Rencana tersebut kemudian bocor ketelinga Raja Syiam. Meskipun tidak ada bukti keterlibatan, tetapi  Raja Syiam ikut memanggil orang-orang Makassar untuk meminta maaf. Maklumat dari Raja Syiam tersebut di patuhi oleh orang-orang Campa dan orang Melayu, tetapi tidak demikian dengan orang Makassar

Tentang penolakan meminta maaf ini, Pelras menulis : “Hanya pangeran Makassar yang menolak meminta maaf. Alasannya, dia tidak pernah mau memberontak. Hanya saja kesalahannya adalah bahwa dia tidak melaporkan rencana pemberontakan orang Melayu dan Campa kepada Raja Syiam. Alasan sang pangeran karena dia juga tidak mau mengkhianati ke dua sahabatnya dengan membuka rahasia yang telah di percayakan kepadanya.”

Pemberontakan dimulai ketika  sebuah kapal dagang dari Makassar tiba di Ayuthia membawa bingkisan raja Gowa untuk Pangeran Makassar. Kedatangan mereka ini kemudian di gunakan oleh pihak Raja Ayuthia untuk menahan semua awak kapal karena di khawatirkan akan bergabung dengan kelompok pangeran Makassar yang tidak mau memohon ampun.

Beberapa hari kemudian, pertempuran sengit terjadi antara orang Makassar yang berjumlah 120 orang  melawan armada gabungan, Pasukan Kerajaan Syiam dibantu Perancis dan Inggris yang berjumlah 4000 orang yang dilengkapi dengan Senjata Api dan Meriam. Hanya dalam tempo 3 minggu, pemberontakan ini berhasil di padamkan. Semua laskar Makassar tewas, termasuk Daeng Mangelle.

Anak-anak dan perempuan orang Makassar yang masih hidup di jadikan budak, tapi tidak dengan ke dua anak Daeng Mangalle, yaitu Daeng Ruru yang masih berumur 14 tahun dan Daeng Tulolo yang berumur 12 tahun. Mereka berdua dibawa ke Perancis dan diberi Kesempatan untuk belajar bahasa dan pendidikan di Perancis. Mereka tumbuh dewasa disana dan dijadikan anak angkat Oleh Raja Louis XIV. Raja Louis XIV sangat senang pada mereka, karena memiliki sikap pemberani. Daeng Ruru diberi nama Louis Pierre Daeng Ruru’ De Macassar dan tercatat sebagai pahlawan di perancis karena gugur saat memimpin perang Melawan Inggris di Perairan Havana, Kuba.

Anshar Manrulu, SE, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulawesi Selatan dan peminat sejarah.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Daeng Asbar

    keren tulisannya bung… ijin share tulisan ini ya bung…