Corat-Coret Melawan Lupa

Sanggar Bumi Tarung seperti tak kehabisan energi dalam berkreatifitas dan menyumbangkan gagasan  untuk kemajuan negeri. Kali ini, Adrianus Gumelar Demokrasno, salah satu anggota Sanggar Bumi Tarung,  menggelar Pameran Tunggal bertajuk Corat-Coret Hitam Putih yang berlangsung dari tanggal 3 April sampai 9 April 2012, di  Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan dibuka oleh Romo Mudji Sutrisno, SJ.

Melalui Pameran Tunggal Gumelar inilah, Amarzan Ismail Hamid Lubis, yang juga dikenal sebagai wartawan senior Tempo, semakin yakin bila Sanggar Bumi Tarung tak seperti sanggar-sanggar lainnya atau seperti yang disangka orang bahwa sanggar hanya akan melahirkan pengikut. “Bumi Tarung tidak. Tapi justru melahirkan produk-produk yang berbeda,” katanya pada diskusi yang diselenggarakan sekaligus untuk menutup Pameran Corat-Coret Hitam  Putih Gumelar pada hari Senin, (9/4/12). Menurut Amarzan, Misbach Tamrin yang ideologis dan paham teori, karya-karyanya nyaris sempurna;  Joko Pekik, dengan lukisan yang bergaya pura-pura bodoh padahal Pekik ini sebenarnya pintar; Gultom yang bergaya potret; Isa Hasanda yang nglangut sementara Amrus Natalsya sebagai kepala suku yang bisa menjaga situasi. Mereka semua berbicara tentang pikiran-pikiran.

Pada diskusi itu, Amarzan Lubis mengaku cukup kaget dengan pameran sketsa Hitam Putih Gumelar. Sebab, sketsa bukanlah andalah Bumi Tarung tapi para Pelukis Rakyat. Akan tetapi, menurut Amarzan, yang juga pernah menjadi penghuni Pulau Buru ini, Jim Supangkat yang menganggap Amrus Natalsya sebagai Bapak Patung Kayu Modern Indonesia ini justru lebih suka pada corat-coret hitam putih Gumelar ini yang kuat secara komposisi, pilihan tema dan garis-garisnya.  Menurut Amarzan, Gumelar dengan pameran kali ini dan dengan ingatan fotografisnya yang tajam sedang melawan lupa sebagaimana disampaikan Milan Kundera.

“Makin otoriter  kekuasaan  makin cenderung melupakan sesuatu,” tambahnya sambil memberikan contoh bagaimana bangunan-bangunan di Pulau Buru yang bisa menjadi saksi kekejaman sebuah Rejim sudah hampir dihancurkan semua. “

Amarzan pun bersaksi bahwa apa yang dicorat-coretkan Gumelar mengenai bagaimana para tahanan Pulau Buru diperlakukan adalah benar adanya. “Sketsa-sketsa Pulau Burunya yang ada di sini otentik. Tak ada yang dipalsukan. Saya saksi hidup,“ katanya. Karena itu menurutnya, Pameran Corat-Coret Hitam Putih Gumelar ini penting pun dari sudah sejarah  dan merupakan bagian dari perjuangan melawan lupa.

Amarzan Lubis pun mengingatkan bahwa Gumelar sebelum pameran ini berlangsung  juga sudah menerbitkan  sebuah buku yaitu Dari Kalong Sampai ke Pulau Buru (11 tahun dalam sekapan, penjara, pembuangan dan kerja rodi).  Ini merupakan buku gambar dengan sedikit narasi yang mengisahkan bagaimana para tahanan politik yang (dianggap) berideologi komunis  diperlakukan atas tuduhan terlibat G 30 S/ PKI tahun 1965.

Romo Mudji Sutrisno, yang menjadi pembicara berikutnya, membenarkan apa yang disampaikan Amarzan Lubis soal perjuangan melawan lupa ini. Menurut Romo Mudji, Sastrawan pemenang Nobel Sastra dari Ceko, Milan Kundera, mengingatkan dengan tandas bahwa kehancuran sebuah bangsa terjadi bila sejarah ingatan kolektifnya dihapus dalam tindakan “sengaja melupakan atau dibuat lupa dan tidak mengenal kembali sejarahnya”.

Romo Mudji mengakui justru dengan Amarzan Lubis menjadi pembicara pertama dia bisa belajar banyak bagaimana kemanusiaan disingkirkan. Garis dan Gores sketsa Pulau Buru Gumelar dibenarkan oleh Amarzan yang juga pernah mendekam di Pulau Buru. Menurut Romo Mudji, Romo-Romo Jesuit yang dikirim ke Pulau Buru dari awal sampai akhir pun menjadi saksi bagaimana kemanusiaan disingkirkan.

Menurut Romo Mudji, Corat-Coret Hitam Putih Gumelar  menunjukkan bahwa hidup memang hitam putih, baik dan jahat namun realitasnya ada abu-abu karena dipercaya adanya cahaya sebagaimana yang juga disampaikan dalam catatan pengantar untuk pameran ini: “Namun dalam perjalanan sketsa Adrianus Gumelar adalah perjalanan matang olah batinnya yang tergores dalam tarikan garis-garis hatinya yang mengolah pengalaman-pengalaman getir dan pedih itu dari periode penuh kabut dan kelam menuju periode sketsa-sketsa akhir-akhir ini 2011-an. Mengolah pengalaman dalam renung batin dan dalam religiositas yang hening itulah sketsa-sketsa Adrianus Gumelar 2011-an seakan ingin mengatakan “bahwa dalam Bayang-Bayang” suram tetap dipercayailah adanya CAHAYA yang membuat bayang-bayang itu.   Dan cahaya itu adalah CAHAYANYA sang KEHIDUPAN yang meskipun tidak “nampak” (karena berada di balik “bayang-bayang”), Dia tetap menjadi HARAPAN HIDUP untuk bersyukur, mengenang kembali kegembiraan anak-anak yang bermain.”

Gumelar, seniman kelahiran Subang Jawa Barat pada tanggal 29 Desember 1943 dari ayah bernama Abdul Djaffar dan Ibu bernama Fatimah ini pun memang bersyukur atas hidup yang sudah dijalaninya. Namun, ia masih gelisah dengan situasi sekarang yang dianggapnya tak berbudaya dan beradab. Penggusuran dan kekerasan terhadap rakyat masih terjadi. Kemiskinan masih meraja. Permainan tradisional  di masa kanak-kanaknya mulai hilang. Semua itu ia tampilkan dalam Pameran Tunggalnya ini: sketsa Corat-Coret Hitam-Putih dengan media Tinta di atas kertas beserta harapan-harapannya: Angon Bebek (2011), Main Jelangkung (2011), Petan (2011), Nelayan Bugis (2011), Keluarga Kecil (2011), Tukang Gali (2011), Dakon, Penggusuran (2011), Anak NelayanRukun Agawe Sentosa (2011), Gusur (2011), Permainan Ular Naga (2011), Nelayan Cilik (2011), Kuda Lumping (Jatilan) (2011), Panem Brama (2011)  dan  Pasar Lohjinawi, Jual Mainan, Tari Bondan dari tahun 2012.

Menurut Romo Mudji, permainan tradisional anak-anak yang hilang itu karena kita tidak merawat kebudayaan sebagaimana kita juga kehilangan value Sosialisme Indonesia seperti kehidupan yang pro rakyat, pro petani, pro buruh dan pro nelayan.

Pameran tunggal Corat-Coret Hitam Putih Adrianus Gumelar Demokrasno memang sudah ditutup tapi hitam-putihnya kehidupan terus berlanjut. Teringat pada penyair kerakyatan yang dihilangkan oleh rejim Orde Baru juga karena syair dan suaranya yang tak mau dibungkam, Wiji Thukul: “Kaliyan duduk di mana?

Jakarta, 11 04 2012

AJ SUSMANA, pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) dan seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut